Akurat Logo

Shell Shock Syndrome, Trauma Dari Ledakan Perang

Eko Krisyanto | 20 September 2023, 16:18 WIB
Shell Shock Syndrome, Trauma Dari Ledakan Perang

AKURAT.CO Perang adalah konflik berskala besar yang terjadi antara dua atau lebih kelompok, negara. Atau entitas yang melibatkan kekuatan militer dan strategi untuk mencapai tujuan politik, ekonomi atau sosial tertentu.

Ketika memikirkan tentang perang sering kali yang terfokus pada kerusakan fisik yang diakibatkan oleh ledakan senjata. Selain kerusakan infrastrruktur termasuk bangunan, jalan dan fasilitas lainnya, terdapat banyak korban jiwa juga sebagai dampak dari sebuah perang.

Bahkan ada salah satu dampak trauma yang mendalam pada individu tertentu, yakni yang bisa disebut dengan Shell Shock Syndrome atau yang lebih dikenal dengan Post-Traumatic Stress Disorde (PTSD).

Sejarah Shell Shock Syndrome

Shell Shock Syndrome pertama kali mencuat selama Perang Dunia I ketika prajurit di garis depan mengalami gejala psikologis yang parah setelah terkena ledakan artileri. Pada saat itu, banyak yang menganggap gejala ini sebagai bentuk kelemahan mental dan stigma yang melekat pada mereka membuat banyak prajurit enggan untuk mencari bantuan.

Pada Perang Dunia II pemahaman tentang trauma perang mulai berkembang. Shell Shock Syndrome kemudian dikenal sebagai Combat Stress Reaction (CSR). Ini adalah reaksi psikologis alami terhadap situasi berbahaya di medan perang. Namun, stigma terhadap gangguan mental masih ada.

Pada dekade-dekade berikutnya, pemahaman tentang PTSD terus berkembang. Pada tahun 1980, PTSD secara resmi diakui sebagai gangguan mental oleh Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat. Sejak itu, ada upaya yang lebih besar untuk memahami dan mengobati gangguan ini secara efektif.

Gejala-gejala Shell Shock Syndrome

Shell Shock Syndrome atau PTSD adalah kondisi yang kompleks dan beragam gejalanya. Gejala-gejala tersebut dapat muncul dalam waktu singkay Setelah pengalaman traumatis atau bahkan bertahun-tahun kemudian.

Dikutip dari beberapa sumber, Rabu (20/9/2023), berikut ini beberapa gejala umum Shell Shock Syndrome:

  • Flashbcak: Pengalaman kembali ke peristiwa traumatis seperti mimpi buruk atau kenangan yang mendalam dan menyakitkan.
  • Stres yang berlebihan: merasa tegang, mudah tersinggung, dan cemas. Beberapa penderita sering kali merasa seperti dalam kondisi siaga yang tinggi.
  • Menghindari ingatan: Penderita biasanya menghindari situasi, tempat, atau perasaan yang mengingatkan pada peristiwa treumatis
  • Reaksi fisik: Gejala fisik seperti sakit kepala, masalah tidur, dan gangguan pencernaan adalah hal umum yang terjadi pada penderita PTSD.
  • Perasaan nihilism: merasa putus asa, tidak berdaya, dan kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya penderita nikmati.
  • Menghindari konfrontasi emosi: kesulitan dalam mengungkapkan emosi dan menjaga jarak dari hubungan sosial
  • Hipervigilans: menjaga waspada yang berlebihan serta mudah terkejut.

Mengatasi Shell Shock Syndrome

Mengatasi Shell Shock Syndrome adalah proses yang sering kali memerlukan bantuan profesional. Terapis dan konselor yang terlatih dapat membantu individu mengatasi gejala dan trauma yang mendasarinya. Terapi kognitif-perilaku (CBT) sering digunakan untuk mengubah pola pikir negatif dan mengatasi kecemasan.

Selain itu, dukungan sosial sangat penting. Keluarga, teman dan sesama veteran dapat memberikan dukungan yang sangat berarti.

Grup dukungan juga dapat membantu individu untuk berbicara tentang pengalaman mereka dengan orang yang memiliki pengalaman serupa. (Ami Fatimatuz Zahro')

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK