Akurat

Eurovision 2026 Terancam Ricuh, Gelombang Boikot terhadap Israel Makin Besar

Kumoro Damarjati | 8 Desember 2025, 06:42 WIB
Eurovision 2026 Terancam Ricuh, Gelombang Boikot terhadap Israel Makin Besar


AKURAT.CO Kontroversi Eurovision 2026 semakin mencuat setelah empat negara resmi mengumumkan boikot atas partisipasi Israel dalam ajang musik terbesar di dunia itu. Gelombang boikot Eurovision 2026 tersebut mulai memicu perdebatan publik karena dianggap bertentangan dengan semangat persatuan yang selama ini menjadi ciri khas kompetisi.

Keputusan European Broadcasting Union (EBU) untuk tetap mengizinkan Israel berpartisipasi dalam Eurovision 2026 diumumkan setelah pertemuan di markas besar EBU di Jenewa. Dalam rapat tersebut, anggota EBU memutuskan bahwa tidak diperlukan pemungutan suara terkait partisipasi Israel dalam edisi ke-70 Eurovision yang akan digelar di Wina tahun depan.

Tak lama setelah keputusan itu diumumkan, stasiun penyiaran publik di Spanyol, Irlandia, Belanda, dan Slovenia menyatakan secara resmi akan melakukan boikot Eurovision 2026. Negara lain seperti Islandia disebut masih mempertimbangkan langkah serupa.

Boikot ini muncul setelah meningkatnya penolakan terhadap perang berkepanjangan di Gaza, serta dugaan manipulasi sistem televoting untuk menguntungkan Israel. Pada Eurovision 2025 di Basel, kontestan Israel berhasil meraih posisi kedua berkat dukungan besar dari publik.

Penyiar publik Spanyol, RTVE, menilai Israel telah menggunakan Eurovision untuk tujuan politik, sehingga sulit mempertahankan ajang tersebut sebagai acara budaya yang netral. Presiden RTVE, Jose Pablo Lopez, bahkan menyebut Eurovision kini “bukan lagi kompetisi lagu, tetapi festival yang dipengaruhi kepentingan geopolitik.”

Pada 2025, sebanyak 37 negara ikut serta, dan kemenangan diraih oleh penyanyi opera Austria JJ dengan lagu Wasted Love. Namun Direktur Eurovision, Martin Green, memperkirakan jumlah peserta Eurovision 2026 akan turun menjadi sekitar 35 negara.

Ia mengungkapkan bahwa “sekitar lima negara sangat tegas menolak partisipasi Israel,” tetapi berharap negara-negara yang memboikot dapat kembali bergabung pada 2027.

Sementara itu, Direktur penyiar tuan rumah Austria, ORF, menyebut ada setidaknya tiga penyiar baru yang berminat bergabung tahun depan. Perdana Menteri Irlandia, Micheál Martin, mendukung keputusan boikot negaranya sebagai bentuk solidaritas terhadap jurnalis Gaza yang terbunuh selama perang.

Sebaliknya, Belgia memutuskan tetap ikut serta, meski mengirimkan pesan keras mengenai kebebasan pers. Menteri Media Belgia, Jacqueline Galant, menegaskan bahwa budaya harus tetap menjadi jembatan, “terutama ketika para politisi gagal menjalankan peran itu.”

Meski sejumlah negara besar seperti Spanyol mundur, Inggris, Prancis, dan Jerman tetap menyatakan dukungan penuh terhadap Eurovision 2026. Pemerintah Inggris menekankan bahwa acara itu adalah “perayaan musik dan budaya yang apolitis.”

Di Tel Aviv, warga lokal Yovel Naim mengaku tidak terkejut dengan kontroversi tersebut. “Eurovision memang dikatakan soal musik, tapi pada akhirnya selalu sangat politis,” ujarnya.

Namun ia menambahkan, “Saya tetap terkejut karena mereka memilih untuk tidak mengeluarkan kami.”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.