Riset Citi Institute: Perusahaan Global Mulai Memburu Likuiditas Rantai Pasok, Ini Penyebabnya

AKURAT.CO Bayangkan sebuah perusahaan yang mendapatkan banyak pesanan, memiliki jaringan pemasok di berbagai negara, dan mencatat pertumbuhan penjualan. Namun, ketika harus membayar bahan baku atau memenuhi kebutuhan operasional, perusahaan tersebut justru kesulitan menyediakan uang tunai.
Situasi semacam ini dapat terjadi ketika dana perusahaan tertahan dalam persediaan, piutang, atau proses transaksi perdagangan yang membutuhkan waktu panjang. Di tengah perubahan jalur perdagangan global, persoalan likuiditas rantai pasok kini menjadi perhatian penting bagi perusahaan.
Laporan terbaru Citi Institute dan Citi Services berjudul Transformasi Lanskap Global: Pergeseran dalam Perdagangan Global dan Foreign Direct Investment (FDI) mengungkap perubahan prioritas tersebut. Perusahaan global tidak lagi hanya berfokus pada diversifikasi pemasok untuk menghadapi gangguan perdagangan, tetapi juga berupaya memastikan kas yang tersedia dapat segera digunakan ketika dibutuhkan.
Mengapa Perusahaan Global Mulai Memburu Likuiditas Rantai Pasok?
Likuiditas rantai pasok menjadi perhatian perusahaan global karena perubahan jalur perdagangan, kenaikan biaya input, dan ketidakpastian ekonomi dapat membuat modal kerja lebih lama tertahan dalam proses bisnis. Berdasarkan laporan Citi, sebanyak 72% perusahaan global memprioritaskan upaya melepaskan likuiditas yang terperangkap dalam 12 bulan ke depan. Angka tersebut meningkat dari 66% pada awal 2026.
Perhatian terhadap persoalan ini menunjukkan bahwa ketahanan bisnis tidak hanya berkaitan dengan keberadaan pemasok alternatif. Perusahaan juga perlu mengetahui di mana uang mereka berada, kapan dana tersebut dapat digunakan, dan bagaimana mempercepat perputaran modal kerja.
Likuiditas Terperangkap Menjadi Prioritas Baru Perusahaan Global
Selama beberapa tahun terakhir, diversifikasi rantai pasok menjadi salah satu strategi perusahaan untuk menghadapi ketegangan geopolitik, gangguan logistik, dan perubahan kebijakan perdagangan. Perusahaan berupaya mengurangi ketergantungan terhadap satu pemasok atau satu negara dengan mencari sumber bahan baku alternatif.
Namun, memiliki lebih banyak pemasok tidak otomatis membuat arus kas perusahaan menjadi lebih lancar.
Perusahaan tetap dapat menghadapi persoalan keuangan apabila dana terlalu lama tertahan dalam persediaan, piutang, atau transaksi perdagangan lintas negara. Ketika waktu pengiriman berubah atau pelanggan membayar lebih lambat, perusahaan mungkin membutuhkan tambahan dana untuk mempertahankan kegiatan operasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 4Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 5ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 6Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 7Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 8Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 9KPK Geledah Kementerian ATR/BPN, Ruangan Dirjen Jadi Salah Satu Target
- 10Saksi Ungkap Fee Percepatan Haji Mengalir ke Pembelian Rumah, Mobil hingga Ruko








