Suriah Fokus Pulihkan Ekonomi Lewat Investasi dan Reformasi Pajak

AKURAT.CO Pemerintah Suriah sedang berupaya menarik investasi asing dan memperkuat sektor swasta untuk mempercepat pemulihan ekonomi setelah lebih dari satu dekade konflik. Langkah ini menjadi fokus utama Menteri Keuangan Suriah, Yisr Barnieh, dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia baru-baru ini.
Barnieh mengatakan, Suriah membutuhkan dana rekonstruksi hingga puluhan miliar dolar untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur. Ia juga menegaskan bahwa negaranya tetap membuka diri terhadap kerja sama ekonomi internasional, meski masih menghadapi sanksi dari sejumlah negara Barat.
Upaya Reformasi dan Pemulihan Ekonomi
Dalam paparannya, Barnieh menyebut reformasi ekonomi Suriah akan menitikberatkan pada perluasan sektor swasta, penyederhanaan sistem pajak, serta penguatan lembaga keuangan negara. Pemerintah juga berencana mengurangi subsidi yang luas dan menggantinya dengan bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.
Menurut Barnieh, sekitar satu juta pengungsi Suriah telah kembali ke tanah air sejak awal tahun, yang dianggap sebagai tanda stabilisasi dan kepercayaan yang mulai pulih. Ia menggambarkan suasana optimisme itu sebagai bukti bahwa perekonomian Suriah mulai bangkit perlahan.
Dana Pembangunan dan Kolaborasi Internasional
Untuk mendukung rekonstruksi, pemerintah berencana membentuk Dana Pembangunan Suriah, yang akan fokus pada pembiayaan proyek infrastruktur seperti jalan, listrik, dan perumahan. Suriah juga tengah menjajaki kerja sama dengan Bank Dunia untuk membentuk dana perwalian (trust fund) yang memungkinkan partisipasi donor internasional.
Barnieh menegaskan bahwa pemerintah ingin menjadikan Suriah sebagai bagian penting dari pertumbuhan ekonomi regional dengan memperkuat perdagangan dan proyek stabilisasi kawasan.
Sanksi dan Harapan Keringanan
Meski sebagian sanksi internasional disebut mulai dilonggarkan, Barnieh berharap sanksi dari Undang-Undang Caesar yang dijatuhkan Amerika Serikat dapat dicabut sepenuhnya pada akhir tahun ini.
Ia juga menyebut pemerintah Suriah telah berdialog dengan regulator keuangan AS mengenai upaya pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme. Pemerintah optimistis Suriah akan segera keluar dari daftar pemantauan Gugus Tugas Aksi Keuangan (FATF) setelah reformasi sistem keuangan diterapkan bersama IMF dan Departemen Keuangan AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan
- 10Indonesia dan Mesir Tegaskan Solusi Dua Negara Kunci Perdamaian Palestina






