Manila Tegang dengan Tiongkok di Laut Cina Selatan, AS Tegaskan Dukungan untuk Filipina

AKURAT.CO Amerika Serikat menyatakan dukungannya kepada Filipina setelah terjadinya bentrokan antara kapal Tiongkok dan Filipina di Laut Cina Selatan yang disengketakan. Washington juga menegaskan kembali komitmennya terhadap Perjanjian Pertahanan Bersama kedua negara di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengecam tindakan kapal penjaga pantai Tiongkok yang menabrak dan menembakkan meriam air ke kapal Filipina. Ia menyebut insiden itu sebagai tindakan berbahaya yang mengancam stabilitas kawasan.
“Amerika Serikat berdiri bersama sekutunya, Filipina, dalam menghadapi tindakan provokatif Tiongkok yang merusak stabilitas regional,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Pigott juga menegaskan kembali isi Pasal IV Perjanjian Pertahanan Bersama Filipina-AS tahun 1951, yang menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap angkatan bersenjata, kapal umum, atau pesawat udara Filipina – termasuk milik penjaga pantai – di mana pun di Laut Cina Selatan, akan memicu tanggapan sesuai perjanjian pertahanan tersebut.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyerukan agar Filipina menghentikan “pelanggaran dan provokasi” di wilayah sengketa. Dalam pernyataannya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, meminta Manila untuk tidak menentang upaya Beijing dalam menjaga “kedaulatan teritorial serta hak dan kepentingan maritim” di Laut Cina Selatan.
Insiden terbaru yang terjadi pada 12 Oktober di dekat Kepulauan Spratly, tepatnya di wilayah Sandy Cay, memperburuk hubungan kedua negara. Pemerintah Filipina menuduh kapal penjaga pantai Tiongkok menggunakan meriam air dan menabrakkan kapal mereka ke kapal Filipina yang sedang beroperasi di area tersebut.
Tiongkok dan Filipina telah berulang kali terlibat konfrontasi di Laut Cina Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Laut ini merupakan jalur perdagangan strategis dunia dengan nilai transaksi lebih dari US$3 triliun setiap tahun. Tiongkok mengklaim sebagian besar wilayah tersebut, sementara beberapa negara ASEAN, termasuk Filipina, menolak klaim itu dengan mengacu pada hukum laut internasional.
Ketegangan yang meningkat di kawasan ini kembali menempatkan Laut Cina Selatan sebagai titik panas geopolitik Asia, dengan Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk mendukung sekutunya dan menjaga kebebasan navigasi di wilayah tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 520 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 6Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya







