NASA Ungkap Kota Meksiko Ambles Cepat, Lebih dari 20 Juta Warga Terancam
AKURAT.CO Lebih dari 20 juta penduduk Mexico City kini hidup di atas tanah yang terus ambles. Data terbaru dari NASA menunjukkan sebagian wilayah kota itu turun lebih dari 1 cm setiap bulan, memperparah kerusakan infrastruktur.
NASA merilis citra satelit terbaru dari misi NISAR satellite mission yang mengungkap laju penurunan tanah di ibu kota Meksiko. Data yang dikumpulkan antara Oktober 2025 hingga Januari 2026 menunjukkan penurunan terjadi secara konsisten dan semakin meluas.
Dampaknya tidak kecil. Penurunan bertahap ini telah menyebabkan retakan pada jalan, bangunan, hingga jaringan pipa air di berbagai wilayah kota.
Peneliti yang telah mempelajari fenomena ini selama lebih dari dua dekade, Dora Carreón-Freyre, menyebut wilayah Iztapalapa sebagai salah satu yang paling parah terdampak.
“Rumah yang berdiri di atas batu vulkanik relatif stabil, tetapi yang berada di antara batu dan dataran bekas danau sebagian besar sudah retak,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan insiden ekstrem pada 2017, ketika sebuah taksi jatuh ke dalam retakan tanah.
Selama ini, para ilmuwan hanya mengandalkan data tahunan untuk memantau penurunan tanah. Namun, kehadiran satelit NISAR mengubah segalanya.
Menurut ilmuwan NISAR, David Bekaert, teknologi radar ganda pada satelit ini memungkinkan pemantauan pergerakan tanah hampir secara real-time setiap 12 hari.
“Ini memungkinkan kami membuat rangkaian data pergerakan tanah dari waktu ke waktu dengan lebih detail,” kata Bekaert.
Fenomena Lama yang Kian Parah
Penurunan tanah di Mexico City sebenarnya bukan hal baru. Fenomena ini telah tercatat selama lebih dari satu abad.
Pada akhir 1800-an, kota ini sudah mengalami penurunan sekitar 5 cm per tahun. Angka itu melonjak drastis menjadi hampir 45 cm per tahun pada 1950-an.
Para ilmuwan menyebut penyebab utama adalah eksploitasi air tanah dari akuifer bekas danau purba yang menjadi fondasi kota. Saat air dipompa keluar, tanah di atasnya mengempis dan mengeras secara permanen.
Akibatnya, permukaan tanah turun tidak merata. Dalam satu abad terakhir, beberapa wilayah kota bahkan telah kehilangan ketinggian hingga 9 meter, sementara area terparah tercatat ambles hingga lebih dari 38 meter.
Ancaman Global
Satelit NISAR yang diluncurkan bersama Indian Space Research Organisation pada Juli 2025 kini membuka peluang pemantauan kota-kota lain di dunia.
Bekaert menyebut teknologi ini penting untuk memetakan wilayah pesisir yang rentan, tempat sebagian besar populasi dunia tinggal.
Carreón-Freyre menambahkan ancaman serupa juga terjadi di negara lain, seperti Filipina, di mana penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut terjadi bersamaan.
“Di sana kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tanah bisa turun hingga 30 cm per tahun,” ujarnya.
Dengan kemampuan pemantauan global ini, para ilmuwan berharap mitigasi bisa dilakukan lebih cepat sebelum dampaknya semakin luas.
Sumber: ABC
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November








