AKURAT.CO, Dilansir dari berbagai sumber pada Senin (16/1/2023), di negeri asalnya, Tiongkok, kue keranjang atau dodol Cina dikenal dengan nama Nian Gao atau Ni-Kwe (Ti-Kwee) yang disebut juga kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali pada masa menjelang tahun baru Imlek.
Kata 'Nian' sendiri berarti tahun dan 'Gao' berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi. Oleh sebab itu, cara penyajian kue keranjang ini sering disusun tinggi atau bertingkat.
Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, memberikan makin peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran.
Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkuk bewarna merah di bagian atasnya, ini berarti sebagai simbol kehidupan yang manis kian menanjak dan mekar seperti kue mangkuk.
Ada dua kisah menarik yang berbeda di balik sejarah keberadaan kue keranjang ini.
Pertama, kue keranjang atau disebut Nian Gao ini berasal dari kisah tentang raksasa jahat dan pemuda di sebuah desa di Tiongkok.
Dikisahkan, raksasa jahat yang bernama Nian tersebut kerap mengganggu manusia dan segala makhluk yang tinggal di Tiongkok. Tak hanya mengganggu, Nian juga kerap memangsa manusia.
Pada suatu hari, pemuda baik hati bernama Gao datang ke desa tersebut. Mengetahui perbuatan jahat sang raksasa, Gao memiliki ide untuk mengusir raksasa tersebut. Ia meminta para warga desa untuk membuat kue manis nan lengket untuk ditempelkan di depan pintu rumah mereka. Hal ini bertujuan untuk, saat sang raksasa datang ke rumah untuk memangsa warga ia akan terkecoh dan teralihkan dengan manisnya kue tersebut.
Kemudian, kisah versi lainnya menceritakan tentang kue keranjang yang tak bisa dijauhkan dari Dewa Dapur.
Pada suatu hari, hiduplah sepasang suami istri yang hidup dengan menjual makanan ringan. Kedua pasangan ini memiliki dua peruntungan yang berbeda.
Sang suami selalu merasa dirinya kurang beruntung saat berjualan sedangkan dagangan istrinya selalu laris manis.
Sang suami pun merasa iri dengan rezeki yang didapatkan istrinya, lalu sang suami memutuskan untuk menceraikan istrinya dan melanjutkan usahanya seorang diri.
Namun, sang suami malah mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Hidupnya menjadi menderita dan terlantar. Di sisi lain, sang istri malah hidup bergelimang harta karena kebaikan hatinya.
Suatu hari, sang istri membuka dapur umum untuk para gelandangan. Ia membagikan makanan gratis kepada beberapa gelandangan, lalu pada saat itu sang suami tak sengaja datang ke dapur umum tersebut untuk meminta sesuap nasi.
Mengetahui keberadaan mantan suamiya di dapur umum sang istri malah memberikan makanan yang di dalamnya terdapat barang pemberian sang suami.
Lalu, saat membuka makanan tersebut, sang mantan suami terkejut bahwa di dalamnya terdapat barang milik istrinya dulu. Merasa malu dengan keadaannya sekarang, sedangkan di satu sisi isri yang dicampakkannya telah sukses, dan sang mantan suami memilih untuk bunuh diri di dapur umum tersebut.
Arwah sang suami pun gentayangan menghantui rumah-rumah warga.
Arwah gentayangan ini pun yang akhirnya dikenal dengan sebutan 'Dewa Dapur'. Setiap satu tahun sekali, ia pergi ke kayangan untuk melaporkan amal baik dan buruk pasangan yang menghuni rumah yang dikunjunginya.
Jika para penghuni rumah tersebut beramal buruk, maka sang dewa akan memberikan kutukan.
Maka, agar 'Dewa Dapur' tersebut memberikan laporan-laporan baik tentang kehidupan para penghuni rumah tersebut, warga setempat membuat kue manis sebagai penutup mulut agar sang dewa melaporkan hal-hal yang manis ke kayangan.
Awal Masuknya Kue Keranjang ke Indonesia
Awal masuknya kue keranjang ke Indonesia dikatakan bersamaan dengan masuknya warga China ke Indonesia yang berlayar pada tahun 400-an.
Saat pelaut Tiongkok mendarat di Indonesia, mereka akan mendirikan klenteng kecil bentuk dari mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Dewa Bumi. Kemudian, kue keranjang sebagai hantaran wajib di klenteng.
Sejak pertama masuk ke Indonesia, kue ini mulai berasimilasi dengan kuliner Indonesia. Wajik, jenang, dodol, dan lainnya merupakan bukti cita rasa lokal yang beradaptasi dengan kue keranjang.
Asal mula kue ini disebut 'kue keranjang' yaitu karena proses pembuatannya yang dilakukan dengan cara dicetak dalam sebuah keranjang bolong berukuran kecil.
Perpaduan tepung ketan dan gula sebagai bahan dasar pembuatan kue bewarna cokelat.
Namun, seiring berkembangnya kuliner di Indonesia, kini banyak dijumpai kue keranjang dengan berbagai pilihan warna dan rasa.
Kue keranjang ini pun tahan lama, bisa tahan hingga satu tahun jika disimpan dengan baik.
Proses pembuatan khas Imlek ini cukup mudah, adonan tepung ketan dan gula diaduk-aduk hingga mengental kemudian dikukus. Saat proses pengukusan, dibutuhkan keranjang untuk mengukus adonan tepung dan gula tadi.
Pada zaman dahulu, kue keranjang dikukus dan dibungkus menggunakan daun pisang agar aroma yang dihasilkan pun cukup wangi dan alami. Namun, kini, kue keranjang hanya dibungkus menggunakan plastik bening supaya menarik hati.
Selain sejarah terciptanya, kue keranjang pun memiliki makna yang menarik. Menurut kepercayaan orang Tiongkok, kue tradisional ini dipercaya dapat membawa keberuntungan.
Kue ini juga dianggap sebagai wujud harapan untuk memulai tahun baru yang lebih baik.
Nian Gao sendiri memiliki arti 'tahun yang lebih tinggi', sehingga dijadikan simbol sebagai jabatan yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih tinggi pertumbuhan keluarga, serta harapan di tahun baru agar semuanya menjadi lebih baik.
Rasa manis khas kue keranjang dimaksudkan agar siapapun yang makan kue ini selalu bertutur kata yang baik dan manis. Sedangkan teksturnya yang lengket bermakna sebagai satu kesatuan yang melambangkan hubungan erat keluarga dan persaudaraan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Perbedaan Digital Citizen dan Citizen Journalism: Pengertian serta Karakteristiknya
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon




