Pakar Ragu AS dan Iran Bersepakat untuk Damai

AKURAT.CO Wacana perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih menyisakan tanda tanya. Meski sejumlah pejabat Iran mengklaim proses menuju kesepakatan damai telah memasuki tahap akhir, pakar hukum internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menilai belum ada jaminan bahwa kedua negara benar-benar akan mencapai perdamaian dalam waktu dekat.
Keraguan tersebut muncul setelah Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Teheran telah mencapai kesepahaman atas sebagian besar isu yang dibahas dengan Washington. Namun, menurut Hikmahanto, pernyataan tersebut belum dapat dijadikan indikator bahwa kesepakatan damai benar-benar telah tercapai.
"Berita tersebut kemungkinan dari pihak Iran, yang oleh Trump dikatakan tidak benar. Kalau benar sih, bagus sekali buat Iran," ujar Hikmahanto kepada wartawan, Minggu (14/6/2026).
Baca Juga: Iran Sebut Ada Pihak yang Berupaya Menggagalkan Kesepakatan Damai dengan AS
Ia menilai hingga saat ini belum terdapat dokumen resmi yang disepakati bersama oleh kedua negara. Menurutnya, baik Iran maupun AS masih memainkan strategi politik masing-masing dalam menyampaikan informasi kepada publik.
"Jadi saat ini belum ada dokumen yang disepakati oleh kedua belah pihak. Iran sepertinya main kartu seperti Trump. Mengklaim saja sepihak biar nanti dibantah," katanya.
Hikmahanto juga menilai sulit memprediksi kapan konflik antara kedua negara dapat benar-benar berakhir. Ia bahkan memperkirakan perang bisa terus berlangsung tanpa titik penyelesaian yang jelas.
"Nah ini sulit diperkirakan. Bisa jadi tidak ada titik temu. Jadi mereka akan mengambangkan perang," katanya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa usulan memorandum kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat akan menjadi dasar berakhirnya konflik yang selama ini berlangsung di berbagai kawasan.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, IRIB, Araghchi menyebut dokumen yang dikenal sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad itu akan menandai berakhirnya perang secara resmi.
"Berakhirnya perang akan diumumkan di semua front, termasuk Lebanon," katanya.
Menurut Araghchi, memorandum tersebut memuat sejumlah komitmen penting, antara lain larangan memulai perang baru, tidak mengancam penggunaan kekerasan, serta tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing negara.
Ia juga menegaskan bahwa dokumen tersebut mencakup penghormatan terhadap kedaulatan kedua negara yang selama puluhan tahun berada dalam hubungan penuh ketegangan.
"Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran," kata Araghchi.
Meski demikian, hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai penandatanganan kesepakatan damai tersebut. Pemerintah AS juga belum mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi isi memorandum sebagaimana disampaikan oleh pihak Iran.
Baca Juga: Trump Sebut AS-Iran Teken Perjanjian Damai Hari Ini
Konflik AS-Iran sendiri telah berlangsung selama beberapa dekade dan kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir. Berbagai upaya diplomatik telah dilakukan untuk meredakan ketegangan, namun sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran dan keamanan kawasan Timur Tengah, masih menjadi ganjalan utama dalam proses negosiasi.
Pernyataan berbeda yang muncul dari kedua belah pihak membuat masa depan hubungan Washington dan Teheran masih belum sepenuhnya jelas. Para pengamat menilai perkembangan beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah kedua negara benar-benar memasuki babak baru perdamaian atau justru kembali terjebak dalam ketegangan yang berkepanjangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








