Banyak Siswa Bunuh Diri, Sekolah di Taiwan Tawarkan Cuti Kesehatan Mental Mulai Bulan Ini

AKURAT.CO Meningkatnya angka bunuh diri remaja di Taiwan membuat sekolah menengah menawarkan cuti kesehatan mental kepada siswanya mulai bulan ini Maret 2024.
Diketahui, langkah ekstrem yang dilakukan para siswa akibat tingginya tingkat stres dan depresi.
Antara tahun 2014 dan 2022, angka bunuh diri di antara orang berusia 15 hingga 24 tahun di Taiwan meningkat lebih dari dua kali lipat, meskipun angka keseluruhannya menurun.
Baca Juga: Gibran Rakabuming Raka Kini Follow Tom Lembong hingga Sri Mulyani, Ibas Sudah Bukan Satu-satunya
Program lantas sebagai tanggapan akan hal tersebut yang menawarkan hari libur hingga tiga hari setiap semester bagi para siswa atas izin orang tua mereka.
Nantinya siswa dapat mengajukan permohonan libur baik penuh atau setengah hari tanpa bukti kebutuhan terapi.
Kementerian Pendidikan menyatakan telah lebih dari 40 sekolah di Taiwan menyatakan minatnya dalam uji coba cuti kesehatan mental ini.
Menurut psikolog unit konseling kesehatan Universitas Nasional Sun Yat-sen, langkah ini merupakan hal yang baik dan benar agar memungkinkan siswa untuk menghilangkan stres.
"Cuti kesehatan mental memiliki tingkat efektivitas tertentu. Hal ini memungkinkan siswa untuk menghilangkan stres yang mendesak saat ini dan memiliki waktu istirahat penyangga yang cukup untuk mencerna dan mengatasi ketidaknyamanan mereka," kata Hsiao Chih-hsien, dikutip Selasa (5/3/2024).
"Jika ketidaknyamanan mental dilihat secara normal "siswa akan lebih berani dalam mencari bantuan," tambah Hsiao.
Di sisi lain, beberapa pihak berwenang Taiwan telah dikritik atas tanggapan mereka terhadap krisis ini. Para advokat mengatakan tekanan akademis yang ekstrim terhadap siswa adalah penyebab utama stres, kecemasan dan depresi.
Baca Juga: PBB: Pemerkosaan Individu dan Berkelompok Kemungkinan Terjadi Selama Serangan Hamas ke Israel
Pada tahun 2022, Yayasan Liga Kesejahteraan Anak melakukan survei terhadap siswa dan menemukan bahwa lebih dari 12% melaporkan tingkat stres yang "parah", dan dua kali lebih buruk pada siswa sekolah menengah atas dibandingkan siswa sekolah menengah pertama.
Baca Juga: Legenda Sepakbola Belanda Kees Rijzers Meninggal Dunia di Usia Hampir 1 Abad
Hampir seperempat siswa sekolah menengah mengatakan mereka pernah mengalami depresi berat. Survei tersebut menyebutkan tiga penyebab stres terbesar yang dilaporkan adalah tugas sekolah (77%), prospek masa depan (67%) dan hubungan interpersonal (43%).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 3Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 4Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 7Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 8Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 9Dana Reses dari Fee Percepatan Haji, BAP Gus Alex Ungkap Permintaan Pimpinan Komisi VIII
- 10PAN Potong Gaji Anggota Dewan, Rp8 Miliar Terkumpul untuk Bantu Korban Bencana








