Akurat Logo

Serangan Garda Revolusi Islam Makin Ganas, Trump dan Netanyahu Mulai Beda Sikap Hadapi Iran

Lufaefi | 10 Maret 2026, 11:38 WIB
Serangan Garda Revolusi Islam Makin Ganas, Trump dan Netanyahu Mulai Beda Sikap Hadapi Iran
Benjamin Netanyahu dan Donald Trump

AKURAT.CO Sepuluh hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran, mulai terlihat perbedaan sikap di antara dua sekutu tersebut.

Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan politik dalam negeri, sementara di Israel dukungan terhadap perang justru menguat.

Dengan harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran di pasar energi global, Trump mengatakan kepada media, Senin (9/3/2025), bahwa perang hampir berakhir.

Pernyataan itu kontras dengan komitmen awal bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melanjutkan operasi selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Baca Juga: Perang Melebar, Pakar Rusia Sebut AS-Israel Mulai Kehilangan Kendali Hadapi Iran

Perbedaan ini juga tercermin dalam opini publik. Sejumlah jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas tipis warga Amerika menentang aksi militer terhadap Iran.

Sebaliknya, di Israel, serangan terhadap Teheran didukung luas oleh publik yang melihatnya sebagai langkah strategis melawan ancaman jangka panjang.

Michael Singh, Direktur Pelaksana Washington Institute for Near East Policy, menilai tujuan AS dan Israel memang serupa, tetapi tidak identik.

“AS mungkin tidak terlalu berminat untuk terlibat dalam konflik berkepanjangan. Kami bisa berkemas dan pulang, sedangkan Israel tidak bisa,” ujarnya, menekankan perbedaan posisi geografis dan strategis kedua negara.

Menurut Singh, Israel menginginkan Iran dilemahkan secara permanen, sebuah pendekatan yang selama ini juga diterapkan terhadap ancaman regional lainnya.

Sementara itu, Washington dinilai memiliki prioritas global lain yang membuat keterlibatan jangka panjang di Timur Tengah menjadi beban politik dan militer.

Ketegangan politik di dalam negeri AS juga meningkat. Sejumlah tokoh Partai Demokrat mengkritik Trump karena dinilai terlalu jauh mengikuti agenda Israel dalam konflik regional. Di sisi lain, sebagian anggota Partai Republik tetap memberikan dukungan kuat terhadap kebijakan Gedung Putih.

Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah AS yang kini menjadi peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, mengatakan pengaruh Trump terhadap Netanyahu saat ini sangat besar, terutama menjelang pemilu Israel.

“Ketika Donald Trump mengatakan berhenti, ini akan berhenti, terlepas dari apakah Israel merasa misinya sudah tercapai atau belum,” katanya.

Baca Juga: Inggris Tak Akan Terlibat Perang Melawan Iran, Irlandia Kutuk Agresi AS-Israel

Di lapangan, eskalasi terus berlanjut. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone, sementara ketegangan di Selat Hormuz mendorong lonjakan harga energi dunia.

Situasi ini meningkatkan tekanan terhadap Trump, mengingat harga bahan bakar merupakan isu sensitif dalam politik domestik AS.

Perbedaan kepentingan strategis, tekanan politik internal, dan dampak ekonomi global membuat aliansi AS-Israel dalam perang melawan Iran menghadapi dinamika yang semakin kompleks.

Meski tetap berdiri di sisi yang sama, arah dan durasi konflik kini menjadi sumber perdebatan terbuka di antara kedua sekutu tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi