Panik! Pengunjung IKEA Shanghai Berebutan Keluar Toko karena Mendadak Lockdown

AKURAT.CO Para pengunjung yang panik di Ikea cabang Shanghai, China, berebutan keluar dari toko pada Sabtu (13/8). Pasalnya, otoritas kesehatan kota itu tiba-tiba memerintahkan toko untuk ditutup setelah terlacak kontak dekat kasus Covid-19 di lokasi tersebut.
Dilansir dari CNN, sejumlah video di media sosial menunjukkan para pengunjung berteriak dan saling dorong agar bisa meloloskan diri dari toko sebelum pintu ditutup.
上海徐汇宜家要禁止出入配合流行病学调查,吓得顾客赶快逃亡。在病毒被消灭之前不要在中国逛商场,切记。 pic.twitter.com/dAWbpbln7v
— 方舟子 (@fangshimin) August 14, 2022
Dalam jumpa pers pada Minggu (14/8), Wakil Direktur Komisi Kesehatan Shanghai Zhao Dandan mengumumkan toko dan area yang terdampak akan dikenakan manajemen 'klaster tertutup' selama 2 hari. Dengan demikian, orang-orang di dalam klaster itu harus menjalani 2 hari karantina di fasilitas pemerintah dan 5 hari pengawasan kesehatan.
Pada Senin (15/8), otoritas kesehatan kota melaporkan 6 kasus Covid-19 yang ditularkan secara lokal di Shanghai. Lima di antaranya tak menunjukkan gejala.
Sementara itu, toko Ikea di distrik Xuhui, Shanghai, ditutup sementara pada Minggu (14/8) dan Senin (15/8) sesuai pedoman pencegahan epidemi dari otoritas. Toko itu akan dibuka kembali pada Selasa (16/8).
Shanghai, pusat keuangan China yang dihuni 25 juta orang, dikunci selama 2 bulan awal tahun ini. Akibatnya, timbul kemarahan publik yang meluas lantaran penduduk melaporkan kesulitan dalam memesan kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan dan obat-obatan.
Lockdown diberlakukan berdasarkan kebijakan 'nol Covid' China yang kaku. Mekanismenya meliputi tes massal, karantina ekstensif, bahkan pengurungan seluruh kota untuk membasmi kebangkitan virus.
Mengandalkan teknologi seluler dan basis data, pemerintah China menggunakan sistem 'kode kesehatan' berbasis warna untuk mengendalikan pergerakan masyarakat dan mengekang penyebaran virus. Masyarakat di China harus menunjukkan kode kesehatan hijau untuk naik transportasi umum dan memasuki tempat-tempat, termasuk pusat perbelanjaan, pusat kebugaran, dan restoran.
Sistem mencatat di mana mereka berada dan apakah mereka berkontak dengan kasus positif Covid-19. Jika kode kesehatannya berubah menjadi merah, mereka terancam dikurung di fasilitas karantina.
Lockdown mendadak pun menjadi hal biasa di China. Sebaliknya, masyarakat semakin frustasi dengan aturan ketat ini.
Pekan lalu, lebih dari 80 ribu wisatawan terkatung-katung di pulau resor populer Hainan setelah otoritas mengumumkan penguncian untuk membendung wabah virus. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK



