Akurat Logo

Mengenal Ecorexia: Obsesi Terhadap Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Eko Krisyanto | 6 September 2023, 14:24 WIB
Mengenal Ecorexia: Obsesi Terhadap Gaya Hidup Ramah Lingkungan

 


AKURAT.CO Istilah ecorexia pertama kali digunakan pada 2009 dalam artikel The New York Times untuk menggambarkan bagaimana seseorang yang terobsesi dengan gaya hidup ramah lingkungan atau eco friendly.

Ecorexia sendiri bukan diagnosis terhadap kesehatan mental. Namun, sejumlah terapis kesehatan mental menilai bahwa ecorexia dapat dikaitkan dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD).

Ecorexia yang dikaitkan dengan OCD ini tergantung dengan seberapa besar kecemasan seseorang untuk mendorong perilaku itu dan bagaimana perilaku itu bisa secara signifikan mengurangi kecemasan.

Tanda Pengidap Ecorexia di Antaranya

1. Anggota keluarga, teman dekat, atau rekan kerja mulai mempertanyakan sikap ramah lingkungan yang dilakukan
2. Tidak bisa menikmati hal yang sebelumnya sering dilakukan
3. Mengalami perubahan kebiasaan tidur dan makan
4. Sulit untuk terlibat dengan teman atau keluarga, menghadiri suatu kegiatan, menjaga diri atau rumah sendiri
5. Tidak bisa memenuhi harapan sendiri

Contoh Kasus Pengidap Ecorexia

Dilansir dari Everyday Health, salah satu wanita bernama Brenda Knight dari Berkeley, California, kerap kali mengantongi sampah di dalam tasnya. Ia juga sering menyirami kebunnya dengan menggunakan air bekas mandi saking terobsesinya dengan gaya hidup ramah lingkungan.

Brenda pun pernah mendapat masalah di kantornya karena menyimpan kantong kompos di belakang pintu kantor, sehingga menyebabkan bau tak sedap yang mengganggu orang di sekitarnya.

Upaya yang dilakukan Brenda mungkin dikatakan terpuji karena peduli dengan lingkungan dan melakukannya tanpa pamrih. Namun, obsesinya yang terlalu tinggi terhadap gaya hidup ramah lingkungan ini sampai menyebabkan ketidaknyamanan bagi orang lain.

Gaya hidup ramah lingkungan yang sempurna sangat sulit untuk dilakukan. Bahkan bisa menyebabkan gangguan kecemasan, gangguan emosional, depresi dan masalah sosial karena mengejar kesempurnaan itu. (Adinda Shafa Afriasti)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK