Media Dikejar Kecepatan dan Algoritma, Ini Tantangan Jurnalis di Era Digital

AKURAT.CO Perubahan ekosistem informasi di era digital menghadirkan tantangan baru bagi industri media. Selain dituntut menyajikan berita secara cepat, jurnalis juga harus menjaga akurasi, keberimbangan, etika jurnalistik, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan platform digital dan artificial intelligence (AI).
Hal tersebut mengemuka dalam Interactive Workshop bertema “Tantangan Jurnalistik di Era Transformasi Digital”yang digelar di Kafe Kopi Politik, Jalan Pakubuwono, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).
Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya, Bagus Sudarmanto, menyoroti meningkatnya jumlah pengaduan terhadap media dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi media di tengah perubahan ekosistem informasi yang semakin cepat.
Bagus menyebut jumlah pengaduan meningkat dari 626-678 pengaduan pada 2024 menjadi 1.286 pengaduan pada 2025.
Sementara hingga 2026, jumlah pengaduan telah mencapai sekitar 800 kasus dan berpotensi melampaui angka tahun sebelumnya.
"Pada tahun 2025 terjadi lonjakan menjadi 1.286 pengaduan. Dan pada tahun ini, 2026, sampai dengan ini sudah masuk 800 pengaduan. Diproyeksikan mungkin akan melampaui yang dicapai oleh pengaduan pada tahun 2025," kata Bagus.
Ia mengatakan, sebagian besar pengaduan berkaitan dengan pelanggaran prinsip jurnalistik, seperti pemberitaan tidak berimbang, tidak melakukan konfirmasi, kesalahan penulisan judul, penggunaan foto yang tidak sesuai, pencemaran nama baik, hingga ujaran kebencian.
Menurut Bagus, salah satu persoalan yang mendorong terjadinya pelanggaran adalah persaingan kecepatan publikasi.
Media dituntut menyajikan informasi secepat media sosial, tetapi pada saat yang sama tetap harus menjaga akurasi dan kredibilitas.
"Problemnya memang mungkin kita kalah cepat. Kita kalah cepat dalam media sosial. Tapi kalau kita mengikuti mereka, mungkin tidak akan dipercaya. Sama saja media kita dengan media sosial, tidak ada bedanya," ujarnya.
Bagus menilai, media mainstream memiliki keunggulan yang tidak dimiliki media sosial, yakni proses verifikasi dan tanggung jawab jurnalistik. Karena itu, media tidak seharusnya hanya mengejar kecepatan maupun viralitas.
"Di era digital sekarang, menurut saya, verifikasi adalah formal. Memang ada terlambat sedikit. Tapi media tanpa etika tidak saja merugikan publik, tapi juga merugikan media sendiri," katanya.
Ia juga menyoroti tekanan bisnis dan algoritma platform yang membuat media harus terus beradaptasi.
Untuk menjaga kualitas pemberitaan, Bagus mendorong setiap media memiliki sistem verifikasi informasi, termasuk alur kerja dan checklist sebelum berita dipublikasikan.
"Kalau misalnya di media, harusnya ada sistemnya. Meskipun kecil, disiplin dan seterusnya, tidak apa-apa," ujarnya.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Engagement Instagram dengan Optimasi Konten Sesuai Algoritma
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 2Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 3Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Berapa dan Tayang di Mana?
- 7Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 8Prediksi Skor Wales vs Denmark 5 Oktober 2026: Duel Ketat di Cardiff
- 9DPR Sahkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan dalam Rapat Paripurna Besok
- 10Bos Maktour Travel Fuad Hasan Masyhur: Nama Saya Hancur Sehancur-hancurnya




