Akurat

Banjir di Asia Menewaskan Lebih dari 1.000 Orang

Kumoro Damarjati | 1 Desember 2025, 21:12 WIB
Banjir di Asia Menewaskan Lebih dari 1.000 Orang


AKURAT.CO Banjir besar di Asia kembali menjadi perhatian dunia. Ribuan rumah hancur, ratusan korban jiwa ditemukan, dan banyak warga kehilangan akses ke makanan, listrik, serta bantuan medis. Tahun ini, kawasan Asia menghadapi salah satu banjir dan tanah longsor paling mematikan dalam dua dekade terakhir—dengan total korban meninggal melampaui 1.000 orang.

Namun dari berbagai wilayah terdampak, tragedi di Myanmar menjadi salah satu yang paling memilukan karena terjadi di tengah ketidakstabilan politik, minimnya akses kemanusiaan, dan lemahnya kesiapsiagaan negara menghadapi bencana.

Myanmar: Bencana Alam di Tengah Krisis Politik

Myanmar saat ini menghadapi kondisi terburuk. Curah hujan ekstrem membuat banjir meluas ke daerah permukiman, merendam rumah melebihi dua meter dan memaksa warga bertahan berhari-hari di atap bangunan. Ribuan warga terjebak tanpa bantuan, sementara akses evakuasi terhambat konflik internal dan kontrol ketat militer terhadap wilayah terdampak.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa bencana alam bukan hanya persoalan cuaca, tetapi juga kesiapan negara dan stabilitas politik dalam melindungi warganya. Banyak organisasi kemanusiaan internasional bahkan kesulitan menembus wilayah terdampak.

Sri Lanka: Jumlah Korban Bertambah, Militer Turun Tangan

Sementara itu di Sri Lanka, banjir dipicu oleh Siklon Ditwah yang membawa hujan deras berkepanjangan ke pusat dan bagian barat negara tersebut. Pemerintah Sri Lanka mengonfirmasi setidaknya 340 korban jiwa, dan angka itu diperkirakan terus meningkat karena masih banyak warga yang belum ditemukan.

Militer Sri Lanka dikerahkan untuk mengevakuasi penduduk menggunakan helikopter, terutama di wilayah yang terisolasi akibat tanah longsor dan jalan yang rusak. Meski air mulai surut di Colombo, ibu kota Sri Lanka, proses pemulihan baru saja dimulai. Banyak warga kini menghadapi lumpur tebal, rumah rusak total, serta ancaman penyakit pasca-banjir.

Presiden Sri Lanka menyebut bencana ini sebagai yang terbesar sejak tsunami 2004, dan menyerukan bantuan internasional untuk pemulihan nasional.

Thailand dan Malaysia: Publik Mulai Kritik Pemerintah

Thailand juga menghadapi dampak besar dari curah hujan ekstrem, dengan 176 korban jiwa tercatat. Meski hujan mulai mereda, kritik publik terhadap lambatnya respons pemerintah semakin keras. Bahkan dua pejabat daerah telah diskors karena dianggap gagal menangani mitigasi dan evakuasi awal.

Di Malaysia, banjir meluas di wilayah Perlis, menewaskan dua orang dan menyebabkan ratusan warga mengungsi. Banyak rumah, fasilitas publik, dan jalan raya masih terendam.

Para pakar lingkungan memperingatkan bahwa pola cuaca ekstrem ini bukan fenomena satu kali. Perubahan iklim telah memperkuat sistem badai, meningkatkan volume curah hujan, dan memperpanjang musim monsun.

Indonesia: Krisis Memburuk, Pemerintah Didesak Tetapkan Darurat Nasional

Sementara itu, Indonesia kini turut masuk dalam daftar negara terdampak banjir Asia dengan skala kerusakan besar. Di Sumatra—khususnya Aceh dan Sumatera Utara—banjir dan tanah longsor telah menyebabkan lebih dari 502 korban jiwa, sementara ratusan lainnya masih hilang.

Presiden Prabowo Subianto meninjau daerah terdampak dan menyatakan bahwa “fase terburuk semoga telah berlalu.” Meski begitu, banyak pihak mendesak pemerintah menetapkan status darurat nasional karena akses transportasi rusak, ratusan desa masih terisolasi, dan distribusi bantuan dinilai belum optimal.

Pemerintah telah mengerahkan tiga kapal perang dan dua kapal rumah sakit untuk mengirim bantuan, namun tantangan logistik tetap besar. Di pos pengungsian, banyak warga kehilangan seluruh harta benda hanya dalam hitungan jam. Salah satu penyintas, Misbahul Munir, hanya bisa menangis karena rumahnya hancur total dan ia hanya menyisakan pakaian yang dikenakannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.