Pakar Sebut Amerika Kalah atas Iran dalam Strategi Perang

AKURAT.CO Seorang pakar militer menilai Amerika Serikat mengalami kekalahan secara strategis dalam dinamika konflik dengan Iran, terutama akibat kebijakan tekanan ekonomi dan blokade yang dinilai tidak efektif.
Analis dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menyebut tekanan ekonomi yang diberikan selama puluhan tahun tidak mampu menjatuhkan Iran.
“Iran telah berada di bawah berbagai tekanan ekonomi dan sanksi selama 47 tahun. Tidak satu pun dari tekanan tersebut berhasil menghancurkan Iran atau memaksa mereka untuk menyerah,” ujarnya kepada Al Jazeera, Minggu (3/5/2026).
Menurut Parsi, kondisi konflik saat ini berpotensi terus berlanjut, namun justru membawa dampak yang semakin buruk, tidak hanya bagi kedua negara tetapi juga negara lain.
Baca Juga: Subsidi Jaga Harga BBM Tak Naik, Misbakhun: Bentuk Nyata Kehadiran Negara untuk Rakyat
Ia mencontohkan Kuwait yang disebut tidak mengekspor minyak selama sebulan penuh, situasi yang jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Ia juga menilai tekanan dari kekuatan global seperti China dapat mendorong kedua pihak kembali ke jalur diplomasi sebagai solusi yang lebih rasional.
Lebih jauh, Parsi menegaskan posisi Amerika Serikat secara strategis telah melemah.
“Amerika Serikat pada dasarnya telah kalah secara strategis, dan ini menunjukkan bahwa Iran mampu melakukan hal yang sama terhadap Amerika Serikat seperti yang dilakukan Ukraina terhadap Rusia,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait efektivitas dan kredibilitas payung keamanan Amerika di mata dunia.
Parsi juga mengkritik kebijakan blokade yang dilakukan Washington terhadap Iran. Ia menilai langkah tersebut justru menjadi bumerang dan menghambat upaya diplomasi.
“Blokade tersebut tidak ada hubungannya dengan kehadiran Iran di meja perundingan. Jika ada, blokade tersebut lebih menghambat kemajuan diplomatik daripada hal lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebelumnya Amerika Serikat sempat berada pada posisi lebih menguntungkan ketika berhasil mendorong gencatan senjata. Namun kebijakan lanjutan justru memperburuk situasi, termasuk berdampak pada kenaikan harga minyak global.
Baca Juga: Trump: Hancurkan Iran Habis-Habisan atau Buat Kesepakatan
“Harga minyak sekarang lebih tinggi selama gencatan senjata daripada selama perang itu sendiri. Semua indikator ekonomi ini menunjukkan bahwa blokade memperburuk situasi bagi Trump,” kata Parsi.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa pendekatan militer dan tekanan ekonomi belum tentu menghasilkan keunggulan strategis, bahkan berisiko merugikan posisi Amerika Serikat dalam konflik berkepanjangan dengan Iran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 7Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 8Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 9KPK Geledah Kantor Bela Parahiyangan Investindo, Terkait Suap Kementerian ATR/BPN
- 10Kejagung Limpahkan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana ke JPU, Dakwaan Disiapkan




