Harm Reduction Jadi Alternatif Pendekatan Penanganan Ketergantungan

AKURAT.CO Penanganan ketergantungan atau adiksi masih menghadapi tantangan dalam memastikan setiap individu mendapatkan dukungan yang sesuai dengan kondisi dan kesiapan mereka untuk pulih.
Salah satu tantangannya adalah pendekatan yang cenderung mengukur keberhasilan pemulihan berdasarkan satu indikator, yakni abstinensi atau berhenti sepenuhnya dari penggunaan zat maupun perilaku yang menyebabkan ketergantungan.
Hal ini menjadi tantangan sebab proses pemulihan tidak selalu berlangsung secara linear. Ketergantungan, gejala putus zat, kondisi psikologis, keterbatasan layanan kesehatan hingga faktor lingkungan dapat menjadi hambatan bagi seseorang dalam pemulihan adiksi.
Baca Juga: Bea Cukai Temukan Serbuk Emas dalam Kapsul, Begini Modusnya
Ketika berhenti menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, individu yang belum berhasil berhenti berisiko kehilangan motivasi, mudah kembali pada kebiasaan lama, atau bahkan berhenti berusaha sama sekali.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di RSU Jati Husada Karanganyar, dr. Zulhilmi Bramantyo Mardiawan, Sp.KJ, atau yang akrab disapa dr. Itok, mengatakan bahwa kondisi tersebut menuntut pendekatan yang lebih fleksibel menyesuaikan pada kebutuhan dan kondisi masing-masing individu.
Dalam praktik klinis, tidak semua individu yang mengalami adiksi berada pada tahap yang sama dalam proses pemulihan. Oleh karena itu, harm reduction dapat menjadi salah satu pendekatan yang patut dipertimbangkan.
"Pendekatan ini berfokus pada upaya mengurangi dampak negatif secara fisik, sosial, maupun ekonomi akibat ketergantungan, terutama ketika individu tersebut belum mampu atau belum bersedia berhenti sepenuhnya,” ungkap dr. Itok di sela lokakarya Hot Topics Around Harm Reduction of Addiction in Asia and Other Countries pada Asia-Pacific Society of Harm Reduction and Addiction (ASHRA) 2026.
Ia menekankan kemajuan yang dicapai individu dalam mengurangi risiko dan memperbaiki kualitas hidup juga perlu dihargai sebagai keberhasilan dalam proses pemulihan tanpa mengesampingkan tujuan jangka panjang.
“Pertanyaan bagi kita sebagai psikiater dan tenaga kesehatan bukanlah apakah seseorang sudah berhenti total, melainkan apakah kondisinya hari ini lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Menurut dr. Itok, harm reduction tidak diposisikan sebagai pengganti abstinensi. Keduanya dapat saling melengkapi dalam strategi penanganan terpadu, dengan mempertimbangkan kondisi klinis, tingkat risiko, dan kesiapan setiap individu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok






