Akurat Logo

Perang Tak Kunjung Usai, 1600 Tentara Israel Alami Gejala Stres dan Gangguan Mental

Shalli Syartiqa | 8 Januari 2024, 15:11 WIB
Perang Tak Kunjung Usai, 1600 Tentara Israel Alami Gejala Stres dan Gangguan Mental

AKURAT.CO Perang berkepanjangan dengan Palestina telah menyebabkan tingkat stres yang tinggi di kalangan Tentara Israel

Dikutip dari Times of Israel, tercatat bahwa sekitar 1.600 tentara mengalami gejala stres yang mengganggu kesehatan mental mereka.

Tentara menunjukkan tanda-tanda seperti detak jantung yang lebih cepat, keringat berlebih, gemetar tubuh, kebingungan, peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba, dan bahkan ketidakmampuan untuk bergerak.

"Gejalanya dapat muncul selama atau setelah aktivitas dan tentara dapat merasakan antara lain, detak jantung yang cepat, berkeringat, peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba, tubuh gemetar yang tidak terkendali, kebingungan dan ketidakmampuan untuk bergerak," lanjut laporan Times of Israel.

Dampak dari situasi ini membuat sekitar 250 tentara dihentikan dan ditarik dari tugas mereka.

Gejala stres mulai muncul sejak dimulainya pertempuran operasi darat di Jalur Gaza dua bulan yang lalu. 

Menurut laporan dari Walla, jika gejala tersebut berlanjut selama empat minggu, maka para tentara dapat mengalami gangguan stres pascatrauma yang parah.

Namun, mendapatkan pengobatan tampaknya menjadi tantangan berat, karena puluhan psikiater yang bekerja di Israel telah pergi ke Inggris.

Ketua Forum Direktur Pusat Kesehatan Mental Israel, Dr. Shmuel Hirschmann, mencatat kehilangan sekitar 400 psikiater.

Kondisi semakin memburuk karena sejumlah besar psikiater yang sebelumnya bekerja di sistem kesehatan mental Israel baru-baru ini pindah ke Inggris.

Baca Juga: Profil Saleh al-Arouri, Pemimpin Hamas yang Tewas karena Serangan Drone Tak Berawak Israel

 

 

 

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.