Rumah Sakit Nasser Gaza Bantah Klaim Israel soal Serangan yang Tewaskan 20 Orang

AKURAT.CO Pihak Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan, membantah keras klaim militer Israel yang menyebut serangan udara mereka menargetkan fasilitas medis tersebut karena diyakini digunakan kelompok Hamas. Bantahan ini disampaikan setelah serangan mematikan menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk lima jurnalis yang tengah bertugas di lapangan.
Dalam pernyataannya, manajemen rumah sakit menegaskan bahwa mereka “menolak semua klaim yang dibuat otoritas Israel untuk membenarkan serangan terhadap fasilitas rumah sakit.” Pernyataan itu sekaligus menolak narasi Israel yang berulang kali menyebut rumah sakit di Gaza kerap dimanfaatkan kelompok militan untuk tujuan militer.
Militer Israel atau IDF sebelumnya mengklaim bahwa serangan beruntun ke Rumah Sakit Nasser diperintahkan karena adanya dugaan Hamas menggunakan kamera pengawas di area rumah sakit untuk memantau pergerakan pasukan Israel. IDF juga mengeklaim enam dari korban tewas adalah militan, meski tidak disertai bukti detail.
Pernyataan resmi dari Kepala Staf Umum Militer Israel bahkan mengakui ada sejumlah “celah” dalam penyelidikan awal, termasuk soal jenis amunisi yang digunakan untuk menghancurkan kamera. Meski begitu, mereka tetap menegaskan operasi militer di Gaza diarahkan hanya pada “target militer” dan tidak menjadikan jurnalis sebagai sasaran.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Serangan di rumah sakit terbesar di Gaza selatan itu merenggut nyawa lima pekerja media internasional, antara lain Mariam Dagga (33 tahun) dari Associated Press, juru kamera Mohammed Salama dari Al Jazeera, kontraktor Hussam al-Masri dan fotografer Moaz Abu Taha dari Reuters, serta pekerja lepas Ahmed Abu Aziz yang berkontribusi untuk Middle East Eye. Kehilangan mereka menambah panjang daftar jurnalis yang tewas sejak perang Israel–Hamas pecah hampir dua tahun lalu.
Tragedi ini langsung menuai kecaman internasional. Juru bicara Kantor HAM PBB, Thameen Al-Kheetan, menyebut pembunuhan jurnalis di Gaza “seharusnya mengejutkan dunia” dan menuntut adanya akuntabilitas serta keadilan, bukan sekadar diam dan membiarkan peristiwa berlalu.
Serangan di Rumah Sakit Nasser juga digambarkan sebagai pola “double tap”, yaitu serangan kedua yang diluncurkan setelah serangan pertama, sehingga mengenai warga sipil maupun tenaga medis yang bergegas menolong korban. Pola serangan ini sebelumnya tercatat dalam konflik di Suriah dan Ukraina.
Rumah sakit di Gaza, termasuk Nasser, telah berulang kali menjadi sasaran sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan ke Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera ratusan lainnya. Serangan balasan Israel sejak saat itu, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Bagi pihak rumah sakit, klaim Israel hanyalah upaya untuk mencari pembenaran atas serangan yang menimpa fasilitas kesehatan dan merenggut nyawa warga sipil serta jurnalis. Dengan nada tegas, mereka menolak narasi tersebut dan menegaskan serangan ke Rumah Sakit Nasser adalah pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








