Akurat Logo

Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok

Fitra Iskandar | 10 Oktober 2026, 08:07 WIB
Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
Kesepakatan diesel Trump-Putin dicibir Zelensky: Kami dijadikan kedok

AKURAT.CO Rusia dan AS telah menyepakati perjanjian untuk memasok bahan bakar diesel Rusia ke pasar AS dan pasar global. Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada malam tanggal 9 Oktober setelah melakukan pembicaraan telepon dengan Vladimir Putin. Trump menyebut pembicaraan itu "sangat sukses." Putin menegaskan bahwa Rusia siap memasok minyak dan produk minyak bumi ke pasar AS dan pasar global.

AS menyatakan akan melonggarkan sanksi terhadap diesel Rusia. Departemen Keuangan AS telah menerbitkan izin sementara yang mengizinkan penjualan diesel Rusia di pasar global hingga 7 April 2027, meskipun terdapat sanksi AS. Sebelumnya, Washington sempat melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia untuk sementara waktu akibat krisis pasar yang dipicu oleh konflik antara AS dan Israel dengan Iran.

Rusia juga telah mulai mencabut pembatasan ekspor diesel, kata Wakil Perdana Menteri Alexander Novak. Sanksi dan larangan ekspor domestik membatasi ekspor minyak dan produk minyak bumi Rusia ke seluruh dunia.

Sebagai contoh, larangan ekspor diesel dan bahan bakar kapal oleh produsen masih berlaku hingga akhir Oktober. Rusia memberlakukan larangan tersebut di tengah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia dan krisis bahan bakar domestik yang disebabkan oleh serangan Ukraina selama musim panas.

Trump mengatakan kedua belah pihak menyepakati pengiriman "segera" lebih dari 300.000 metrik ton diesel Rusia. Rusia akan memasok tambahan 500.000 metrik ton pada bulan November, diikuti dengan tambahan satu juta metrik ton lagi. Novak mengatakan Rusia siap memasok diesel tambahan ke pasar AS paling cepat pada bulan Oktober. Ekspor juga diperkirakan akan meningkat pada bulan November dan Desember seiring kilang-kilang minyak kembali beroperasi setelah perbaikan.

Ukraina mengkritik kesepakatan diesel antara Moskow dan Washington tersebut. Presiden Volodymyr Zelensky menulis di media sosial bahwa setiap pelonggaran sanksi terhadap Rusia tanpa adanya kesepakatan mengenai de-eskalasi menunjukkan "kelemahan yang nyata."

“Memberikan hadiah kepada Putin tidak akan membawa perdamaian atau manfaat apa pun bagi dunia yang beradab. Rusia akan ‘membalas’ pasokan diesel tersebut dengan teror dan pengkhianatan lebih lanjut. Mengizinkan Rusia menjual produk minyak bumi sama saja dengan berinvestasi dalam perang yang seharusnya diakhiri, bukan diperpanjang. Yang dibutuhkan adalah de-eskalasi nyata dengan Rusia yang bersifat timbal balik,” ujarnya.

Kesepakatan ini muncul di tengah dimulainya kembali pembicaraan untuk mengakhiri perang. Delegasi Ukraina dilaporkan bertemu dengan negosiator AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Miami pada tanggal 9 dan 10 Oktober. Reuters melaporkan bahwa penasihat keamanan nasional dari Inggris, Prancis, dan Jerman, serta perwakilan NATO dan Uni Eropa, turut diundang dalam pembicaraan tersebut. Axios melaporkan bahwa para negosiator AS berencana memaparkan “gagasan dan usulan baru” kepada delegasi Ukraina, lalu mendiskusikannya dengan Rusia. Tidak ada rincian mengenai usulan tersebut yang diungkapkan.

“Menurut saya, tim kami hanya dijadikan kedok. Hal itu jelas tidak jujur, dan tentu bukan cara yang tepat untuk memperlakukan mitra,” kata Zelensky kepada wartawan setelah AS mengumumkan kesepakatan diesel tersebut.

Pihak berwenang Rusia meminta AS untuk mencabut sanksi sebagai bagian dari pembicaraan mengenai “gencatan senjata energi,” demikian ungkap sejumlah sumber kepada The Kyiv Independent menjelang kesepakatan diesel itu. Para pejabat di Kyiv menyatakan bahwa Ukraina siap menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia jika Rusia bersedia berhenti menyerang infrastruktur energi Ukraina.

Trump, yang berada di bawah tekanan akibat kenaikan harga bahan bakar di AS menjelang pemilihan paruh waktu Kongres, telah berulang kali mendesak Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas minyak Rusia. Ia menyebut serangan-serangan tersebut menyebabkan kelangkaan bahan bakar dan kenaikan harga secara global.

Putin menolak gagasan “gencatan senjata energi” dengan Kyiv pada tanggal 2 Oktober. Saat berbicara di forum Valdai, ia menyatakan bahwa penghentian serangan saja tidak akan menyelesaikan masalah tingginya harga diesel di AS maupun di seluruh dunia, kecuali jika sanksi terhadap Rusia dicabut.

Sumber: Metro

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.