Zelensky Desak China Hentikan Dukungan ke Rusia dan Tekan Moskow Akhiri Perang

Z
AKURAT.CO Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak China menghentikan segala bentuk dukungan terhadap Rusia, termasuk pasokan senjata, mesin produksi militer, dan keberadaan tentara bayaran asal Negeri Tirai Bambu. Ia juga meminta Beijing menggunakan pengaruhnya untuk menekan Moskow agar mengakhiri perang yang telah berkecamuk sejak 2022.
Pernyataan tegas itu disampaikan Zelensky saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Belanda, David van Weel, di Kyiv, pada Rabu (29/10/2025). Menurut Zelensky, meski China sempat meyakinkan tidak akan menjual senjata kepada Rusia, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.
“Kami telah berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Xi Jinping, dan dia mengatakan bahwa China tidak akan menjual senjata kepada Rusia. Namun, situasi di lapangan membuktikan hal lain,” ujar Zelensky, dikutip dari Ukrinform.
Presiden Ukraina itu menuding China membantu Rusia dengan memasok mesin industri untuk produksi senjata dan membantu Moskow menghindari sanksi internasional. Ia juga menyebut adanya tentara bayaran asal China yang terlibat langsung di garis depan pertempuran.
“Kami melihat mesin dari China digunakan oleh Rusia untuk memperkuat industri militernya. Kami juga melihat upaya China membantu Moskow mengelabui sanksi internasional, bahkan mengirimkan tentara bayaran ke Ukraina,” katanya.
Zelensky berharap Beijing menahan diri dari segala bentuk dukungan yang dapat memperpanjang konflik serta mengambil peran aktif dalam mendorong gencatan senjata.
Isu keterlibatan China dalam perang Rusia-Ukraina juga menarik perhatian global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan membahas topik ini dalam pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan pada 30 Oktober, sebagai bagian dari tur diplomatiknya di Asia.
Sebelumnya, dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Trump menekankan bahwa Xi Jinping memiliki pengaruh besar terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin. Washington berencana meminta Beijing menghentikan pembelian minyak Rusia dan berperan lebih aktif dalam menekan Moskow.
Dengan meningkatnya ketegangan diplomatik ini, hubungan antara China, Rusia, dan negara-negara Barat diprediksi akan menjadi fokus utama dalam upaya global mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








