Akurat

Kusta Bisa Timbukan Komplikasi Kesehatan tapi Bisa Diobati

| 30 Januari 2022, 14:05 WIB
Kusta Bisa Timbukan Komplikasi Kesehatan tapi Bisa Diobati

AKURAT.CO Dunia sedang memperingati Hari Kusta atau World Leprosy Day pada Minggu (30/1/2022). Hari Kusta Sedunia diperingati setiap hari Minggu terakhir di bulan Januari. 

Dikutip dari laman WHO, kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Kusta  dikenal juga dengan nama penyakit Hansen atau Morbus Hansen.

Kusta  dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit. Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri yang dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin.

Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini menular dari satu orang ke orang lain, melalui percikan cairan dari saluran pernapasan (droplet), yaitu ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin.

Kusta dapat menular, jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab kusta tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. 

Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita.

Oleh karena itu, seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman, duduk bersama, atau bahkan berhubungan seksual dengan penderita. Kusta juga tidak ditularkan dari ibu ke janin yang dikandungnya.

Ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kusta, di antaranya:

  • Bersentuhan dengan hewan penyebar bakteri kusta, seperti armadillo atau simpanse
  • Menetap atau berkunjung ke kawasan endemik kusta
  • Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh

Penyakit kusta ini bisa menimbulkan komplikasi kesehatan yang serius berupa cacat, berikut cacat yang dialami penderita kusta, jika tidak ditangani dengan cepat. 

Cacat primer

Kondisi cacat primer ini, artinya penderita kusta bisa mengalami mati rasa. Tak hanya itu, kusta bisa menimbulkan bercak kulit mirip panu yang biasanya muncul dengan cepat dan dalam waktu yang singkat.

Bercak ini dapat meradang, membengkak dan menyebabkan demam. Selain itu, claw hand alias tangan dan jari membengkok juga bisa terjadi.

Cacat sekunder

Jika bakteri yang menyebar sudah mengakibatkan kerusakan saraf. Penderita kusta akan mengalami kelumpuhan di bagian tangan, kaki, jari-jari tangan, atau refleks kedip yang berkurang. Kulit juga bisa menjadi kering dan bersisik.

Beberapa cacat fisik yang akan kamu alami apabila komplikasi penyakit kusta terjadi, yaitu kerusakan septum hidung, glaukoma, buta, disfungsi ereksi dan gagal ginjal.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati penyakit kusta?

Pada awal 1960-an, rifampisin dan clofazimine mulai ditemukan dan ditambahkan dalam pengobatan kusta, yang kemudian diberi label sebagai terapi multiobat atau multidrug therapy (MDT).

Kemudian pada 1981, WHO merekomendasikan MDT untuk membunuh patogen dan menyembuhkan pasien. Sejak 1995 WHO telah menyediakan MDT gratis. Lebih dari 16 juta pasien telah diobati dengan MDT selama 20 tahun terakhir.

Metode pengobatan utama penyakit ini adalah dengan obat antibiotik. Penderita akan diberi kombinasi beberapa jenis antibiotik selama satu hingga dua tahun. Dosis dan durasi penggunaan antibiotik ditentukan berdasarkan jenis yang diderita. 

Beberapa jenis antibiotik tersebut, antara lain:

  • Dapson
  • Rifampin
  • Clofazimine
  • Minocycline
  • Ofloxacin

Pengobatan di Indonesia

Di Indonesia, pengobatan dilakukan dengan metode MDT (multi drug therapy). WHO telah mengembangkan terapi MDT sejak 1995 untuk menyembuhkan semua jenis lepra.

Selain itu, dokter mungkin juga akan memberikan obat anti-inflamasi, seperti aspirin, rednison, thalidomide.

Jika kamu sedang hamil atau dalam perencanaan untuk hamil, dokter tidak akan menyarankan untuk mengonsumsi thalidomide. Karena penggunaan obat ini akan menghasilkan cacat lahir yang parah.

Cara mengatasi secara alami di rumah

Dilansir dari laman Web MD, bagi penderita kusta ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama perawatan berlangsung di rumah, seperti menjaga kebersihan dan melakukan deteksi dini, khususnya di daerah endemik.

Hal itu adalah langkah mudah yang dapat kamu lakukan selama menjalani perawatan di rumah, agar tidak terjadi infeksi yang lebih parah pada penderita kusta.

Sejauh ini belum ada pantangan makanan khusus untuk penderita kusta, tetapi sebaiknya hindari makanan siap saji.

Hingga saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk pencegahan. Cara terbaik untuk pencegahan kusta adalah menghindari kontak jangka panjang dengan orang yang memiliki penyakit kusta.

Melakukan deteksi dini, khususnya di daerah endemik merupakan langkah tepat untuk mencegah atau menghambat infeksi yang lebih parah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.