Akurat

Tips Belanja Online di Bulan Ramadan 2026: Diskon Besar, Risiko Lebih Besar?

Idham Nur Indrajaya | 19 Februari 2026, 20:51 WIB
Tips Belanja Online di Bulan Ramadan 2026: Diskon Besar, Risiko Lebih Besar?

AKURAT.CO Menjelang Ramadan 2026, transaksi eCommerce nasional diproyeksikan kembali melonjak. Bank Indonesia sebelumnya mencatat nilai transaksi digital menyentuh Rp44,4 triliun dalam satu bulan pada 2025—dan periode Ramadan hampir selalu menjadi puncaknya. Diskon besar, gratis ongkir, cashback, dan promo midnight sale membuat masyarakat makin aktif belanja online.

Namun ada sisi lain yang jarang dibicarakan: setiap lonjakan transaksi hampir selalu diikuti lonjakan penipuan digital. Phishing, impersonasi customer service, tautan pelacakan palsu—modusnya makin rapi, makin meyakinkan, makin sulit dibedakan dari yang asli.

Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Dr. Pratama Persadha menyampaikan, modus yang paling banyak ditemukan adalah phishing berbasis pesan, impersonasi customer service, serta penyalahgunaan tautan pelacakan pengiriman palsu.
 
“Risiko keamanan transaksi online memang masih menjadi tantangan nyata di Indonesia dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjawab tantangan ini. Di tengah meningkatnya aktivitas belanja online, khususnya menjelang Ramadan, konsumen perlu semakin waspada terhadap modus penipuan digital yang kian beragam. Literasi keamanan digital menjadi kunci agar masyarakat dapat menikmati kemudahan eCommerce tanpa mengorbankan keamanan dan kenyamanan,” kata Pratama melalui pengumuman tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 19 Februari 2026.

Diskon memang menggiurkan. Tapi satu klik ceroboh bisa menghapus keuntungan yang sudah kamu kumpulkan setahun.


Cara Aman Belanja Online Saat Ramadan

Berikut ringkasan tips belanja online di bulan Ramadan agar tetap aman:

  • Gunakan password kuat dan aktifkan autentikasi dua faktor (2FA)

  • Transaksi hanya di aplikasi atau situs resmi

  • Jangan klik tautan dari pesan tidak dikenal

  • Tolak instalasi APK di luar Play Store/App Store

  • Jangan pernah membagikan kode OTP

  • Periksa ulasan dan rating toko sebelum checkout

Kuncinya sederhana: jangan pernah memindahkan transaksi ke luar platform resmi, apa pun alasannya.


Lonjakan Ekonomi Digital Ramadan: Mesin Pertumbuhan yang Sensitif

Ramadan bukan hanya momentum religius, tapi juga mesin pertumbuhan ekonomi digital.

Permintaan fesyen muslim, hampers Lebaran, gadget, hingga kebutuhan rumah tangga meningkat signifikan. Banyak platform bahkan memulai festival belanja sejak pertengahan Februari untuk mengamankan trafik lebih awal.

Secara ekonomi, ini menciptakan efek domino:

  • Peningkatan transaksi UMKM

  • Lonjakan logistik

  • Perputaran dana digital yang masif

  • Persaingan promo yang agresif

Namun semakin besar perputaran uang, semakin menarik pula bagi pelaku kejahatan siber. Ekosistem yang ramai selalu menjadi ladang empuk.


Paradoks Keamanan Digital: Sistem Makin Canggih, Manipulasi Makin Halus

Platform eCommerce terus memperkuat sistem keamanan: enkripsi data, AI fraud detection, monitoring transaksi real-time.

Tapi di sisi lain, social engineering berkembang lebih cepat.

Pelaku tidak lagi meretas sistem—mereka meretas psikologi.
Mereka memanfaatkan:

  • Rasa panik karena “paket tertahan”

  • Rasa senang karena “voucher terbatas”

  • Rasa takut karena “akun terblokir”

Keamanan teknologi bisa ditingkatkan. Tapi ketika pengguna lengah karena tergesa-gesa mengejar diskon, celah tetap terbuka.

Ini paradoksnya: semakin aman sistemnya, semakin kreatif manipulasi manusianya.

Pratama menambahkan, di tengah pesatnya adopsi belanja digital, upaya penguatan keamanan siber tidak bisa hanya bertumpu pada platform eCommerce semata. Meski berbagai solusi dan teknologi perlindungan terus dikembangkan, kesadaran pengguna tetap menjadi lapisan pertahanan terpenting.

"Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap penawaran yang tampak terlalu menarik, memastikan transaksi dilakukan melalui kanal resmi, serta secara rutin memperkuat keamanan akun guna melindungi data pribadi dan menjaga pengalaman belanja online tetap aman dan nyaman. Penguatan literasi keamanan digital juga selaras dengan semangat Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi yang menekankan pentingnya perlindungan informasi pribadi sebagai hak dasar setiap warga negara," ujar Pratama.


7 Tips Belanja Online di Bulan Ramadan agar Tidak Jadi Korban

1. Perkuat Akun dengan Password Unik

Gabungkan huruf, angka, dan simbol. Aktifkan 2FA. Jangan gunakan password yang sama di semua akun.

2. Pastikan Transaksi Tetap di Dalam Platform

Jika ada yang meminta transfer langsung lewat chat pribadi demi “harga lebih murah”, hentikan.

3. Jangan Klik Link Pelacakan Paket dari Pesan Tidak Resmi

Cek status pengiriman langsung di aplikasi. Link dari SMS acak sering kali palsu.

4. Tolak Permintaan Instalasi APK atau Share Screen

Tidak ada eCommerce resmi yang meminta instal aplikasi di luar toko resmi atau berbagi layar untuk refund.

5. Jangan Pernah Berikan Kode OTP

Kode OTP adalah kunci akunmu. Sekali diberikan, akses bisa berpindah tangan dalam hitungan detik.

6. Baca Ulasan dengan Teliti

Rating tinggi saja tidak cukup. Perhatikan konsistensi review dan foto pembeli.

7. Gunakan Logika Saat Melihat Diskon

Diskon 80% untuk produk premium? Berhenti sejenak. Tarik napas. Evaluasi ulang.

Kadang yang kita butuhkan bukan kecepatan checkout, tapi jeda lima detik untuk berpikir.


Dampak Jangka Panjang: Trust Bisa Runtuh dalam Sekejap

Kepercayaan adalah fondasi eCommerce.

Jika kasus penipuan meningkat dan pengalaman buruk menyebar di media sosial, dampaknya tidak hanya pada satu korban—tapi pada kepercayaan publik terhadap platform digital secara keseluruhan.

Dalam jangka panjang:

  • Konsumen menjadi ragu bertransaksi

  • UMKM kehilangan momentum penjualan

  • Biaya keamanan meningkat

  • Ekosistem digital menjadi kurang efisien

Ramadan seharusnya menjadi momen pertumbuhan ekonomi. Jika trust runtuh, pertumbuhan bisa melambat.


Simulasi Kasus: Promo Hampers yang Berujung Penyesalan

Seorang karyawan muda melihat promo hampers Lebaran diskon 70%. Ia menerima pesan dari akun yang mengaku admin toko, meminta transfer langsung agar “tidak kehabisan stok”.

Ia transfer.
Tidak ada resi.
Akun toko menghilang.

Kerugian mungkin hanya ratusan ribu rupiah. Tapi rasa tidak percaya bisa bertahan jauh lebih lama.

Baca Juga: Potret Masjid Negara IKN Gelar Salat Tarawih Pertama Kali pada Ramadan 1447 H

Baca Juga: Akulaku PayLater Hadir di Seluruh Gerai Transmart, Belanja Kini Lebih Fleksibel


Kenapa Ini Penting untuk Generasi Milenial dan Gen Z?

Generasi 12–40 tahun adalah pengguna paling aktif eCommerce. Mereka cepat, responsif, dan terbiasa dengan transaksi instan.

Tapi budaya impulsif—terutama saat Ramadan ketika promo dan kebutuhan meningkat bersamaan—membuat keputusan sering diambil tanpa verifikasi.

Diskon memicu emosi.
Keamanan butuh rasionalitas.

Dan dua hal itu sering tidak berjalan bersamaan.


Penutup: Apakah Diskon Layak Dibayar dengan Risiko?

Ramadan selalu identik dengan berbagi dan kemudahan. Teknologi membuat belanja jadi praktis, cepat, dan efisien.

Namun ada pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan pada diri sendiri:
Apakah semua promo benar-benar perlu kita kejar?

Diskon mungkin berakhir dalam 24 jam.
Kebocoran data bisa berdampak bertahun-tahun.

Di tengah budaya serba cepat dan dorongan impulsif, mungkin yang paling dibutuhkan bukan fitur keamanan tambahan—melainkan disiplin pribadi untuk tidak tergesa-gesa.

Karena pada akhirnya, keamanan transaksi bukan hanya soal sistem yang canggih, tapi tentang seberapa bijak kita menggunakan kemudahan itu.

Pantau terus perkembangan tren belanja digital dan keamanan siber—agar Ramadan tetap menjadi momen berkah, bukan momen penyesalan.

Baca Juga: Pacu Belanja Awal Tahun, Kemenkeu Bidik Ekonomi Tumbuh 5,6 Persen di Q1 2026

Baca Juga: Latihan di Gym dan Tetap Puasa di Hari Kedua, Ini Pandangan Patrice Evra Soal Ramadan

FAQ

Apa itu penipuan belanja online saat Ramadan?

Penipuan belanja online saat Ramadan adalah berbagai modus kejahatan digital yang memanfaatkan lonjakan transaksi eCommerce selama bulan puasa dan menjelang Idul Fitri. Pelaku biasanya menggunakan teknik phishing, tautan pelacakan paket palsu, impersonasi customer service, hingga penawaran diskon tidak masuk akal untuk mencuri data pribadi atau menguras saldo korban.

Modus ini meningkat karena aktivitas belanja online Ramadan memang melonjak tajam. Saat konsumen sibuk berburu promo, tingkat kewaspadaan sering menurun. Celah inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk melakukan social engineering—bukan dengan meretas sistem, tetapi memanipulasi psikologi pengguna.

Karena itu, memahami tips belanja online di bulan Ramadan bukan hanya soal hemat, tetapi juga soal keamanan transaksi digital.


Mengapa penipuan online meningkat saat Ramadan?

Ramadan adalah puncak konsumsi digital. Permintaan fesyen muslim, hampers Lebaran, kebutuhan rumah tangga, hingga gadget meningkat signifikan. Lonjakan transaksi ini menciptakan perputaran uang digital yang sangat besar dalam waktu singkat.

Di sisi lain, budaya FOMO (fear of missing out) membuat banyak orang terburu-buru checkout tanpa verifikasi. Promo terbatas, flash sale tengah malam, dan notifikasi diskon memicu keputusan impulsif. Situasi ini membuat phishing dan penipuan eCommerce lebih mudah berhasil.

Semakin ramai ekosistem digital, semakin besar pula peluang eksploitasi. Itulah sebabnya keamanan transaksi online saat Ramadan menjadi isu krusial setiap tahun.


Bagaimana cara aman belanja online saat Ramadan?

Cara aman belanja online saat Ramadan dimulai dari penguatan akun. Gunakan password unik, aktifkan autentikasi dua faktor (2FA), dan jangan pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun. OTP adalah kunci utama akun Anda—sekali bocor, akses bisa berpindah dalam hitungan detik.

Selanjutnya, pastikan seluruh transaksi dilakukan di dalam aplikasi atau situs resmi. Hindari transfer langsung di luar platform, meskipun dijanjikan harga lebih murah. Jangan klik tautan dari pesan tidak dikenal, terutama yang mengatasnamakan jasa logistik atau admin toko.

Terakhir, biasakan membaca ulasan dan rating toko sebelum checkout. Keamanan belanja online bukan hanya tanggung jawab platform, tetapi juga kedisiplinan pengguna dalam memverifikasi setiap langkah.


Apa dampaknya jika mengabaikan keamanan belanja online?

Mengabaikan keamanan transaksi digital bisa berujung pada kerugian finansial, pembobolan akun, hingga penyalahgunaan data pribadi. Kerugian tidak selalu besar secara nominal, tetapi dampak psikologis dan rasa tidak percaya bisa bertahan lama.

Dalam skala lebih luas, meningkatnya kasus penipuan dapat menurunkan trust terhadap eCommerce secara keseluruhan. Jika konsumen merasa tidak aman, mereka akan ragu bertransaksi, dan ini bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Karena itu, tips belanja online di bulan Ramadan bukan sekadar panduan teknis, melainkan investasi perlindungan jangka panjang—baik untuk individu maupun ekosistem digital secara keseluruhan.


Apa itu phishing dalam belanja online dan bagaimana mengenalinya?

Phishing adalah upaya penipuan yang bertujuan mencuri informasi sensitif seperti password, kode OTP, atau data kartu dengan menyamar sebagai pihak resmi. Dalam konteks belanja online Ramadan, phishing sering muncul dalam bentuk pesan pelacakan paket palsu, notifikasi akun bermasalah, atau klaim hadiah diskon besar.

Ciri-cirinya antara lain URL yang tidak sesuai dengan domain resmi, bahasa pesan yang mendesak atau mengancam, serta permintaan data pribadi secara langsung. Beberapa bahkan meminta instalasi aplikasi APK di luar toko resmi atau mengaktifkan fitur berbagi layar.

Jika menemukan tanda-tanda tersebut, jangan panik dan jangan klik apa pun. Cek langsung ke aplikasi resmi platform untuk memastikan kebenaran informasi. Waspada adalah langkah pertama dalam menjaga keamanan belanja online.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.