Akurat Logo

Perbedaan Digital Citizen dan Citizen Journalism: Pengertian serta Karakteristiknya

Idham Nur Indrajaya | 25 Oktober 2026, 19:50 WIB
Perbedaan Digital Citizen dan Citizen Journalism: Pengertian serta Karakteristiknya
Pahami perbedaan digital citizen dan citizen journalism, karakteristik, contoh, serta tanggung jawabnya dalam kehidupan digital. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Sebuah video kecelakaan mendadak viral di media sosial. Ribuan orang membagikannya, sebagian menambahkan dugaan penyebab kejadian, sementara yang lain mencari informasi dari sumber resmi sebelum ikut menyebarkan. Di antara mereka, siapa yang disebut warga digital dan siapa yang melakukan jurnalisme warga? Perbedaan digital citizen dan citizen journalism terletak pada cakupan, tujuan, dan aktivitasnya: warga digital berpartisipasi dalam masyarakat digital secara bertanggung jawab, sedangkan jurnalisme warga berfokus pada pengumpulan dan penyampaian informasi untuk kepentingan publik.

Secara sederhana, digital citizen atau warga digital adalah individu yang menggunakan teknologi digital secara aktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab. Sementara itu, citizen journalism atau jurnalisme warga merupakan kegiatan jurnalistik yang melibatkan masyarakat dalam mendokumentasikan peristiwa, mengumpulkan informasi, memeriksa fakta, atau menyampaikan laporan kepada publik.

Keduanya dapat dilakukan oleh orang yang sama, tetapi tidak identik. Seseorang bisa menjadi warga digital yang baik tanpa pernah menulis berita. Sebaliknya, warga yang merekam kejadian dan mengembangkannya menjadi laporan jurnalistik dapat menjalankan citizen journalism, terutama ketika ia melakukan pemeriksaan informasi dan menyajikannya dalam konteks kepentingan publik.

Apa Itu Digital Citizen dan Bagaimana Karakteristiknya?

Digital citizen adalah individu yang berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat melalui teknologi digital dengan memahami keterampilan, etika, hak, dan tanggung jawab yang menyertainya. Konsep ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan ponsel atau menggunakan media sosial, tetapi juga dengan cara seseorang mengambil keputusan dan berinteraksi di ruang digital.

Kerangka Digital Citizenship Education dari Council of Europe menempatkan kewargaan digital sebagai kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dalam masyarakat, baik di lingkungan daring maupun luring. Kerangka tersebut mencakup aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

Artinya, seseorang tidak otomatis menjadi warga digital yang kompeten hanya karena setiap hari menggunakan internet. Kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan literasi informasi, kesadaran etis, perlindungan privasi, dan pemahaman terhadap dampak tindakannya.

1. Memiliki literasi digital dan informasi

Warga digital yang kompeten mampu menggunakan teknologi sekaligus menilai informasi yang ditemukan di internet. Ia tidak langsung mempercayai suatu kabar hanya karena unggahannya viral, memiliki banyak komentar, atau dibagikan oleh orang yang dikenalnya.

Misalnya, seseorang menerima pesan WhatsApp yang menyebutkan bahwa sebuah bendungan jebol dan menyebabkan banjir besar. Alih-alih langsung meneruskan pesan tersebut, ia memeriksa informasi dari instansi terkait, membandingkan laporan media tepercaya, serta memastikan waktu dan lokasi kejadian.

Tindakan ini menunjukkan literasi informasi. Tujuannya bukan sekadar menemukan informasi, melainkan menilai apakah informasi tersebut memiliki sumber yang jelas dan dapat dipercaya.

2. Memahami etika komunikasi digital

Warga digital menyadari bahwa interaksi di internet tetap melibatkan manusia yang memiliki hak dan martabat. Perbedaan pendapat tidak menjadi alasan untuk melakukan penghinaan, perundungan siber, atau menyebarkan informasi pribadi seseorang tanpa dasar yang dapat dibenarkan.

Karakteristik ini juga terlihat ketika seseorang menyampaikan kritik dengan argumen yang jelas, tidak memotong konteks pernyataan orang lain, dan bersedia mengoreksi informasi keliru yang pernah dibagikannya.

Etika digital menjadi semakin penting ketika sebuah unggahan dapat menjangkau ribuan orang hanya dalam beberapa menit. Dampak komunikasi tidak lagi terbatas pada hubungan antara pengirim dan penerima pesan.

3. Menjaga privasi dan keamanan

Warga digital memahami risiko yang muncul ketika data pribadi tersebar di internet. Ia berhati-hati dalam membagikan nomor telepon, alamat rumah, dokumen identitas, informasi keuangan, atau foto yang mengandung data sensitif.

Perilaku tersebut juga mencakup penggunaan kata sandi yang kuat, autentikasi multifaktor jika tersedia, serta kewaspadaan terhadap tautan dan pesan yang mencurigakan.

Kesadaran privasi bukan hanya bertujuan melindungi diri sendiri. Warga digital juga perlu mempertimbangkan keselamatan orang lain ketika membagikan foto, rekaman, atau informasi yang dapat mengungkap identitas seseorang.

4. Memahami hak dan tanggung jawab di ruang digital

Internet memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat, memperoleh informasi, belajar, dan berpartisipasi dalam diskusi publik. Namun, hak untuk berekspresi tidak berarti seseorang bebas mengabaikan hak orang lain.

Warga digital perlu memahami bahwa tindakan seperti menyebarkan tuduhan tanpa dasar, membagikan data pribadi secara sembarangan, atau menggunakan karya orang lain tanpa memperhatikan hak yang berlaku dapat menimbulkan konsekuensi.

Karena itu, kewargaan digital berkaitan dengan kemampuan menggunakan hak secara bertanggung jawab, bukan sekadar kebebasan mengunggah apa pun.

5. Berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat

Digital citizen dapat memanfaatkan teknologi untuk mengikuti diskusi kebijakan publik, mengakses layanan pemerintah, belajar secara daring, membantu komunitas, atau menyampaikan aspirasi mengenai persoalan di lingkungan sekitarnya.

Partisipasi tersebut tidak harus berupa aktivitas politik atau pembuatan berita. Mengikuti kelas daring, membantu warga memperoleh informasi layanan publik, dan menggunakan kanal pengaduan resmi juga dapat menjadi bentuk keterlibatan dalam masyarakat digital.

Inilah salah satu pembeda penting dari citizen journalism: partisipasi digital memiliki cakupan luas dan tidak selalu bertujuan menghasilkan informasi jurnalistik.

Baca Juga: Media Dikejar Kecepatan dan Algoritma, Ini Tantangan Jurnalis di Era Digital

Baca Juga: Media Dikejar Kecepatan dan Algoritma, Ini Tantangan Jurnalis di Era Digital

Apa Itu Citizen Journalism dan Bagaimana Karakteristiknya?

Citizen journalism atau jurnalisme warga adalah aktivitas jurnalistik yang melibatkan masyarakat dalam mengumpulkan, mendokumentasikan, menganalisis, atau menyebarkan informasi yang memiliki kepentingan publik.

Dalam praktiknya, pelaku jurnalisme warga tidak harus bekerja sebagai wartawan di perusahaan media. Mereka dapat berupa saksi mata, anggota komunitas, mahasiswa, aktivis, atau warga yang mengangkat persoalan di lingkungannya.

Kajian Jessica Roberts mengenai citizen journalism dalam The International Encyclopedia of Media Literacy membahas keterlibatan masyarakat dalam pengumpulan, analisis, dan penyebaran informasi yang menjadi kepentingan publik.

Rujukan akademis: Jessica Roberts — Citizen Journalism, Wiley.

Kegiatan tersebut dapat berlangsung melalui blog, situs komunitas, media sosial, kanal video, podcast, atau kontribusi kepada media profesional. Platform yang digunakan bukan penentu tunggal apakah suatu aktivitas termasuk jurnalisme warga.

1. Berorientasi pada kepentingan publik

Karakteristik utama citizen journalism adalah penyampaian informasi yang relevan bagi masyarakat. Contohnya meliputi laporan mengenai jalan rusak, banjir, pencemaran sungai, gangguan pelayanan publik, atau persoalan komunitas yang membutuhkan perhatian lebih luas.

Sebaliknya, mengunggah foto liburan, membuat video hiburan, atau mempromosikan produk tidak otomatis termasuk jurnalisme warga. Konten tersebut mungkin bermanfaat bagi audiens, tetapi belum tentu memiliki tujuan jurnalistik.

Kepentingan publik menjadi salah satu pertimbangan untuk membedakan pelaporan warga dari aktivitas pembuatan konten biasa.

2. Mengumpulkan informasi dari peristiwa atau sumber yang relevan

Warga sering memiliki kedekatan geografis dan sosial dengan suatu peristiwa. Seseorang yang tinggal di daerah banjir, misalnya, dapat memberikan informasi mengenai kondisi jalan, ketinggian air, atau kebutuhan warga sebelum wartawan tiba di lokasi.

Kedekatan ini merupakan keunggulan, tetapi bukan jaminan bahwa semua informasi yang disampaikan benar. Warga tetap perlu membedakan apa yang dilihat sendiri, apa yang dikatakan saksi lain, dan apa yang masih berupa dugaan.

Jika sebuah video memperlihatkan kerumunan di depan gedung, misalnya, pengunggah tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa telah terjadi kerusuhan tanpa bukti pendukung.

3. Memanfaatkan dokumentasi untuk mendukung laporan

Ponsel pintar memungkinkan masyarakat merekam foto, video, suara, atau kejadian secara langsung. Dokumentasi tersebut dapat menjadi bahan awal untuk menyampaikan informasi kepada publik.

Namun, gambar dan video tidak selalu memperlihatkan keseluruhan peristiwa. Rekaman yang autentik sekalipun dapat menyesatkan jika dipotong, diberi keterangan yang salah, atau disebarkan tanpa konteks waktu dan lokasi.

Karena itu, dokumentasi perlu diperlakukan sebagai bahan yang harus diperiksa. Keberadaan video tidak otomatis membuktikan semua klaim yang menyertainya.

4. Melakukan verifikasi dan pemeriksaan fakta

Jurnalisme warga yang bertanggung jawab tidak berhenti pada tindakan merekam atau mengunggah. Ketika hendak menyampaikan laporan, pelakunya perlu memeriksa keakuratan informasi sesuai kemampuan dan konteks kejadian.

Langkah yang dapat dilakukan antara lain memastikan lokasi dan waktu peristiwa, memeriksa keaslian dokumentasi, mencari keterangan tambahan, serta menghubungi pihak terkait untuk memperoleh penjelasan.

Tidak semua pelaku jurnalisme warga melakukan seluruh tahapan tersebut. Sebagian hanya memberikan dokumentasi kepada media, sedangkan yang lain menyusun laporan secara mandiri dengan proses verifikasi yang lebih sistematis.

Perbedaan tingkat keterlibatan ini penting agar istilah citizen journalism tidak digunakan secara terlalu luas untuk semua bentuk unggahan warga.

5. Tidak selalu terikat pada struktur redaksi profesional

Jurnalis warga dapat bekerja tanpa editor atau perusahaan media. Mereka memiliki keleluasaan untuk mengangkat persoalan lokal yang mungkin belum mendapat perhatian media arus utama.

Namun, ketiadaan struktur redaksi juga dapat meningkatkan risiko kesalahan, bias, dan kurangnya pemeriksaan fakta. Karena itu, sebagian informasi yang dikumpulkan warga perlu diperiksa lebih lanjut sebelum dipublikasikan sebagai laporan berita.

Dalam model kolaborasi, warga dapat menjadi sumber informasi atau kontributor, sedangkan redaksi media profesional melakukan verifikasi, penyuntingan, dan pengembangan laporan.


Apa Perbedaan Digital Citizen dan Citizen Journalism?

Perbedaan digital citizen dan citizen journalism paling mudah dipahami dengan melihat tujuan, cakupan aktivitas, keterampilan, serta tanggung jawab masing-masing. Digital citizen berkaitan dengan cara seseorang berpartisipasi dalam masyarakat digital, sedangkan citizen journalism berfokus pada keterlibatan warga dalam kegiatan jurnalistik.

Keduanya memiliki irisan, terutama dalam penggunaan teknologi, literasi informasi, dan etika komunikasi. Namun, perbedaan tersebut tetap penting karena tidak semua aktivitas digital merupakan kegiatan jurnalistik.

Aspek

Digital Citizen

Citizen Journalism

Pengertian

Individu yang berpartisipasi dalam masyarakat digital secara aktif dan bertanggung jawab.

Kegiatan jurnalistik yang melibatkan warga dalam pengumpulan dan penyampaian informasi kepada publik.

Tujuan utama

Mendukung partisipasi digital yang kritis, etis, aman, dan bertanggung jawab.

Menyampaikan informasi yang relevan bagi kepentingan publik.

Ruang lingkup

Luas, meliputi pendidikan, pekerjaan, komunikasi, ekonomi, budaya, dan partisipasi sosial.

Lebih spesifik, berfokus pada aktivitas jurnalistik.

Aktivitas

Belajar daring, berdiskusi, melindungi data pribadi, bertransaksi, dan mengakses layanan publik.

Mendokumentasikan peristiwa, mengumpulkan keterangan, memeriksa fakta, dan menyusun laporan.

Keterampilan utama

Literasi digital, literasi informasi, etika, keamanan, dan pemahaman hak digital.

Observasi, pengumpulan informasi, wawancara, verifikasi, dan penyampaian laporan.

Orientasi informasi

Mengakses, menilai, membuat, dan membagikan berbagai informasi digital.

Menghasilkan atau menyebarkan informasi jurnalistik untuk kepentingan publik.

Hasil aktivitas

Tidak harus menghasilkan berita atau produk jurnalistik.

Dapat berupa laporan, dokumentasi peristiwa, wawancara, atau investigasi warga.

Tanggung jawab

Menjaga keamanan, menghormati hak orang lain, dan berperilaku etis di ruang digital.

Menjaga akurasi, konteks, kehati-hatian, serta tanggung jawab atas informasi yang dipublikasikan.

Hubungan dengan profesi wartawan

Tidak bergantung pada status profesional di bidang jurnalistik.

Dapat dilakukan warga nonprofesional, tetapi juga dapat melibatkan kolaborasi dengan wartawan profesional.

Contoh

Memeriksa kabar viral sebelum membagikannya ke grup keluarga.

Menelusuri kabar tersebut, mengumpulkan keterangan, lalu menyusun laporan mengenai peristiwa yang diberitakan.

Tabel tersebut merupakan sintesis perbandingan berdasarkan kerangka kewargaan digital Council of Europe dan kajian akademis mengenai jurnalisme warga. Perbedaan utamanya bukan terletak pada aplikasi yang digunakan, melainkan pada tujuan dan proses aktivitasnya.

1. Perbedaan tujuan: berpartisipasi atau melakukan peliputan

Digital citizen tidak harus menghasilkan informasi baru. Seseorang dapat menunjukkan kewargaan digital yang baik dengan memeriksa kebenaran informasi, berdiskusi secara etis, atau melindungi data pribadinya.

Citizen journalism memiliki fokus yang lebih spesifik. Pelakunya terlibat dalam kegiatan jurnalistik untuk mengumpulkan dan menyampaikan informasi yang relevan bagi publik.

Sebagai contoh, seseorang yang mengoreksi kabar palsu di grup WhatsApp menunjukkan perilaku digital yang bertanggung jawab. Jika ia kemudian menelusuri sumber kabar tersebut, mewawancarai pihak terkait, memeriksa bukti, dan menyusun laporan tentang penyebaran informasi palsu, kegiatannya juga dapat mencerminkan jurnalisme warga.

2. Perbedaan proses: menilai informasi atau menyusun laporan

Kewargaan digital mencakup kemampuan untuk menerima, menilai, dan menggunakan informasi dengan bijak. Kemampuan tersebut tidak selalu memerlukan wawancara atau pengumpulan data secara mandiri.

Dalam citizen journalism, proses pengumpulan informasi menjadi bagian penting. Bergantung pada jenis laporannya, pelaku dapat melakukan observasi, menghubungi saksi, memeriksa dokumen, dan membandingkan keterangan dari beberapa sumber.

Kedua aktivitas tersebut sama-sama membutuhkan pemikiran kritis, tetapi tuntutan prosesnya berbeda.

3. Perbedaan tanggung jawab: perilaku digital dan akurasi pelaporan

Digital citizen bertanggung jawab atas perilakunya dalam berbagai aktivitas digital. Ia perlu menghormati privasi, menghindari penyebaran informasi yang menyesatkan, dan memahami dampak komunikasi terhadap orang lain.

Dalam citizen journalism, tanggung jawab tersebut juga berkaitan dengan kualitas laporan. Tuduhan yang belum terbukti, keterangan yang tidak lengkap, atau dokumentasi tanpa konteks dapat merugikan pihak yang diberitakan.

Artinya, semakin besar klaim yang disampaikan dan semakin serius dampaknya bagi masyarakat, semakin penting pula pemeriksaan bukti dan kehati-hatian dalam menyusun laporan.

Kesimpulan praktisnya, digital citizen menjelaskan bagaimana seseorang berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan digital, sedangkan citizen journalism menjelaskan keterlibatan warga dalam proses jurnalistik.

Apakah Semua Pengguna Media Sosial Bisa Disebut Citizen Journalist?

Tidak. Memiliki akun media sosial, mengunggah foto, atau membagikan video tidak otomatis menjadikan seseorang jurnalis warga.

Media sosial merupakan saluran komunikasi, sedangkan citizen journalism merupakan aktivitas yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyampaian informasi jurnalistik. Satu platform dapat digunakan untuk hiburan, promosi, komunikasi pribadi, maupun pelaporan peristiwa.

Untuk memahami batasnya, perhatikan beberapa contoh berikut.

  • Pengguna media sosial: membagikan foto makanan atau menceritakan pengalaman liburan. Aktivitas ini tidak otomatis merupakan jurnalisme warga.

  • Pembuat konten: membuat video edukasi atau ulasan produk. Konten tersebut dapat memberikan informasi, tetapi belum tentu memiliki tujuan jurnalistik.

  • Saksi mata: merekam kecelakaan dan mengunggahnya. Dokumentasi ini dapat menjadi bahan awal pelaporan, tetapi belum tentu menunjukkan seluruh proses jurnalistik.

  • Kontributor informasi: mengirimkan foto dan keterangan kejadian kepada media. Kontribusinya dapat membantu peliputan, meskipun ia tidak mengerjakan seluruh proses jurnalistik.

  • Jurnalis warga: mengumpulkan informasi mengenai kejadian, memeriksa keterangan, mencari bukti pendukung, dan menyusun laporan untuk masyarakat.

Batas antarkategori tersebut tidak selalu tegas. Seseorang bisa memulai dengan merekam kejadian, lalu mengembangkan dokumentasi itu menjadi laporan yang lebih lengkap.

Hal yang perlu dinilai adalah tujuan, proses, konteks, dan kualitas informasi yang disampaikan, bukan semata-mata jumlah pengikut atau platform yang digunakan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.