Khutbah Idul Adha 2025: Cinta, Kasih Sayang, dan Persatuan

AKURAT.CO Berikut naskah idul adha 2025 terkait dengan cinta, kasih sayang, dan dan persatuan.
Khutbah Pertama
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar, Allahu Akbar wa lillaahil hamd.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari ini kita berkumpul dalam suasana yang sakral dan penuh berkah. Idul Adha bukan sekadar hari raya, tetapi momentum besar untuk mengevaluasi kembali makna cinta, kasih sayang, dan persatuan dalam hidup kita sebagai umat yang satu, sebagai khalifah di muka bumi, dan sebagai hamba yang tunduk kepada perintah Allah SWT.
Dalam lintasan sejarah kenabian, kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi pusat perenungan kita. Cinta seorang ayah kepada anaknya, diuji oleh cinta dan ketaatan kepada Allah SWT. Sebuah peristiwa yang menggambarkan cinta spiritual—cinta yang tidak egoistik, melainkan teosentris.
Allah SWT berfirman:
﴿إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
"(Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!' Ia menjawab: 'Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.'" (QS. Al-Baqarah: 131)
Tunduk Ibrahim kepada Allah adalah bentuk cinta sejati: cinta yang membebaskan dari ego, dari rasa memiliki yang berlebihan, bahkan dari ikatan duniawi yang sangat kuat sekalipun, yaitu kepada anak kandungnya sendiri.
Baca Juga: Teks Khutbah Idul Adha 2025: Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Sulaiman
Ketika perintah penyembelihan datang dalam mimpi, Ibrahim menyampaikan kepada Ismail dengan penuh kasih, bukan paksaan:
﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ﴾
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu." (QS. Ash-Shaffat: 102)
Dan anaknya, Ismail ‘alaihissalam, dengan keteguhan iman dan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhannya, menjawab:
﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)
Inilah cinta dan kasih sayang yang paling indah dalam sejarah kemanusiaan: cinta yang dibingkai dalam ketundukan kepada perintah Allah. Ia bukan cinta yang membutakan, tetapi cinta yang tercerahkan oleh iman dan keikhlasan.
Ma’asyiral Muslimin,
Dalam konteks masyarakat kita hari ini, cinta dan kasih sayang sering disalahartikan sebagai sesuatu yang sentimental dan emosional belaka. Padahal dalam Islam, cinta adalah kekuatan ruhani yang mendorong pada pengorbanan, tanggung jawab, dan solidaritas sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
"Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta yang dimaksud Nabi bukanlah cinta yang menuntut, tetapi cinta yang memberi. Cinta yang melahirkan kasih sayang sosial, yang membangun jembatan antar manusia. Inilah ruh dari kurban: berbagi, menyapa yang lemah, menyantuni yang lapar, dan menyatukan hati-hati yang selama ini berjauhan.
Allah SWT berfirman:
﴿لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾
"Kalian tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sampai kalian menafkahkan sebagian dari apa yang kalian cintai." (QS. Ali ‘Imran: 92)
Artinya, cinta yang benar bukan sekadar perasaan. Ia adalah tindakan nyata—berbagi dari yang paling kita sayangi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Idul Adha juga mengajarkan kita tentang persatuan. Di hari yang agung ini, jutaan umat Islam melaksanakan wukuf di Arafah, mengenakan pakaian yang sama, berdiri sejajar tanpa membedakan status sosial, etnis, maupun bangsa. Haji dan Idul Adha adalah simbol kuat bahwa umat Islam sejatinya satu tubuh.
Rasulullah SAW bersabda:
«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang, dan empati mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan begadang dan demam." (HR. Muslim)
Baca Juga: 25 Ucapan Selamat Idul Adha untuk Orang Tua dan Keluarga yang Jauh, Cocok untuk Anak Perantauan
Kita hidup di zaman yang penuh tantangan: perpecahan, fitnah, kebencian, bahkan di antara sesama umat Islam. Maka Idul Adha hadir sebagai ajakan ilahi untuk kembali bersatu dalam ikatan ukhuwah, bukan semata karena kesamaan suku atau organisasi, tapi karena iman yang sama dan cinta kepada Allah yang sama.
Ma’asyiral Muslimin,
Hari ini kita sembelih hewan kurban, tetapi lebih dari itu—kita sembelih sifat egois, individualis, dan fanatisme kelompok. Kita korbankan prasangka buruk, kita gugurkan benih permusuhan, dan kita rawat cinta serta kasih sayang di tengah masyarakat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










