Deretan Fakta Varian FLiRT, Penyebab Kasus Covid-19 Kembali Meroket di Singapura

AKURAT.CO Singapura terus mengalami lonjakan kasus Covid-19 dalam dua pekan terakhir.
Dilaporkan, gelombang baru yang melanda negara itu didominasi oleh Covid-19 varian baru yakni KP.1 dan KP.2 yang termasuk dalam kelompok varian FLiRT.
Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) melaporkan KP.1 dan KP.2 merupakan varian yang mendominasi dua pertiga kasus Covid-19 di negara tersebut.
Baca Juga: Resmi! Irlandia, Norwegia, dan Spanyol Mengakui Negara Palestina Merdeka
Meski begitu, MOH menegaskan bahwa tidak ada indikasi varian tersebut akan menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian sebelumnya.
Diperkirakan MOH, kasus Covid-19 di sana pada pekan kedua Mei 2024 naik menjadi 25.900 kasus dari pekan sebelumnya yakni 13.700 kasus.
Lebih rinci, berikut beberapa fakta mengenai varian Covid-19 FLiRT di Singapura.
1. Apa Itu Varian Covid-19 FLiRT?
Baca Juga: Israel Tarik Dubesnya dari Irlandia dan Norwegia Sebab Akui Negara Palestina Merdeka
Varian FLiRT digunakan para ahli untuk menggambarkan seluruh keluarga varian berbeda, termasuk KP.2 dari KP dan JN.1.7 dari JN yang mengalami rangkaian mutasi sama secara independen, yakni evolusi konvergen.
Varian JN.1 sendiri menjadi salah satu yang dominan di Amerika Serikat selama beberapa bulan terakhir.
2. Gejala FLiRT
Masih belum ditemukan gejala khusus atau baru yang berkaitan dengan varian Covid-19 FLiRT hingga saat ini.
Baca Juga: Gerindra Merasa Beruntung, Tak Ada Partai yang Patok Jatah Menteri ke Prabowo
Namun, masa inkubasi varian itu disebut serupa dengan JN.1 dan varian Omicron sebelumnya, yakni lima hari atau lebih sebelum muncul gejala.
Baca Juga: KPK Cecar Mantan Istri Antonius Kosasih Soal Aliran Uang Korupsi di PT Taspen
Menurut CDC, Covid-19 varian FLiRT memiliki gejala sebagai berikut:
1. Demam atau menggigil
2. Batuk
3. Sakit tenggorokan
4. Hidung tersumbat atau meler
5. Sakit kepala
6. Sesak napas
7. Kelelahan
8. Kehilangan indra perasa dan penciuman
9. Tubuh terasa kurang kesadaran
Baca Juga: Cara Mudah Membagi Layar Laptop Menjadi 2 di Windows
3. Tingkat Risiko FLiRT
Menurut Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, terdapa beberapa kondisi yang menentukan apakah seseorang dapat dikenal kebal terhadap varian FLiRT.
Jika seseorang baru terjangkit Covid-19 varian JN.1 maka potensi terlindung dari seluruh Covid-19 varian FLiRT akan lebih tinggi.
Namun, jika seseorang terjangkit varian yang 'lebih tua' dari JN.1 maka perlindungan terhadap FLiRT yang diperoleh tidak begitu besar.
Dengan demikian, masyarakat tetap harus waspada sebab varian FLiRT berpotensi menimbulkan lonjakan kasus pada musim seperti sekarang.
Meskipun gelombang varian tersebut masih tergolong kecil, risiko tinggi varian FLiRT tetap mengintai kelompok yang lebih rentan, seperti lansia dan penderita komorbid.
Baca Juga: Sikap Politik PDIP Tergantung Aspirasi Arus Bawah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 3Kalender Jawa 25 September 2026: Benarkah Jumat Kliwon Hari Baik untuk Menikah?
- 4Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 5Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura Malam Ini, Cek Jam Tayang dan Linknya
- 6Indonesia vs Singapura Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026!
- 7Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 8Prediksi Skor Indonesia vs Singapura Hari Ini 25 September 2026, Cek Susunan Pemain!
- 9KPK Pantau Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
- 10Kunjungi Pindad, Ketua MPR Dorong Penguatan Industri Pertahanan Nasional








