Drama Manajerial OpenAI sebagai Dialektika antara Idealisme dan Pragmatisme

Penulis artikel ini adalah Dr.rer.nat. Arli Aditya Parikesit, S.Si., M.Si. Penulis adalah Wakil Rektor bidang Riset dan Inovasi, dan Dosen Kajian Bioinformatika dari Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L).
Akurat.co- Sekarang, ChatGPT menjadi aplikasi chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sangat populer, dengan pengguna sekitar 100 juta orang di seluruh dunia. Aplikasi tersebut membuat developernya yaitu OpenAI dan CEO Sam Altman menjadi terkenal dan menjadi rujukan utama dalam diskusi apapun mengenai informatika dan komputer.
Namun, tanpa ada preseden apa-apa, pada tanggal 17 November 2023, Sam Altman dipecat sebagai CEO dari perusahaan yang didirikannya. Terjadi momen ‘boardroom coup d’etat’ ala Steve Jobs pada Altman, dan tak ada yang menduga hal ini sebelumnya. Apa yang terjadi? Mengapa di tengah keberhasilan Altman mendongkrak valuasi perusahaannya menjadi sekitar USD 100 milyar, justru dia dipecat? Mari kita analisis bersama-sama.
Eckhard Tolle, seorang spiritualis Jerman, berpendapat “Kesuksesan di masa depan bergantung dan tidak dapat dipisahkan dari kesadaran yang menjadi sumber tindakan”. Kesadaran akan pikiran, ucapan, dan tindakan seorang insan akan menentukan masa depan seperti apa yang akan diraih. Apakah berupa kesuksesan, atau kekacauan, semua berawal dari kesadaran masing-masing.
Nampak jelas bahwa dari sejak awal, sebagai organisasi riset, OpenAI secara sadar didesain untuk mengakomodasi dua faksi yang bertentangan. Ada dua ‘tangan’(arm) OpenAI yang beroperasi secara paralel, yaitu ‘OpenAI, Inc’ yang non-profit, dan memastikan supaya AI bermanfaat untuk kemanusiaan, dan aman. Namun riset tentu membutuhkan dana, sehingga ‘OpenAI Global, LLC’ bertugas untuk memastikan investasi dan pengembangan bisnis berjalan lancar.
Pada pondasi korporasi yang unik ini, Faksi idealisme dan pragmatisme harus bersatu dalam satu wadah, yang didesain dari awal demikian oleh foundernya. Kesadaran yang utopis bahwa faksi profit bisa membiayai riset yang non-profit, sehingga ‘everybody happy’, akhirnya menjadi distopia. Founder awal OpenAI, termasuk Elon Musk dan Altman sendiri, disatu sisi sangat sadar bahwa riset AI membutuhkan dana yang sangat besar untuk operasional sumber daya komputasi.
Mengembangkan aplikasi AI ‘mission-critical’, yang mengarah ke ‘Artificial General Intelligence’ (AGI) tidak cukup hanya berbekal laptop dan komputer biasa. Diperlukan superkomputer terbaik, dan sumber daya energi yang sangat masif. Oleh karena itu, Altman berhasil mengundang Microsoft untuk investasi ke perusahaan AI tersebut. Altman sendiri dikenal dekat dengan Satya Nadela, CEO Microsoft. Disisi lain, mereka juga sadar bahwa AI tidak bisa dilepas begitu saja tanpa bingkai etika penelitian yang baik. Berkaca dari pengembangan senjata pemusnah massal (WMD) kimia, nuklir, dan biologi, OpenAI secara sadar menjadikan ‘AI safety’ bagian dari visi-misi mereka.
Namun, pada akhirnya, ini menjadi suatu kesadaran yang sepenuhnya absurd. Sebab ketika perusahaan memiliki visi dan misi untuk menjadi ‘non-profit’, secara logika merupakan ‘contradictio in terminis’. Tidak mungkin suatu perusahaan ‘membakar’ uangnya untuk megaproyek tanpa tenggat waktu apapun, tanpa ada forecast profit kedepannya sama sekali. Menariknya, hukum perusahaan di Amerika Serikat, terutama negara bagian Delaware, memang dimungkinkan membangun korporasi non-profit.
OpenAI memang sebuah korporasi yang bervisi/misi sangat unik dan tidak biasa. Seharusnya jika visi dan misinya OpenAI lebih dominan berorientasi ‘non-profit’, menjadi yayasan saja seperti Ford, Gates, dan Rockefeller foundation. KPI mereka memang diarahkan ke pelayanan publik, bukan profit. Kesadaran untuk membangun visi-misi yang jelas dan tidak kontradiktif, memang syarat utama untuk membangun perusahaan, yayasan, atau badan penyelenggara yang sehat kedepannya.
Namun, jika OpenAI menjadi korporasi atau yayasan dalam definisi konvensional, drama manajerial yang terjadi pada tanggal 17 November tersebut tidak akan pernah terjadi. Sebab, apapun faksi dalam perusahaan tersebut, akan disatukan dengan visi-misi yang paling tidak bisa sinergistik. Jika kita membaca berbagai portal berita dari Amerika Serikat maupun Eropa Barat, seperti dari Wired, CNN, Business Insider, Skynews, dan Yahoo!, detail mengapa Altman dipecat sangatlah tidak jelas.
Dewan komisaris hanya merilis nota bahwa ‘Sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan CEO’. Berarti ada masalah komunikasi antara Altman dengan dewan komisaris. Sebenarnya tidak hanya Altman, tapi Presiden Komisaris OpenAI, yaitu Greg Brockman, juga resign. Banyak spekulasi di di dunia maya, seperti tuduhan yang tidak berdasar bahwa ‘Altman telah berbohong’. Namun, secara ideologis, banyak pengamat berpendapat bahwa sudah sangat jelas bahwa Altman dan Brockman merupakan bagian dari faksi profit atau pragmatis OpenAI, sementara anggota komisaris lainnya, yang mayoritas, adalah bagian faksi non-profit atau idealis. Karena mayoritas, faksi idealis sebenarnya hanya menunggu waktu yang tepat untuk menggeser faksi lawan.
Sayangnya, pemecatan Altman akhirnya menjadi blunder yang sangat fatal bagi faksi idealis. Mereka tidak sadar, bahwa ketika mereka memutuskan Altman dipecat, saat itu juga mereka tinggal menghitung hari sebagai komisaris. Mereka seakan seperti lupa, bahwa Microsoft, yang telah menginvestasikan sekitar USD 10 milyar ke OpenAI, dan memiliki 49% dari perusahaan tersebut, tidak akan tinggal diam melihat faksi pragmatis sekutu mereka digeser. Pada saat yang sama Altman dipecat, Microsoft langsung bergerak untuk mengamankan kepentingan mereka.
Satya Nadela bahkan berani memberi jaminan posisi di Microsoft kepada sekitar 700an pegawai OpenAI yang galau karena Altman resign. Nadela juga menjamin jika pintu sudah tertutup untuk kembali, Altman dan Brockman akan dihire Microsoft. Akhirnya, seperti bisa dibaca pada berbagai berita barat, Altman dan Brockman kembali lagi ke OpenAI, dan Altman yang bestienya Nadela kembali menjadi CEO.
Pemenang dari kekisruhan manajerial OpenAI ini sudah jelas, Microsoft sebagai pemodal terbesar, dan Satya Nadela sebagai CEO mereka. Akhirnya kendali Microsoft semakin kokoh di OpenAI, dan ‘direction’ perusahaan itu kemungkinan besar akan diarahkan untuk ‘profit driven’ seperti Microsoft. Itu wajar dan sah-sah saja. Satya Nadela akhirnya didapuk sebagai seorang ‘managerial strategic thinker’ nomor wahid, yang mampu mengendalikan salah satu start-up paling fenomenal di dunia IT.
Pengalaman panjang puluhan tahun Nadela yang awalnya menjadi pegawai sales Microsoft dari posisi sampai bawah, sampai sekarang menjadi CEO, sangat membantu dia dan timnya untuk menghadapi kekisruhan di OpenAI. Walaupun demikian, terlepas dari histori Microsoft yang banyak mengakuisisi berbagai Start-up sebelumnya, belum ada rencana dari Microsoft sejauh ini untuk mengakuisisi OpenAI.
Dewan Komisaris OpenAI yang lama sama sekali tidak bisa memprediksi, bahwa aksi mereka memecat Sam Altman justru semakin memperkuat dominasi Microsoft di start-up tersebut dan akhirnya malah memperkuat posisi Altman itu sendiri. Dalam perspektif manajerial, keputusan tergesa-gesa dewan komisaris tersebut bisa dibilang ‘ill-advised’, atau diambil tanpa mempertimbangkan keterbatasan maupun sumber daya mereka sendiri. Suatu ironi, mengingat OpenAI adalah perusahaan kecerdasan buatan, yang seharusnya pemangku kepentingannya bisa memprediksi masa depan perusahaannya lebih baik daripada seonggok mesin komputer.
Seharusnya dari awal dewan komisaris OpenAI sadar bahwa jabatan adalah amanah untuk menebar kebaikan, bukan untuk menebar kekacauan. Perlu diingat bahwa pejabat di korporasi atau dimanapun juga, keputusannya memiliki impact bagi banyak pihak. Keputusan yang diambil pada level komisaris maupun eksekutif seyogyanya mempertimbangkan kebaikan dan keuntungannya bagi semua pemangku kepentingan, bukan sekedar mempertimbangkan kepentingan kelompoknya ataupun sendiri.
Dalam kasus OpenAI, idealisme ‘non-profit’ komisaris, dan pragmatisme Altman bertabrakan. Namun karena Altman didukung penuh terutama oleh Microsoft, investor terbesar OpenAI, akhirnya justru posisi Altman semakin kokoh. Memang pada akhirnya siapapun yang membawa idealisme ‘non-profit’ pada korporasi harus membaca ulang, apa tujuan korporasi itu didirikan. Fundamental korporasi pada dasarnya adalah selalu pragmatis dan berorientasi profit. Mengubah visi-misi tersebut secara fundamental, menjadi seperti yayasan atau perkumpulan, hanya menanam ‘ranjau’ yang akan meledak di masa depan.
Aksi mencari untung maupun pragmatisme jangan selalu diartikan negatif. Sebab salah satu pilar pertumbuhan dan stabilitas ekonomi negara adidaya seperti China dan Amerika Serikat adalah korporasi. Mereka membuka lapangan kerja, mendorong kemitraan dengan pemerintah, dan yang terpenting adalah mendorong inovasi produk dan jasa termutakhir.
Disini kita perlu memberi catatan positif juga kepada Altman, yang dengan kepala dingin berhasil memediasi semua pemangku kepentingan OpenAI, meredam konflik manajerial tersebut, dan memberi kepastian pada pasar bahwa ‘they are here to stay!’. Namun, Altman dan timnya juga tidak bisa buru-buru menyatakan dirinya sebagai ‘pemenang’. Bukan berarti kecemasan mengenai keamanan AI maupun kemanusiaan berhenti disitu.
OpenAI tetap harus menghadapi regulator yang sangat skeptis dengan semua ‘hype’ mengenai AI. Sudah ada ‘Omnibus Law AI’ Uni Eropa yang sangat meregulasi aplikasi AI. ChatGPT sendiri pernah di Banned di Italia. Walaupun faksi idealis OpenAI secara de facto kalah dalam kekisruhan ini, bukan berarti keprihatinan mereka mengenai keamanan dan penyalahgunaan AI menjadi tidak valid. Beberapa minggu sebelum kisruh di OpenAI terjadi, PBB telah meratifikasi resolusi untuk meregulasi ‘autonomous weapon’ yang berbasis AI.
Ini merupakan preseden bahwa kekhawatiran akan penyalahgunaan AI adalah valid, dan disuarakan oleh mayoritas mutlak anggota majelis umum PBB yang memiliki kesadaran akan implikasi permasalahan ini terhadap umat manusia. Dewan komisaris OpenAI sudah sangat jelas akan membawa perusahaan tersebut semakin berorientasi profit, namun mereka tidak akan mungkin dapat menghindar dari ‘tangan’ regulator tingkat regional seperti Uni Eropa, juga tingkat dunia seperti PBB.
OpenAI pada akhirnya harus menghadapi perhitungan dari faksi idealisme juga, walaupun di luar perusahaan mereka. Mereka harus juga berkaca dari pengalaman Microsoft di era Bill Gates dahulu, ketika Jaksa Agung Amerika Serikat Janet Reno hampir berhasil mengalahkan perusahaan tersebut di pengadilan federal karena tuduhan monopoli.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 6India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 7Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan








