Akurat Logo

Harm Reduction Jadi Alternatif Pendekatan Penanganan Ketergantungan

Yosi Winosa | 28 Oktober 2026, 23:22 WIB
Harm Reduction Jadi Alternatif Pendekatan Penanganan Ketergantungan
Ilustrasi buang puntung rokok. - iStock

AKURAT.CO Penanganan ketergantungan atau adiksi masih menghadapi tantangan dalam memastikan setiap individu mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kondisi dan kesiapan mereka untuk pulih.

Salah satu tantangannya adalah pendekatan yang cenderung mengukur keberhasilan pemulihan berdasarkan satu indikator, yakni abstinensi atau berhenti sepenuhnya dari penggunaan zat maupun perilaku yang menyebabkan ketergantungan.

Hal ini menjadi tantangan sebab proses pemulihan tidak selalu berlangsung secara linear. Ketergantungan, gejala putus zat, kondisi psikologis, keterbatasan layanan kesehatan hingga faktor lingkungan dapat menjadi hambatan bagi seseorang dalam pemulihan adiksi.

Baca Juga: Bea Cukai Temukan Serbuk Emas dalam Kapsul, Begini Modusnya

Ketika berhenti menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, individu yang belum berhasil berhenti berisiko kehilangan motivasi, mudah kembali pada kebiasaan lama, atau bahkan berhenti berusaha sama sekali.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di RSU Jati Husada Karanganyar, dr. Zulhilmi Bramantyo Mardiawan, Sp.KJ, atau yang akrab disapa dr. Itok, mengatakan bahwa kondisi tersebut menuntut pendekatan yang lebih fleksibel menyesuaikan pada kebutuhan dan kondisi masing-masing individu.

Dalam praktik klinis, tidak semua individu yang mengalami adiksi berada pada tahap yang sama dalam proses pemulihan. Oleh karena itu, harm reduction dapat menjadi salah satu pendekatan yang patut dipertimbangkan.

"Pendekatan ini berfokus pada upaya mengurangi dampak negatif secara fisik, sosial, maupun ekonomi akibat ketergantungan, terutama ketika individu tersebut belum mampu atau belum bersedia berhenti sepenuhnya,” ungkap dr. Itok di sela lokakarya Hot Topics Around Harm Reduction of Addiction in Asia and Other Countries pada Asia-Pacific Society of Harm Reduction and Addiction (ASHRA) 2026.

Ia menekankan kemajuan yang dicapai individu dalam mengurangi risiko dan memperbaiki kualitas hidup juga perlu dihargai sebagai keberhasilan dalam proses pemulihan tanpa mengesampingkan tujuan jangka panjang.

“Pertanyaan bagi kita sebagai psikiater dan tenaga kesehatan bukanlah apakah seseorang sudah berhenti total, melainkan apakah kondisinya hari ini lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

Menurut dr. Itok, harm reduction tidak diposisikan sebagai pengganti abstinensi. Keduanya dapat saling melengkapi dalam strategi penanganan terpadu, dengan mempertimbangkan kondisi klinis, tingkat risiko, dan kesiapan setiap individu.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.