Akurat Logo

Jejak Kebohongan Israel, Propaganda Informasi Demi Hancurkan Palestina

Deni Muhtarudin | 19 Oktober 2023, 16:23 WIB
Jejak Kebohongan Israel, Propaganda Informasi Demi Hancurkan Palestina

 

 

AKURAT.CO Israel terus melakukan berbagai upaya untuk memerangi Palestina, terutama di wilayah Gaza.

Tak hanya serangan militer yang kini telah menewaskan 3.478 warga Gaza, Israel juga menyebarkan kebohongan dengan melakukan propaganda informasi di media demi menyudutkan Gaza. 

Israel terus melakukan pembingkaian informasi yang menguntungkan dirinya sendiri terhadap konflik yang terjadi di wilayahnya dengan Gaza.

Mirisnya, media-media barat terutama di negara yang mendukung Israel, melanggengkan propaganda informasi yang dilakukan Israel ini.

Terbaru, Rumah Sakit Arab al-Ahli di Gaza dibom dan memakan korban tewas sebanyak 500 orang pada Selasa (17/10) pukul 19.30 waktu setempat.

Pelaku serangan ini pun sontak tertuju pada Israel yang telah melancarkan serangannya ke Gaza sejak 7 Oktober.

Baca Juga: Perang Israel Dan Palestina Sebabkan Ledakan Di Rumah Sakit Gaza, Siapa Dalang Di Baliknya?

Namun Israel enggan mengakui dirinya sebagai dalang di balik serangan rumah sakit tersebut. Alih-alih menunjukkan bukti untuk membela diri, Israel justru menuduh kelompok Jihad Islam Palestina (yang disebut Israel sebagai teroris) lah yang melakukan serangan tersebut. 

Klaim Israel itu dipercayai oleh sebagian orang yang membela Israel, namun banyak pula yang enggan mempercayai Israel.

Pasalnya, Israel sendirilah yang memunculkan skeptisisme terhadap klaim tidak bersalahnya itu.

Mulanya, Asisten Digital Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Hananya Naftali, mengunggah cuitan di X (Twitter) dengan mengatakan "Angkatan Udara Israel menyerang pangkalan teroris Hamas di dalam sebuah rumah sakit di Gaza," tulisnya. Namun tak lama cuitan itu dihapus.

Baca Juga: 5 Alasan Negara Tetangga Tak Bantu Hamas Melawan Israel, Ternyata Mereka Takutkan Hal Ini

Naftali kemudian meminta maaf karena membagikan laporan Reuters yang menyatakan Israel bersalah karena menyerang rumah sakit. Ia mengatakan telah menghapus cuitan tersebut.

"Karena (tentara Israel) tidak mengebom rumah sakit, saya berasumsi Israel menargetkan salah satu pangkalan Hamas di Gaza," katanya.

Tentara Israel juga menerbitkan unggahan yang mengatakan serangan di rumah sakit Gaza itu merupakan kesalahan Jihad Islam Palestina akibat rudal yang salah sasaran.

"Dari analisis sistem operasional (tentara Israel), serangan roket musuh dilakukan oleh Israel yang melewati sekitar rumah sakit ketika diserang," katanya.

Diketahui, unggahan tentara Israel itu telah diedit, di mana versi sebelumnya mereka menyertakan video yang diklaimnya sebagai bukti.

Tapi keakuratan video yang diunggah oleh tentara Israel itu dibantah oleh jurnalis di tim investigasi visual The New York Times, Aric Toler yang mengatakan stempel waktu pada rekaman itu terjadi 40 menit setelah waktu ledakan.

Bukti kebohongan Israel juga diperjelas dengan klaim Juru Bicara Benjamin Netanyahu, Tal Heinrich yang mengatakan "(Tentara Israel) tidak menargetkan rumah sakit".

Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa telah terjadi lebih dari 51 serangan di fasilitas kesehatan Gaza sejak konflik pertama pada 7 Oktober. 

Jejak kebohongan Israel sebenarnya sudah lama tercium, terutama sejak kematian jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh pada 2022. Mulanya Israel membantah telah membunuh jurnalis veteran Palestina-Amerika itu.

Namun setelah ada beberapa penyelidikan independen yang mengatakan hanya tentara Israel yang bisa membunuh Shireen, akhirnya Israel pun mengakuinya. 

Diketahui, Shireen tewas akibat tembakan di kepala oleh tentara Israel. Pada saat itu, Naftali Bennet yang menjabat sebagai Perdana Menteri Israel justru menuduh warga Palestina yang membunuh Shireen.

Baru-baru ini, dunia juga dihebohkan dengan berita pembunuhan 40 bayi dan wanita Yahudi yang diklaim dilakukan oleh kelompok pejuang Gaza, Hamas. Pemberitaan yang telah disebar media-media asing ternama itu mengatakan jika Hamas memenggal kepala bayi Yahudi.

Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, ikut termakan dengan berita pembunuhan itu. 

Pemberitaan yang pertama kali disebarkan oleh jurnalis Israel itu pun dinyatakan bohong atau hoaks karena tidak adanya bukti yang kuat.

Bahkan militer Israel sendiri tidak mampu mengonfirmasi kebenarannya.

Menanggapi kenyataan bahwa berita pembunuhan bayi itu bohong, pihak Gedung Putih pun menarik kembali pernyataan Joe Biden yang sebelumnya mengutuk tindakan Hamas. (Adinda Shafa Afriasti)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

D
W
Editor
Wahyu SK