Akurat

Menanti Presiden Baru Filipina, Putra Mantan Diktator Ferdinand Marcos Jadi Kandidat Terkuat

| 9 Mei 2022, 11:55 WIB
Menanti Presiden Baru Filipina, Putra Mantan Diktator Ferdinand Marcos Jadi Kandidat Terkuat

AKURAT.CO Pemungutan suara untuk memilih presiden baru Filipina telah dimulai pada Senin (9/5). Dukungan warga pun terpecah antara Ferdinand Marcos Jr dan Leni Robredo, dilansir dari Reuters.

Ferdinand Marcos Jr, putra mendiang diktator Marcos, merupakan mantan gubernur, anggota kongres, sekaligus senator yang jadi kandidat terdepan dengan 56 persen dukungan dalam jajak pendapat terbaru.

Setelah sang diktator digulingkan, keluarga Marcos baru kembali ke Filipina dari pengasingan pada 1991. Mereka lantas berusaha membangun kembali citranya yang ternoda oleh pemerintahannya yang kerap brutal dan penjarahan miliaran dolar dari kas negara.

Akrab dipanggil 'Bongbong', Marcos Jr memilih Sara Duterte-Carpio, putri Presiden Rodrigo Duterte, sebagai calon wakil presidennya. Menurut para analis, taktik ini membantu menaikkan popularitasnya. Namun, di Filipina, wakil presiden dipilih secara terpisah.

Marcos Jr sendiri populer di kalangan anak muda yang lahir setelah era pemerintahan ayahnya. Pria 64 tahun itu menjanjikan kepemimpinan yang menyatukan.

Menurut para pengamat, eksistensinya yang kuat di media sosial berhasil mendongkrak keunggulannya dalam jajak pendapat. Para kritikus pun menuding Marcos sedang mencoba menulis ulang sejarah kontroversial keluarganya untuk para pemilih muda.

Menyebut mendiang ayahnya sebagai politisi jenius, Marcos membantah klaim menyebarkan informasi yang salah.

Sementara itu, pesaingnya, Robredo merupakan pemimpin oposisi sekaligus satu-satunya kandidat perempuan. Saat ini, ia menjabat sebagai wakil presiden.

Pekan lalu, Robredo menantang Marcos untuk berdebat. Namun, Marcos menolaknya dengan dalih ia lebih suka berbicara langsung ke publik.

Robredo dan Marcos bisa dibilang sebagai 'musuh bebuyutan'. Afiliasi Robredo kuat dengan gerakan yang menggulingkan ayah Marcos setelah bertahun-tahun pemerintahan otoriter dan darurat militer. Mantan pengacara HAM tersebut juga menang tipis dari Marcos dalam kontes untuk menjadi wakil presiden pada 2016.

Robredo mundur dari jabatan menteri perumahan Duterte setelah dikucilkan dari rapat kabinet karena gigih mengkritik presiden. Ia mengecam perang Duterte melawan narkoba dengan menyebutnya 'pembunuhan tak masuk akal'. Wanita 57 tahun itu lantas diangkat sebagai 'tsar narkoba', tetapi dipecat 18 hari kemudian.

Dalam pemilihan presiden ini, Robredo mendesak transparansi sektor publik serta berjanji untuk memimpin pemerintah yang peduli pada rakyat dan mendukung sistem medis. Kemenangannya akan menjadikannya presiden wanita ketiga Filipina setelah Corazon Aquino pada 1986 dan Gloria Macapagal-Arroyo pada 2001.

Ia mencalonkan diri bersama Francis Pangilinan, seorang pengacara sekaligus senator, sebagai wakil presidennya. Survei terbaru menempatkannya di posisi kedua dengan dukungan 23 persen.

Sementara itu, kandidat lainnya, bintang tinju Pacquiao, bersumpah bakal memenjarakan pejabat yang korup dan mengkritik hubungan dekat Duterte dengan China. Pria 43 tahun ini juga berjanji untuk meningkatkan sistem perawatan kesehatan, memacu pertumbuhan ekonomi, dan menyediakan perumahan bagi warga miskin. Bersama Jose Atienza, seorang anggota kongres sekaligus mantan menteri lingkungan, Pacquiao berada di urutan ketiga dalam jajak pendapat dengan dukungan 7 persen.[]

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.