PM Inggris Keir Starmer Sebut Krisis Gaza sebagai “Kelaparan Buatan Manusia"

AKURAT.CO Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut kondisi di Gaza sebagai situasi “mengerikan” dan bahkan “kelaparan buatan manusia”. Pernyataan ini ia sampaikan di Parlemen Inggris pada Rabu (3/9), di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait sulitnya pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.
Starmer merespons pertanyaan dari pemimpin Partai Demokrat Liberal, Ed Davey, yang menyinggung “gambar-gambar mengerikan” dari Gaza. Davey bahkan mendesak agar Starmer menekan Presiden Amerika Serikat Donald Trump — yang menurutnya “satu-satunya orang di dunia” yang bisa menghentikan krisis — saat kunjungan kenegaraannya ke Inggris.
Starmer menjawab bahwa ia akan berbicara dengan semua pemimpin dunia mengenai masalah Gaza. Ia juga menyinggung Davey yang menolak undangan jamuan kenegaraan dengan Trump. “Tidak hadir bukanlah tindakan kepemimpinan,” ujarnya.
Kritik atas Blokade Bantuan
Dalam sesi yang sama, anggota parlemen Partai Buruh, Bell Ribeiro-Addy, bertanya tentang langkah pemerintah Inggris untuk melindungi warga negaranya yang ikut serta dalam Global Sumud Flotilla.
Menanggapi hal itu, Starmer menegaskan bahwa Israel telah menghalangi masuknya bantuan ke Gaza, yang menurutnya menyebabkan “kelaparan buatan manusia”.
“Kami sedang bekerja sama dengan negara-negara lain untuk mencari cara mengirimkan bantuan. Namun, jalur darat adalah satu-satunya cara yang efektif dan berkelanjutan. Israel harus mencabut pembatasan agar lembaga bantuan bisa menyalurkan pasokan penyelamat nyawa,” tegas Starmer.
Armada Aktivis Dicegat Israel
Sekitar 200 aktivis, politisi, dan seniman dari 44 negara berangkat dari Barcelona pada Minggu (31/8) setelah menggelar demonstrasi besar untuk mendukung misi kemanusiaan mereka. Namun, pemerintah Israel sudah menyiapkan rencana menghadapi armada ini, termasuk kemungkinan penahanan jangka panjang terhadap para aktivis.
Sebelumnya, pada Juni lalu, Israel juga menyita armada serupa yang membawa aktivis internasional, termasuk aktivis iklim Greta Thunberg. Para peserta akhirnya dideportasi setelah kapal mereka dicegat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








