Akurat Logo

Ganti Presiden, Negara Ini Berkhianat ke Palestina dan Dukung Israel

Lufaefi | 29 Juli 2026, 07:10 WIB
Ganti Presiden, Negara Ini Berkhianat ke Palestina dan Dukung Israel
Perang di Gaza Palestina (Ilustrasi AI)

AKURAT.CO Presiden terpilih Kolombia Abelardo de la Espriella berencana memulihkan hubungan diplomatik penuh dengan Israel setelah resmi dilantik pada 7 Agustus 2026. Pemerintahan baru Kolombia juga akan menghentikan rencana pembukaan kedutaan besar di Palestina dan berencana memindahkan kedutaan untuk Israel ke Yerusalem.

Rencana tersebut menjadi perubahan besar dari kebijakan luar negeri Presiden Gustavo Petro yang selama ini dikenal mendukung perjuangan Palestina. Petro sebelumnya memutus hubungan diplomatik Kolombia dengan Israel pada Mei 2024 sebagai bentuk protes terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza.

De la Espriella menyatakan misi diplomatik Kolombia di Palestina tidak pernah beroperasi secara efektif. Karena itu, pembukaannya akan ditangguhkan sebagai bagian dari restrukturisasi jaringan diplomatik Kolombia.

Baca Juga: Wanita Palestina Kehilangan Janin Setelah Ambulans Ditahan Tentara Israel

Sebagai gantinya, pemerintahan baru berencana membuka kedutaan besar Kolombia untuk Israel di Yerusalem. Rencana tersebut menjadi salah satu perubahan penting dalam arah kebijakan luar negeri Kolombia di kawasan Timur Tengah.

Calon Menteri Luar Negeri Kolombia, Omar Bola Escobar, sebelumnya telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar di Washington. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas pemulihan hubungan diplomatik setelah pemerintahan baru Kolombia mulai berkuasa.

Kolombia dan Israel juga disebut berencana kembali menukar duta besar, memperluas kerja sama perdagangan dan keamanan, serta menghapus persyaratan visa bagi warga kedua negara.

Rencana pemindahan kedutaan Kolombia ke Yerusalem menuai kontroversi karena status kota tersebut masih menjadi sengketa internasional. Langkah itu dinilai bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 478 yang menyerukan negara-negara untuk tidak mengakui perubahan status Yerusalem yang dilakukan Israel.

Perubahan kebijakan tersebut sekaligus dinilai sebagai kemunduran bagi posisi diplomatik Kolombia yang selama pemerintahan Petro secara terbuka mendukung Palestina. Namun, sejumlah pengamat menilai warisan politik Petro terkait isu Palestina telah memengaruhi opini publik di Kolombia dan tidak mudah dihapus hanya melalui perubahan kebijakan pemerintah.

Baca Juga: Warga Palestina di Israel Dilaporkan Dilarang Berbicara Bahasa Arab di Tempat Kerja

Dengan kebijakan pemerintahan baru, Kolombia diperkirakan kembali mendekat kepada Israel dan Amerika Serikat. Perubahan tersebut menandai pergeseran signifikan dalam orientasi politik luar negeri Kolombia setelah beberapa tahun mengambil posisi yang lebih kritis terhadap kebijakan Israel di Palestina.

Sumber: CNBC.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi