Apa Itu Toxic Positivity? Simak Cara Mengatasinya

AKURAT.CO - Berusaha untuk berpikiran positif membantu orang tetap optimistis dalam situasi yang tidak baik.
Tapi berpikir positif terus-menerus, bahkan berusaha menghilangkan perasaan negatif, dapat menyebabkan orang menjadi toxic positivity
Toxic positivity adalah keyakinan bahwa orang harus tetap positif terlepas dari keadaan mereka yang buruk.
Jika toxic positivity dilakukan secara terus-menerus, orang akan menunjukkan ekspresi keceriaan atau perasaan positif yang salah.
Di samping itu, mereka yang kebiasaan melakukan toxic positivity bisa merasakan berbagai masalah, mulai dari gangguan tidur hingga PTSD.
Tanda-tanda Toxic Positivity
Toxic positivity tidak selalu terlihat karena perilaku ini berasal dari pola pikir mereka. Namun, Anda dapat mengidentifikasi toxic positivity dengan beberapa tanda seperti ini:
- Menyangkal masalah daripada menghadapinya
- Menyembunyikan masalah yang sebenernya
- Mempermalukan orang lain Ketika mereka tidak memiliki sifat positif
- Berusaha tidak mengindahkan orang lain yang membuat tidak nyaman
Selain tanda-tanda toxic positivity yang sudah disebutkan, orang yang menerima toxic positivity dari orang lain akan merasakan beberapa hal seperti berikut ini:
- Merasa bersalah karena sedih, kecewa atau marah
- Menyembunyikan atau menyamarkan perasaan yang sebenernya
- Mencoba untuk tabah atau meluapkan emosi yang menyakitkan
Kenapa Toxic Positivity Berbahaya?
Sebenarnya, tidak ada yang salah untuk menanamkan pola pikir yang positif pada diri sendiri. Ini membuat mereka lebih bersemangat dan termotivasi untuk maju ketika mereka gagal.
Namun, berbeda dengan toxic positivity karena orang yang melakukan hal ini berusaha menampik dan tidak mau menerima hal-hal buruk yang terjadi.
Toxic positivity dapat menyebabkan beberapa hal seperti berikut ini :
- Malu
Karena ketidakmampuan mereka untuk menerima perasaan orang lain, orang yang melakukan toxic positivity mungkin merasa malu.
Padahal, orang harus memahami emosi mereka sendiri saat mereka mengalami keadaan buruk. Selain itu, teman dan keluarganya harus mendorong mereka dan memberikan perhatian.
- Perasaan bersalah
Toxic positivity dapat menyebabkan perasaan bersalah. Ketika orang tidak dapat menemukan cara untuk berpikir positif, termasuk saat menghadapi tragedi, seolah-olah mereka melakukan kesalahan.
- Menyangkal emosi
Toxic positivity dapat didefinisikan sebagai mekanisme untuk menghindari situasi emosional yang membuat orang tidak nyaman. Pada akhirnya, orang yang melakukannya mengabaikan dan menghindari perasaan yang sebenarnya.
- Mencegah perkembangan diri sendiri
Orang-orang dengan toxic positivity berusaha untuk menghindari perasaan yang buruk, sehingga mereka lebih sulit untuk menghadapi tantangan.
Padahal, tantangan adalah sarana untuk memperluas wawasan dan memperbaiki diri.
Cara Mengatasi Toxic Positivity
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi toxic positivity. Supaya lebih paham, simak yang di bawah ini.
- Bersikap realistis
Sangat normal untuk mengalami ketakutan, atau khawatir saat menghadapi situasi yang sulit. Namun, belajarlah untuk mengendalikan diri sendiri dan mencari cara untuk menyelesaikan situasi yang menyebabkan hal-hal tersebut terjadi.
- Menerima kondisi
Ingatlah bahwa tidak apa-apa untuk merasakan lebih dari satu hal. Jika orang menghadapi tantangan, mereka mungkin khawatir tentang hal yang akan terjadi di masa depan dan berharap bahwa mereka akan berhasil.
Situasi dapat memperumit emosi orang.
- Memperhatikan perasaan
Perhatikan perasaan terhadap situasi sekitar yang dapat memancing toxic positivity dapat terjadi. Misalnya, membatasi penggunaan media sosial terhadap akun-akun yang seringkali memposting kata-kata motivasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





