Akurat Logo

IPMG Dorong Pemerintah Perluas Akses Ketersediaan Obat-obatan Inovatif

| 21 Desember 2022, 03:00 WIB
IPMG Dorong Pemerintah Perluas Akses Ketersediaan Obat-obatan Inovatif

AKURAT.CO Percepatan akses obat-obatan sangat berperan penting untuk taraf produktivitas masyarakat Indonesia.

Dengan akses obat-obatan yang mudah dan cepat maka masyarakat lebih mudah sembuh dari berbagai penyakit yang diderita. Produktivitas yang baik akan berpengaruh pada perekonomian suatu negara.

Berdasarkan data terbaru, saat ini Indonesia menempati peringkat terakhir di ASEAN, di mana hanya sembilan persen obat baru yang diluncurkan selama periode 2012-2021.

International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) secara konsisten terus menyuarakan aspirasi ini kepada stakeholder terkait untuk memperbaharui standar pelayanan kesehatan dengan inovasi-inovasi serta memperluas akses obat-obatan yang inovatif.

"Laporan tersebut menyoroti bahwa hanya sekitar satu dari 10 obat baru yang diluncurkan secara global tersedia untuk pasien Indonesia. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus, mengingat akses tepat waktu ke obat-obatan baru dapat menyelamatkan hidup pasien, meningkatkan hasil kualitas kesehatan, membantu mengurangi biaya perawatan kesehatan, berkontribusi pada produktivitas ekonomi dan menjadikan Indonesia tujuan yang lebih menarik untuk investasi dan inovasi masa depan," papar Ketua IPMG, Ait-Allah Mejri, melalui keterangan resmi, Selasa (20/12/2022).

Dia menambahkan, hampir 90 persen masyarakat Indonesia telah mendapat jaminan kesehatan oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak diimplementasikan tahun 2014, hal tersebut merupakan kemajuan yang signifikan. Namun, tantangan baru menunjukan bahwa jumlah jangkauan JKN saja tidak cukup untuk mencapai sistem kesehatan yang berkualitas tinggi.

"Solusi untuk percepatan adopsi obat-obatan baru di Indonesia sudah ada, tetapi kita perlu lebih mempelajari beberapa hambatan mendasar untuk bisa mengadopsi well-evidenced innovation tersebut," katanya.

IPMG Board Member, Nora T. Siagian, menambahkan bahwa akar permasalahan ini bersifat multi-faktorial dan hanya dapat diatasi melalui kerja sama lintas sektor. Permasalahan ini mencakup akses masuk ke pasar Indonesia dan peraturan yang mengatur pendaftaran obat di JKN, keterbatasan anggaran dan kurang optimalnya value-based assessment dan strategi pembiayaan yang inovatif.

"Perbaikan dalam berbagai aspek diperlukan agar obat-obatan inovatif tersedia bagi pasien yang membutuhkan, sehingga bisa membawa pasar Indonesia lebih menarik bagi investor," tuturnya.

"Jika kita tidak membuat kebijakan besar perbaikan sistem kesehatan sekarang, maka kualitas dan produktivitas generasi emas yang kita cita-citakan pada 2045 tidak mampu bersaing dengan bangsa-bangsa Asia lain dengan sistem kesehatan yang lebih baik," mantan Dekan dan Guru Besar Ekonomi Kesehatan Universitas Indonesia (UI), Prof. Hasbullah Thabrany, menambahkan.

IPMG melihat bahwa Indonesia memiliki kesempatan emas untuk mentransformasi layanan kesehatan dengan cara meningkatkan investasinya, terlebih pada obat-obatan preventif dan layanan kesehatan primer. Selain itu, perlu diimbangi dengan upaya memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan life saving yang merupakan obat-obatan esensial serta memiliki standar yang dapat mengikuti kemajuan inovasi.

"Anggota IPMG berkomitmen untuk terus melakukan edukasi dan meningkatkan pengetahuan medis secara berkesinambungan di Indonesia. Komitmen kami ini tentu memerlukan keterlibatan dan dialog terbuka dengan berbagai pihak, utamanya pemerintah, akademisi dan mitra swasta lainnya. Untuk bisa mendorong pemahaman yang lebih baik terkait inovasi di bidang kesehatan dan menggambarkan lebih jelas manfaat nilai inovasi ini dalam perimbangan faktor ekonomi kesehatan Indonesia," tutup Ait-Allah Mejri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.