Akurat

AS Hentikan Bantuan Makanan, Ribuan Pengungsi Myanmar Kelaparan di Perbatasan Thailand

Kumoro Damarjati | 9 Oktober 2025, 21:16 WIB
AS Hentikan Bantuan Makanan, Ribuan Pengungsi Myanmar Kelaparan di Perbatasan Thailand

AKURAT.CO Lebih dari 100 ribu pengungsi Myanmar di kamp-kamp perbatasan Thailand kini menghadapi krisis kelaparan setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) menghentikan bantuan pangan dan bahan bakar masak. Pemotongan dana kemanusiaan ini membuat ribuan keluarga kehilangan sumber makanan, pekerjaan, dan harapan hidup.

Keputusan AS untuk memangkas anggaran bantuan luar negeri menyebabkan organisasi kemanusiaan seperti The Border Consortium menghentikan pasokan makanan untuk 85 persen penghuni kamp. Banyak pengungsi terpaksa mencari bahan makanan di hutan atau mengandalkan rebung dan ikan kecil untuk bertahan hidup.

“Tanpa bantuan, kami tidak punya apa-apa — tidak ada makanan, tidak ada obat-obatan, tidak ada kesempatan untuk hidup,” kata Mohammed Taher, salah satu pengungsi Rohingya di negara bagian Rakhine yang kehilangan anaknya karena kelaparan.

Dampak Kemanusiaan yang Parah

Pemotongan bantuan AS memicu efek domino di seluruh Myanmar dan wilayah perbatasan Thailand. Ribuan keluarga kini hanya makan sekali sehari, sementara anak-anak mengalami malnutrisi berat.
Direktur Program Pangan Dunia (WFP) untuk Myanmar, Michael Dunford, mengatakan beberapa ibu terpaksa membuat sup encer dari rumput demi memberi makan anak-anak mereka.

“Rasa putus asa dan hilangnya harapan sangat terasa,” ujarnya. “Seorang pria tua berkata, ‘Jika bantuan pangan berhenti, lebih baik jatuhkan bom pada kami karena kami tidak bisa bertahan seperti ini.’”

Berdasarkan laporan WFP, jumlah keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan pokok di wilayah Rakhine melonjak dari 33 persen pada akhir 2024 menjadi 57 persen pada April 2025.

Kematian Anak dan Kesaksian Menyedihkan

Mohammed Taher bukan satu-satunya yang kehilangan anak akibat pemotongan dana. Ia mengatakan, sejak bantuan berhenti, putranya yang berusia dua tahun meninggal karena kelaparan dan penyakit.

Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah adanya korban jiwa akibat kebijakan pemangkasan bantuan, dengan menyatakan “tidak ada anak yang meninggal di bawah pengawasan saya.”

“Itu kebohongan,” kata Taher. “Saya kehilangan putra saya karena pemotongan dana.”

Sejumlah laporan dari pengungsi dan pekerja kemanusiaan juga menyebut kasus serupa di berbagai kamp di Thailand dan Myanmar.

Pemotongan Dana di Tengah Krisis

Presiden AS Donald Trump membubarkan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) dan memangkas dana kemanusiaan global dengan alasan efisiensi. Padahal, USAID sebelumnya menjadi donor utama bagi program pangan, kesehatan, dan pendidikan di Myanmar.

Pemotongan ini juga membuat layanan medis berhenti beroperasi, rumah perlindungan ditutup, dan ribuan warga kehilangan pekerjaan, termasuk tenaga medis seperti Mahmud Karmar, yang kini harus mencari makan di hutan untuk keluarganya.

“Kami hampir mati,” kata Karmar. “Tidak ada apa pun untuk kami di sini.”

Situasi Makin Memburuk

Selain kelaparan, kekerasan dan pencurian meningkat di kamp-kamp pengungsi. Banyak orang putus asa mencuri makanan atau menjual hasil hutan demi bertahan hidup.

Sementara itu, anak-anak harus berhenti sekolah karena orang tua mereka tidak mampu membayar biaya atau membutuhkan mereka untuk mencari makan.

Program Pangan Dunia memperingatkan bahwa tanpa tambahan dana dari negara lain, pasokan bantuan hanya akan bertahan hingga akhir 2025. Setelah itu, jutaan pengungsi terancam mati kelaparan.

Tun Khin, Presiden Organisasi Rohingya Burma Inggris, menilai pemotongan bantuan AS memperburuk penderitaan warga Myanmar.

“Pemangkasan bantuan kemanusiaan ini membantu militer dalam kebijakan genosida mereka terhadap etnis Rohingya,” ujarnya.

Di tengah penderitaan, sebagian pengungsi masih berharap dunia internasional kembali memperhatikan mereka.

“Seluruh dunia telah melupakan rakyat Myanmar,” kata Karmar lirih. “Jika keadaan ini terus berlanjut, kita semua akan mati.”

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.