Akurat

Trump Ancam Kuba: Buat Kesepakatan Sebelum Terlambat!

Kumoro Damarjati | 12 Januari 2026, 09:28 WIB
Trump Ancam Kuba: Buat Kesepakatan Sebelum Terlambat!

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Kuba harus segera mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat atau bersiap menghadapi tekanan ekonomi yang lebih berat. Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah berkurangnya akses Kuba terhadap pasokan minyak dari Venezuela, Minggu (11/1).

Melalui akun media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat kini akan melindungi Venezuela dan tidak lagi membiarkan aliran minyak maupun dana mengalir ke Kuba.

“Venezuela sekarang memiliki Amerika Serikat, militer paling kuat di dunia (jauh lebih kuat dari siapa pun), untuk melindungi mereka, dan kami akan melindungi mereka. TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG MENGALIR KE KUBA – NOL! Saya sangat menyarankan mereka untuk membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT,” tulis Trump.

Pernyataan keras tersebut menyusul komentar Trump sebelumnya pada 4 Januari lalu. Saat itu, Trump menyebut pemerintah Kuba berpotensi runtuh tanpa adanya intervensi langsung dari Amerika Serikat, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika.

Trump juga membagikan ulang unggahan seorang pengguna Truth Social yang menyarankan agar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang merupakan keturunan Kuba-Amerika, menjadi presiden Kuba. Menanggapi unggahan tersebut, Trump menulis singkat, “Kedengarannya bagus bagi saya.”

Marco Rubio sendiri dikenal vokal dalam mengkritik kondisi politik dan ekonomi Kuba, terutama setelah perubahan besar yang terjadi di Venezuela. Ia menyatakan bahwa Havana kini berada dalam “masalah serius” dan para pemimpinnya memiliki alasan kuat untuk merasa khawatir.

Sementara itu, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel memberikan respons tegas terhadap pernyataan Trump. Melalui unggahan di platform X pada Minggu, Díaz-Canel menegaskan bahwa Kuba adalah negara yang merdeka dan berdaulat.

“Kuba adalah negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat. Tidak ada siapa pun yang mendikte apa yang kami lakukan. Kuba tidak menyerang siapa pun; justru Kuba telah diserang oleh Amerika Serikat selama 66 tahun, dan Kuba tidak mengancam, tetapi bersiap mempertahankan tanah air hingga tetes darah terakhir,” tulis Díaz-Canel.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat pada Jumat lalu kembali menyita sebuah kapal tanker minyak di Laut Karibia bernama Olina. Penyitaan tersebut merupakan bagian dari upaya Washington untuk mengendalikan distribusi minyak Venezuela yang ditujukan ke sejumlah negara di kawasan, termasuk Kuba.

Komando Selatan Amerika Serikat (U.S. Southern Command) menyatakan bahwa pihaknya tetap teguh menjalankan misi tersebut.

“Kami tidak akan goyah dalam misi untuk melindungi tanah air dengan menghentikan aktivitas ilegal dan memulihkan keamanan di Belahan Barat,” tulis U.S. Southern Command melalui akun X.

Langkah-langkah ini mempertegas eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Kuba, yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut di tengah berkurangnya pasokan energi dari Venezuela.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.