Akurat Logo

Begini Cara China dan Rusia Bantu Iran Melihat Medan Pertempuran Lawan AS-Israel

Lufaefi | 15 Maret 2026, 10:11 WIB
Begini Cara China dan Rusia Bantu Iran Melihat Medan Pertempuran Lawan AS-Israel
Rusia dan China Bantu Iran dalam Perang (istimewa)

AKURAT.CO Rusia dan China disebut memainkan peran penting dalam membantu Iran meningkatkan kemampuan pengintaian dan peperangan elektroniknya di tengah eskalasi perang AS-Israel terhadap Teheran.

Dalam artikel opini yang diterbitkan Al Jazeera pada 12 Maret 2026, analis dan jurnalis Jasim Al-Azzawi menulis bahwa konflik di Teluk kini memasuki fase perang sinyal, di mana dominasi ditentukan oleh radar, satelit, dan intelijen elektronik.

“Di Teluk saat ini, medan perang adalah spektrum elektromagnetik, dan kedua belah pihak berjuang, di atas segalanya, untuk membutakan pihak lain,” tulis Al-Azzawi.

Tiga pejabat senior Amerika mengatakan kepada The Washington Post bahwa Rusia telah memberikan intelijen sensitif kepada Iran, termasuk lokasi kapal perang dan pesawat AS di Timur Tengah.

Baca Juga: Kantor Perdana Menteri Israel Bantah Berita Netanyahu Tewas

Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan membantah tuduhan tersebut dalam percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump. Namun, Al-Azzawi menilai bantahan itu tidak mengubah realitas di lapangan.

“Intelijen adalah mata uang. Putin hanya menggunakannya,” tulisnya.

Menurut artikel tersebut, Rusia memiliki jaringan satelit pengawasan yang jauh lebih maju dibandingkan Iran. Satelit seperti Kanopus-V—yang dioperasikan Iran dengan nama Khayyam—memberikan citra optik dan radar sepanjang waktu untuk membantu Teheran melacak pergerakan aset militer lawan.

Selain Rusia, China juga disebut berkontribusi dalam memperkuat sistem peperangan elektronik Iran. Beijing dilaporkan membantu transisi navigasi militer Iran dari GPS Amerika ke sistem satelit BeiDou.

China juga memasok radar anti-siluman YLC-8B, yang menggunakan gelombang frekuensi rendah untuk mendeteksi pesawat siluman.

Al-Azzawi mengutip mantan perwira CIA Bruce Riedel yang menyatakan, “Dalam peperangan modern, koordinat seringkali lebih berharga daripada peluru. Siapa pun yang tahu di mana musuh berada akan menang.”

Laporan itu juga menyebut Iran mendekati kesepakatan untuk memperoleh rudal antikapal supersonik CM-302, yang disebut analis militer sebagai “carrier killer” karena kecepatannya dan kemampuan terbang rendah di atas permukaan laut.

Baca Juga: Bantu Iran, Yaman Akan Tutup Jalur Strategis Selat Bab el-Mandeb

Di sisi lain, AS dan Israel disebut telah menghancurkan sejumlah infrastruktur radar Iran pada fase awal operasi militer mereka. Operasi tersebut dinamai “Roaring Lion” dan “Epic Fury”, menurut artikel itu.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naeini, mengklaim Iran telah menghancurkan hampir 10 sistem radar canggih AS di kawasan. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, ketika ditanya mengenai dugaan bantuan intelijen Rusia kepada Iran dalam wawancara dengan program 60 Minutes, menjawab singkat, “We’re tracking everything.”

Al-Azzawi menilai dominasi teknologi AS-Israel di Teluk tidak hilang, tetapi mulai terkikis oleh transfer teknologi China dan pertukaran intelijen Rusia.

“Rusia dan China tidak mengirimkan divisi untuk membantu Teheran. Mereka melakukan sesuatu yang lebih abadi: mereka mengajari Iran cara melihat,” tulisnya.

Baca Juga: Jalur Laut Strategis

Artikel tersebut menyimpulkan bahwa perang di kawasan kini bukan hanya soal jumlah rudal atau kapal induk, melainkan soal siapa yang mampu menguasai spektrum elektromagnetik dan mempertahankan keunggulan informasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi