Masihkah Bumi Layak Dihuni?

AKURAT.CO Kondisi iklim yang kian memanas seolah memancing tanya mengenai kondisi Bumi ini.
Apakah Perubahan iklim akan terus terjadi? Berapa lama lagi Bumi akan bertahan?
Pertanyaan ini sebenarnya sekilas dapat dijawab oleh tiap orang dengan hanya melihat kondisi bumi saat ini. Dengan suhu dan cuaca yang tak menentu dan kian memanas, rasanya mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai keberlangsungan Bumi.
Namun, mari melihat dan membuktikannya melalui bukti-bukti ilmiah yang didapat dari studi-studi terdahulu.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science Advance pada 13 September 2023 menyebut Bumi telah melampaui ruang aman bagi umat manusia dalam enam dari sembilan variabel pengukuran yang menentukan kesehatan Bumi, di antaranya iklim, keanekaragam hayati, tanah, polusi nutrisi, air tawar, dan bahan kimia baru.
Baca Juga: Doa Saat Mendengar Kabar Gempa Bumi Di Suatu Negeri
Studi ini merupakan pengembangan dari studi di tahun 2015. Dalam studi baru ini air berubah menjadi di luar aman dari kategori nyaris aman karena limpasan air sungai yang memburuk.
Para peneliti mengatakan sembilan variabel pengukuran kesehatan Bumi saling terkait satu sama lain. Artinya, jika manusia memperburuk satu faktor maka akan memperburuk masalah lingkungan lainnya. Juga sebaliknya jika memperbaiki satu faktor maka faktor lain akan terbantu pula.
Peneliti juga mengatakan bahwa cara paling ampuh yang bisa dilakukan manusia untuk memberantas perubahan iklim adalah dengan membersihkan lahan dan menyelamatkan hutan. Hutan merupakan penyerap alami yang substansial untuk menyimpan karbondioksida agar karbondioksida tidak berada di udara dan berakhir memerangkap panas.
Baca Juga: Keadaan Makin Buruk, Sekarang Bumi Mengalami Global Boiling
Ada juga penelitian yang terbit di jurnal Geophysical Research Letter pada 2021, dengan menggunakan data dari instrumen Clouds and the Earth’s Radiant Energy System (CERES) yang dipasang di beberapa satelit pengamatan Bumi milik NASA. Instrumen data ini mengukur seberapa besar energi yang diserap Bumi dalam bentuk sinar matahari dan berapa besar energi itu dipancarkan kembali ke luar angkasa.
Selisih energi yang diserap dan yang dipancarkan kembali itu kemudian disebut ketidaksembangan energi. Melalui instrumen data CERES inilah peneliti menemukan bahwa selang 2005-2019 ketidakseimbangan energi telah berlipat ganda.
Para peneliti di studi ini juga menggunakan data tambahan dari Argo, jaringan sensor robotik internasional yang tersebar di seluruh lautan di dunia yang mengukur tingkat pemanasan laut. Data Argo ini dapat membantu peneliti untuk memperkuat temuan mereka dengan membandingkannya dengan data CERES. Hal ini karena lautan global diketahui menyerap hingga 90 persen dari kelebihan energi yang masuk di Bumi.
Hasilnya, peneliti menyimpulkan peningkatan pemanasan adalah hasil dari proses yang terjadi secara alami atas ulah manusia. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca dan metana di atmosfer menyebabkan lebih banyak panas di Bumi. Lapisan es yang menyusut pun menyebabkan energi yang masuk lebih sedikit dapat dipantulkan kembali ke luar angkasa.
Ada pula buku yang menjelaskan bahwa Bumi telah menunjukkan kepunahan. Buku yang ditulis David Wallace-Wells dengan judul The Unhabitable Earth: Life After Warming ini mengatakan apabila bumi yang sudah panas ini suhunya naik hingga 5 derajat maka dapat diprediksi bahwa kurang dari 100 tahun ke depan Bumi sudah tidak layak huni. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








