Akurat

Deterjen Polong Lebih Beracun Ketimbang Jenis Cair dan Bubuk?

Annisa Fadhilah | 24 Januari 2024, 21:54 WIB
Deterjen Polong Lebih Beracun Ketimbang Jenis Cair dan Bubuk?

AKURAT.CO Para peneliti mencatat bahwa deterjen polong terbukti lebih beracun dibandingkan deterjen cair atau bahkan deterjen bubuk tradisional, meskipun alasannya belum sepenuhnya dipahami.

Pusat racun di AS menerima 36.279 panggilan telepon mengenai produk deterjen polong selama tiga tahun terakhir, menurut data dari Sistem Data Racun Nasional.

Sebagian besar panggilan telepon melibatkan anak di bawah usia 6 tahun (87%), dan hampir semuanya terjadi di rumah (99%).

Baca Juga: Kali BKT Tercemar Deterjen, Dedek: Ini Bukan Sensasi karena Tugas Gubernur Bukan Hanya Selfie dan Rangkai Kata

Untungnya, hanya 6% yang mengakibatkan ancaman serius terhadap kesehatan, dan hanya sembilan kematian yang terkait dengan konsumsi deterjen. Kesembilan kematian tersebut melibatkan orang dewasa, tujuh di antaranya berusia di atas 70 tahun.

Temuan ini dipublikasikan baru-baru ini di jurnal Clinical Toxicology.

Para pembuat deterjen untuk pertama kalinya mengeluarkan standar keselamatan sukarela pada tahun 2015 dan baru-baru ini memerbarui standar tersebut pada bulan Maret 2022, kata para peneliti.

Standar tersebut tidak mengharuskan produsen untuk mematuhi Undang-Undang Pengemasan Pencegahan Racun (PPPA) tahun 1970, yang telah terbukti sangat efektif dalam mencegah akses anak terhadap racun, kata para peneliti.

Baca Juga: Produk Bubuk Deterjen Indonesia Bebas Dari Perpanjangan Safeguard Duty Di Madagaskar

Sementara itu, para ahli merekomendasikan agar masyarakat menggunakan deterjen tradisional dibandingkan deterjen polong jika mereka merawat anak-anak di bawah usia 6 tahun atau orang dewasa yang menderita demensia, Alzheimer, atau cacat perkembangan.

“Banyak keluarga tidak menyadari betapa beracunnya kemasan deterjen yang sangat pekat ini,” kata Gaw. “Jika Anda memiliki anak kecil atau orang dewasa yang rentan di rumah Anda, menggunakan deterjen tradisional adalah alternatif yang lebih aman.”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.