Restu AS, Hamas membunuh 32 Anggota ‘Geng’ di Kota Gaza

AKURAT.CO Setelah perang panjang melawan Israel, Hamas kini berupaya menegaskan kembali kekuasaannya di Jalur Gaza. Sejak gencatan senjata diberlakukan, kelompok tersebut mulai mengerahkan pasukan ke jalan-jalan dan menindak kelompok bersenjata yang menantang otoritasnya.
Menurut dua sumber keamanan di Gaza, pengerahan pasukan dilakukan secara bertahap sejak Jumat lalu. Hamas bergerak dengan hati-hati, khawatir gencatan senjata dapat sewaktu-waktu runtuh. Tindakan keras ini menewaskan puluhan orang dan menjadi sinyal bahwa Hamas tidak ingin kehilangan kendali atas wilayah tersebut.
Operasi Militer dan Tantangan Politik
Pada Senin (13/10), sayap militer Hamas, Brigade Qassam, dikerahkan untuk membebaskan sandera terakhir yang masih hidup setelah dua tahun ditahan. Aksi ini menjadi simbol kembalinya kekuatan Hamas di lapangan dan sekaligus tantangan bagi upaya perdamaian yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump.
Dalam rekaman yang diperoleh Reuters, puluhan pejuang Hamas terlihat berbaris di sebuah rumah sakit di Gaza selatan. Salah satu di antaranya mengenakan tanda “Unit Bayangan” — satuan elit yang bertugas menjaga para sandera.
Rencana Perdamaian Trump dan Sinyal Restu AS
Rencana perdamaian pemerintahan Trump memperkirakan bahwa Gaza akan dikelola oleh komite Palestina di bawah pengawasan internasional, sementara Hamas harus kehilangan kekuasaan dan melucuti senjatanya.
Namun, dalam kunjungannya ke Timur Tengah, Trump mengisyaratkan bahwa Washington memberi “lampu hijau sementara” bagi Hamas untuk mengawasi Gaza.
“Mereka ingin menghentikan kekacauan, dan kami telah memberi mereka persetujuan untuk sementara waktu,” ujar Trump, menanggapi laporan bahwa Hamas mulai menertibkan pesaingnya dan membentuk pasukan kepolisian sendiri.
Hamas Tegaskan Tidak Akan Serahkan Senjata
Kepala Kantor Media Pemerintah Hamas, Ismail Al-Thawabta, mengatakan kelompoknya tidak akan membiarkan kekosongan keamanan di Gaza. Ia menegaskan bahwa Hamas akan menjaga keamanan publik dan melindungi harta masyarakat.
Hamas juga menolak wacana pelucutan senjata. Kelompok itu menyatakan hanya akan menyerahkan persenjataan kepada negara Palestina yang berdaulat di masa depan. Meski mengklaim tidak berambisi memimpin pemerintahan Gaza, Hamas menekankan bahwa keputusan tersebut harus diambil oleh rakyat Palestina tanpa campur tangan asing.
Bentrokan Internal: Tantangan dari Klan dan Kelompok Bersenjata
Pasca gencatan senjata, Hamas menghadapi perlawanan dari sejumlah kelompok dan klan bersenjata yang menolak dominasinya. Sumber keamanan Gaza menyebut sedikitnya 32 orang tewas dalam bentrokan antara Hamas dan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan salah satu keluarga besar di Kota Gaza. Enam anggota Hamas juga turut tewas dalam bentrokan tersebut.
Bentrokan terbesar terjadi antara Hamas dan anggota klan Doghmosh, yang disebut-sebut mendapat dukungan dari Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengaku telah mempersenjatai beberapa klan anti-Hamas, meski tanpa menyebut nama secara spesifik.
Tokoh-Tokoh Anti-Hamas dan Perebutan Pengaruh
Di Rafah, muncul sosok Yasser Abu Shabab, pemimpin kelompok bersenjata anti-Hamas yang paling menonjol. Kelompoknya disebut berhasil merekrut ratusan pejuang dengan iming-iming gaji tinggi. Hamas menuduhnya bekerja sama dengan Israel, namun Abu Shabab membantah tuduhan tersebut.
Menurut sumber keamanan Gaza, pasukan Hamas telah menewaskan “tangan kanan” Abu Shabab dan kini sedang memburunya secara intensif.
Sementara itu, di Khan Younis, tokoh anti-Hamas lainnya, Hussam Al-Astal, dalam sebuah video menyindir kelompok tersebut. Ia menilai bahwa setelah menyerahkan para sandera, peran Hamas di Gaza akan segera berakhir.
Analisis: Upaya Hamas Pertahankan Peran Politik
Menurut analis politik Palestina, Reham Owda, langkah Hamas saat ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa mereka masih memiliki pengaruh dan mampu menjaga keamanan Gaza.
“Hamas ingin memastikan aparat keamanannya tetap menjadi bagian dari pemerintahan Gaza ke depan, meski hal itu kemungkinan besar akan ditolak oleh Israel,” ujarnya.
Owda menilai tindakan keras Hamas terhadap kelompok-kelompok pesaing juga merupakan pesan politik — bahwa Hamas masih menjadi kekuatan dominan di Gaza, meski kekuatannya melemah akibat perang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









