Akurat Logo

Penyintas Bom Hiroshima, Sunao Tsuboi Meninggal Dunia karena Anemia 

Bani Maryanto | 28 Oktober 2021, 10:15 WIB
Penyintas Bom Hiroshima, Sunao Tsuboi Meninggal Dunia karena Anemia 

AKURAT.CO  Penyintas bom atom Hiroshima sekaligus aktivis perlawanan senjata nuklir, Sunao Tsuboi, telah meninggal dunia. Tsuboi wafat pada usia 96 tahun. 

Berita kematian Tsuboi disampaikan oleh kelompok penyintas bom atom yang dipimpinnya, Nihon Hidankyo Rabu (27/10) waktu setempat. 

Kelompok advokasi itu menyebut Tsuboi meninggal usai mengalami detak jantung yang tidak teratur akibat anemia. Dikonfirmasi pula bahwa Tsuboi mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (24/10) di sebuah rumah sakit di Hiroshima.

Tsuboi berusia 20 tahun ketika Amerika Serikat (AS) menjatuhkan bom atom di kota kelahirannya pada 6 Agustus 1945. Itu menjadi serangan bom atom pertama yang pernah dilakukan umat manusia. 

Tsuboi sedang dalam perjalanan ke sekolah teknik ketika bom itu menghantam, menewaskan 140 ribu orang.

Tiga hari kemudian, bom nuklir kedua jatuh di Nagasaki, menewaskan 70 ribu orang lainnya. Jepang secara resmi menyerah pada 15 Agustus.

Saat tragedi mematikan itu terjadi, Tsuboi lari sekuat tenaga hingga tiga jam, dalam kondisi telanjang.

"Saya menderita luka bakar di sekujur tubuh saya. Dalam kondisi telanjang, saya mencoba melarikan diri selama sekitar tiga jam pada 6 Agustus tetapi akhirnya saya tidak bisa lagi berjalan," katanya kepada AFP pada tahun 2016.

 Twitter/@AJEnglish

Setelah lelah berlari, Tsuboi kemudian mengambil batu. Mengira akan tewas, ia lantas menulis di tanah dan mengukir tulisan 'Tsuboi mati di sini'. Setelahnya, ia langsung pingsan, dan baru bangun beberapa minggu kemudian.

Seperti diwartakan DW, Tsuboi sadar 40 hari setelah pengeboman, tetapi sangat lemah sehingga dia harus mulai merangkak. Sebagian telinganya hilang karena luka bakar. Kemudian, ia menderita kanker dan penyakit lainnya.

 Kyodo/picture alliance

Pengalamannya itu mengantarkan Tsuboi menjadi seorang advokat terkemuka bagi para penyintas bom atom. Misi hidupnya adalah 'Dunia Bebas Nuklir'. Melanjutkan hidup dengan mengajar matematika di sekolah-sekolah Jepang, Tsuboi kerap memberitahu siswanya tentang pengalamannya selama perang. Murid-muridnya menjulukinya 'Pak Pikadon' (Pak Bom Atom), lapor BBC.

"Saya bisa mentolerir kesulitan demi kebahagiaan manusia. Saya mungkin mati besok, tapi saya optimis. Saya tidak akan pernah menyerah. Kita tidak menginginkan senjata nuklir," kata Tsuboi memberi nasihat untuk para juru kampanye anti-nuklir.

Ada sekitar 127 ribu penyintas serangan bom nuklir Hiroshima dan Nagasaki yang masih hidup.

Tsuboi menjadi salah satu korban selamat yang bisa bertemu dengan Presiden AS Barack Obama dalam kunjungan bersejarahnya ke Hiroshima. Saat itu, Tsuboi memegang erat tangan Obama, presiden AS pertama yang mengunjungi Hiroshima. Dalam kebersamaannya, keduanya bahkan sempat berbagi tawa. Dalam wawancaranya, Tsuboi berkata: "Saya bisa menyampaikan pikiran saya."

Saat dunia meratapi kematian Tsuboi, juru kampanye anti senjata nuklir, Akira Kawasaki, mengatakan bahwa dunia perlu meneruskan perjuangannya melawan senjata nuklir. 

"Kita tidak hanya harus meratapi kematian seorang pemimpin besar untuk tujuan kita, tetapi kita juga harus melanjutkan jalannya, tidak terpengaruh, dan selalu ingat kata-katanya," kata Akira dari ICAN, Kampanye Internasional untuk Menghapuskan Senjata Nuklir.

Tsuboi meninggalkan dua putri dan seorang putra. Layanan pemakaman akan diadakan awal minggu, tetapi hanya dengan keluarga dekat, sejalan dengan keinginan Tsuboi untuk menjaga agar upacara tetap sederhana.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
E
Editor
Endarti