Akurat

Iran Akhirnya Buka Data Resmi: 3.117 Orang Tewas dalam Aksi Protes

Kumoro Damarjati | 22 Januari 2026, 14:38 WIB
Iran Akhirnya Buka Data Resmi: 3.117 Orang Tewas dalam Aksi Protes

AKURAT.CO Televisi pemerintah Iran pada Rabu (21/1) untuk pertama kalinya merilis angka resmi korban tewas dalam gelombang demonstrasi terbaru di negara itu. Pemerintah menyebut sedikitnya 3.117 orang meninggal dunia dalam aksi protes yang berujung pada penindakan keras aparat keamanan.

Dalam laporan yang mengutip pernyataan Kementerian Dalam Negeri dan Yayasan Martir—lembaga resmi yang menangani keluarga korban perang—disebutkan bahwa 2.427 korban tewas merupakan warga sipil dan aparat keamanan. Namun, otoritas tidak merinci identitas atau status korban lainnya.

Angka tersebut berbeda dengan data yang disampaikan Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga pemantau berbasis di Amerika Serikat, yang mencatat sedikitnya 4.560 orang tewas. HRANA selama ini dikenal mengandalkan jaringan aktivis di dalam Iran untuk memverifikasi setiap laporan kematian. Associated Press menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen jumlah korban tersebut.

Di tengah situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat. Ia memperingatkan bahwa Teheran akan membalas “dengan seluruh kekuatan yang dimiliki” jika Iran kembali diserang. Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam sebuah artikel opini yang dimuat The Wall Street Journal.

Araghchi menegaskan fase kekerasan dalam unjuk rasa berlangsung kurang dari 72 jam dan kembali menyalahkan demonstran bersenjata atas terjadinya korban jiwa. Namun, sejumlah video yang beredar meski akses internet dibatasi menunjukkan aparat keamanan menggunakan peluru tajam terhadap pengunjuk rasa yang tampak tidak bersenjata, hal yang tidak disinggung dalam pernyataannya.

“Berbeda dengan sikap menahan diri Iran pada Juni 2025, angkatan bersenjata kami tidak akan ragu membalas dengan seluruh kemampuan jika kembali diserang,” tulis Araghchi, merujuk pada perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu. Ia menambahkan bahwa konflik terbuka akan meluas dan berdampak luas, termasuk bagi masyarakat global.

Pernyataan tersebut muncul di tengah pergerakan militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah. Data pelacakan kapal menunjukkan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perusak bergerak ke arah barat dari Asia menuju Samudra Hindia. Seorang pejabat Angkatan Laut AS mengatakan kelompok kapal induk itu tengah menuju kawasan tersebut, meski tidak secara eksplisit menyebut Timur Tengah sebagai tujuan akhir.

Citra militer AS yang dirilis baru-baru ini juga memperlihatkan kedatangan jet tempur F-15E Strike Eagle serta pemindahan sistem peluncur roket HIMARS di kawasan Timur Tengah. Sejumlah pembatasan perjalanan juga diberlakukan terhadap diplomat AS di Kuwait dan Qatar.

Gelombang demonstrasi yang dimulai pada 28 Desember lalu disebut sebagai yang paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir, bahkan mengingatkan pada kekacauan saat Revolusi Iran 1979. Meski aksi protes telah mereda dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran akan bertambahnya jumlah korban masih muncul, seiring terbatasnya informasi akibat pemadaman internet yang diberlakukan sejak 8 Januari.

Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengakui bahwa “beberapa ribu” orang tewas dalam protes tersebut dan menyalahkan Amerika Serikat. Demonstrasi awalnya dipicu tekanan ekonomi, sebelum berkembang menjadi penolakan terhadap sistem pemerintahan teokratis.

Kementerian Dalam Negeri Iran menuding “teroris” menggunakan amunisi tajam yang menyebabkan ribuan korban jiwa, sementara Yayasan Martir menyatakan Iran akan memburu kelompok yang diklaim terkait Israel dan didukung Amerika Serikat.

HRANA juga melaporkan hampir 26.500 orang telah ditangkap. Pernyataan sejumlah pejabat memicu kekhawatiran sebagian tahanan dapat dijatuhi hukuman mati, mengingat Iran termasuk negara dengan tingkat eksekusi tertinggi di dunia.

Di sisi lain, kelompok bersenjata Kurdi Iran, Partai Kebebasan Kurdistan (PAK), mengklaim Iran melancarkan serangan terhadap salah satu basis mereka di dekat Irbil, Irak utara. Serangan tersebut disebut menewaskan satu anggota. Pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas klaim itu.

Sejumlah kelompok Kurdi Iran memang telah lama bermarkas di wilayah otonomi Kurdistan Irak, yang kerap menjadi sumber ketegangan antara Teheran dan Baghdad. PAK mengklaim telah melakukan serangan di wilayah Iran selama penindakan terhadap demonstrasi berlangsung, klaim yang juga dilaporkan oleh sejumlah media semi-resmi Iran.


 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.