AKURAT.CO Belakangan ini, TikTok diramaikan dengan tren Tari Dudidam yang mendapatkan perhatian luas dari netizen.
Dengan gerakan yang energik dan iringan musik yang catchy, tarian ini menjadi viral dan diminati banyak orang.
Namun, di balik viralnya tarian modern seperti ini, muncul pertanyaan: adakah jenis tarian yang sarat dengan nilai-nilai Islam?
Tarian dalam Perspektif Islam
Islam, sebagai agama yang mengatur setiap aspek kehidupan, tidak mengabaikan seni dan budaya, termasuk seni tari.
Seni dalam Islam diperbolehkan selama memenuhi beberapa syarat dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
Salah satu hal yang ditekankan dalam Islam adalah segala aktivitas, termasuk seni tari, harus memiliki tujuan yang baik dan tidak mengandung unsur kemaksiatan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 208).
Baca Juga: 1 Oktober Memperingati Hari Apa? Apakah Terbentuknya Pancasila Memiliki Kaitan dengan Islam?
Ayat ini menekankan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang Muslim harus selaras dengan ajaran Islam secara menyeluruh, termasuk dalam hal seni dan hiburan.
Tarian Tradisional yang Sarat dengan Nilai-nilai Islam
Terdapat beberapa bentuk tarian tradisional di dunia Islam yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan ketaatan kepada Allah. Salah satu yang paling terkenal adalah Tari Sufi atau Whirling Dervishes.
Tarian ini berasal dari ajaran tasawuf dan merupakan bentuk ibadah yang dikenal dengan "sema". Dalam tarian ini, para penari berputar secara berulang sebagai simbol penghambaan kepada Allah, menyatu dengan dzikir dan kontemplasi.
Salah satu hadits Rasulullah ﷺ yang mendukung pentingnya niat dalam setiap amalan, termasuk dalam bentuk seni seperti tari, adalah:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Tarian Sufi yang dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah bisa menjadi contoh tarian yang tidak hanya indah secara estetika tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
Seni Tari dalam Islam: Keseimbangan antara Estetika dan Etika
Seni tari dalam Islam pada dasarnya diperbolehkan selama memenuhi beberapa kriteria, seperti:
1. Tidak bertentangan dengan syariat:
Tarian yang dilakukan harus tetap menjaga adab dan akhlak Islami. Hal ini mencakup pakaian yang menutup aurat dan gerakan yang tidak mengundang syahwat.
2. Mengandung nilai positif:
Tarian dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan moral, spiritual, atau mempererat ukhuwah (persaudaraan).
3. Tidak melalaikan kewajiban agama:
Seni, termasuk tari, tidak boleh membuat seseorang lalai dalam menjalankan ibadah wajib seperti shalat dan puasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ الْأُمُورِ أَوْسَطُهَا
"Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan."
(HR. Baihaqi).
Baca Juga: Jadwal Sholat Wilayah Bandung dan Sekitarnya Hari Ini, 1 Oktober 2024
Ini berarti, dalam menikmati seni, termasuk tari, umat Islam harus menjaga keseimbangan antara hiburan dan kewajiban agama, tidak berlebihan, dan tetap dalam koridor yang diizinkan oleh syariat.
Tarian seperti Dudidam yang viral di TikTok mungkin memiliki daya tarik tersendiri, namun umat Islam perlu menimbang apakah kegiatan tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam agama.
Seni dalam Islam bisa menjadi sarana untuk memperkuat iman dan menyampaikan pesan-pesan positif, asalkan dilakukan dengan niat yang baik dan tidak melanggar aturan syariah.
Tarian Sufi, sebagai contoh, merupakan bentuk tari yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebagai umat Islam, penting untuk selalu menimbang aktivitas sehari-hari, termasuk seni, agar tetap berada dalam koridor yang diizinkan oleh agama, dengan selalu mengingat firman Allah dan sabda Rasulullah yang menjadi pedoman hidup.









