Akurat Logo

Pemerintah China Blokir Influencer yang Suka Pamer Harta dan Kemewahan, Cegah Pengaruh Buruk Bagi Remaja

Shalli Syartiqa | 30 Mei 2024, 14:01 WIB
Pemerintah China Blokir Influencer yang Suka Pamer Harta dan Kemewahan, Cegah Pengaruh Buruk Bagi Remaja

AKURAT.CO Pemerintah China telah memblokir influencer media sosial yang sering memamerkan kekayaan mereka sebagai bagian dari program Clear and Bright.

Dikutip dari New York Post, Kamis (30/5/2024), program ini bertujuan untuk menghapus konten yang dianggap tidak pantas dari media sosial, serta menindak influencer yang menciptakan citra mencolok dan sengaja memamerkan gaya hidup mewah.

Sementara itu, salah satu influencer yang terkena pemblokiran oleh pemerintah China adalah Wang Hongquan, seorang content creator yang dijuluki Kim Kardashian dari China.

Baca Juga: Apa Itu Pneumonia dan Penyebabnya? Penyakit yang Diidap Anak Zaskia Adya Mecca Hingga Masuk ICU

Dengan empat juta pengikut di Douyin, versi TikTok di China, Wang tidak dapat mengakses akun media sosialnya, pada Selasa (18/5/2204).

Biasanya, Wang mengunggah konten yang memamerkan pakaian desainer, penerbangan kelas satu, dan koleksi perhiasan giok.

Lebih lanjut, pemberitahuan Douyin menampilkan keterangan bahwa akun Wang diblokir karena melanggar pedoman komunitas.

Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa video-video Wang menghilang dari Douyin bulan ini bersama beberapa akun influencer mewah lainnya.

Di sisi lain, pemerintah China memberlakukan kebijakan pembatasan pamer harta karena materialisme dianggap telah menyebar luas dan berdampak negatif pada remaja.

Baca Juga: Sukses Hadirkan Pengalaman Konektivitas Digital Terdepan Selama Gelaran World Water Forum 2024 di Bali, Trafik Broadband Telkomsel Tumbuh 43%

Menanggapi pemblokiran tersebut, para ahli menduga bahwa pemerintah China sedang berusaha membangun kepekaan sosial di kalangan orang kaya yang sering memamerkan kekayaannya, terutama di tengah kondisi perekonomian negara yang sedang menurun.

 

 

 

“Sangat mungkin banyak orang melihat konten semacam ini sebagai sesuatu yang vulgar, terutama selama perlambatan ekonomi,” ungkap ahli kebijakan internet China di Universitas Leiden, Belanda, Carwyn Morris.

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.