Tingkatan Puasa Setiap Orang Berbeda-beda, Kamu Tingkatan Apa dari 3 Tingkatan Ini?

AKURAT.CO Puasa memiliki tingkatan masing-masing dalam diri setiap orang. Tentunya, orang yang berilmu seperti ulama puasanya tidak sama dengan anak-anak yang baru belajar berpuasa. Puasa orang yang awam juga mungkin berbeda dengan mereka yang pakar dalam Islam.
Seperti kita rasakan, ramadhan sudah berjalan beberapa hari ini. Tiap kita yang memenuhi persyaratan pun pasti sudah menunaikan kewajiban berpuasa. Puasa merupakan pembeda bulan Ramadan dengan bulan lainnya. Kemuliaan bulan Ramadan itu muncul dengan sendirinya karena adanya syariat ibadah puasa selama sebulan penuh.
Ibadah puasa ialah perintah Allah kepada kita untuk dapat menahan dan menjaga diri dari segala perkara yang ditetapkan dapat membatalkan puasa. Umumnya kita melihat ibadah puasa itu hanya sekedar menahan makan dan minum, namun berbeda dari pandangan Imam Al-Ghazali. Beliau mengatakan bahwa posisi ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman. Artinya barang siapa yang tidak puasa maka imannya kurang sepermpat.
Pernyataan Imam Al-Ghazali tersebut merupakan kesimpulan dari dua sabda Rasulullah SAW yang pertama berbunyi “ الصوم نصف الصبر” puasa merupakan setengah dari kesabaran. Dan hadits kedua berbunyai الصبر نصف الإيمان ” sabar adalah setengah dari iman. Oleh karena itulah Imam Ghazali menyimpulkan bahwa puasa adalah seperempat bagian dari iman.
Dari kedua hadis ini juga, Imam Al-Ghazali mengungkapkan bahwa keimanan, kesabaran dan Puasa memiliki hubungan yang erat. Sabar adalah inti dari puasa. Kesabaran dalam menahan segala larangan dhahiriah yang dapat membatalkan puasa, dan larangan batiniyah yang mengurangi makna puasa. Keduanya merupakan ujian yang berat. Sekaligus juga merupakan barometer kwalitas keimanan seseorang.
Mengukur tingkat iman seseorang bukanlah sesuatu yang sulit, meskipun iman adalah soal kepercayaan dan kepercayaan tersimpan rapat-rapat dalam batin. Akan tetapi, iman itu membutuhkan manifestasi diri dalam kenyataan. Tidak mungkin seseorang mengaku iman dan cinta kepada Allah SWT, tetapi ia menenggelamkan diri dalam selimut ketika Allah memanggilnya melalui adzan. Orang yang beriman pasti segera berdiri atau bahkan berlari karena saking cintanya ketika ia telah mendapat panggilan dari Allah SWT.
Demikianlah kemudian Imam Ghazali mencoba merincikan secara bertingkat model puasa manusia. Beliau menerangkan bahwa puasa itu ada tiga tingkatan. Oleh sebab itu, al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi tiga tingkatan puasa:
إعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص: وأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله، وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام، وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر
Artinya, “Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”
Pertama shaumul umum, puasa biasa-biasa saja (puasanya orang awam). Yaitu seseorang yang berpuasa dengan hanya sekedar menahan diri dari rasa lapar dan dahaga, menjaga lubang dan alat kelamin dari hal-hal yang mebatalkan puasa. Intinya mereka hanya sebatas menjaga puasa dari perkara yang dapat membatalkan puasa, namun masih melakukan perkara dosa yang lain.
Kedua shaumul khushus, atau puasa spesial (puasanya orang khusus/saleh) yaitu puasa dengan menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badan dari dosa dan maksiyat. Pada tingkatan ini sudah berbeda lebih baik daripada tingkatan pertama tadi, sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa. Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa.
Ketiga shaumul khususil khusus, atau puasa istimewa (puasanya orang istimewa) yaitu puasa dengan menahan hati dari keraguan mengenai hal-hal keakhiratan, dan menahan pikiran untuk tidak memikirkan masalah kedunyawiyahan, serta menjaga diri dari berpikir selain Allah swt. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap dapat merusak dan membatalkan puasa.
Demikian tiga tingkatan puasa seseorang yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali. Semoga dengan pemahaman makna tingkat puasa ini dapat menjadikan ibadah puasa kita lebih baik dan sempurna. Ngomong-ngomong, apa tingkatan puasa kita?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









