Pesta Diwali Buat Langit New Delhi Tertutup Kabut Beracun

AKURAT.CO, Perayaan Diwali atau Deepavali yang meriah di India akhirnya menyisakan kabut beracun yang menyelimuti langit Delhi. Pagi hari, usai perayaan festival cahaya, penduduk New Delhi harus terbangun dengan napas agak terengah-engah. Mereka harus menghirup udara tercemar paling berbahaya tahun ini, kata Reuters dalam laporannya.
Pagi itu, kabut dari asap sisa-sisa pembakaran kembang api hingga petasan yang dilarang membumbung tinggi, menyelimuti kota dan akhirnya menambah pencemaran udara.
New Delhi memiliki kualitas udara terburuk dari semua ibu kota dunia. Dengan standar yang sudah menyedihkan itu, pembacaan pada Jumat (5/11) menunjukkan kualitas udara yang sangat buruk. Orang-orang telah membayar harga untuk merayakan festival terbesar India dengan cara yang paling berisik dan berasap.
Dari skala 500, Indeks Kualitas Udara (AQI) melonjak menjadi 451- nilai maksimum yang tercatat tahun ini. Menurut panduan dewan pengendalian polusi federal, angka itu menunjukkan situasi 'parah' yang bisa memengaruhi warga sehat dan menambah serius kondisi orang sakit.
AQI mengukur konsentrasi partikel beracun PM2.5 dalam meter kubik udara. Di Delhi, sebuah kota berpenduduk hampir 20 juta orang, pembacaan PM2.5 pada hari Jumat rata-rata mencapai 706 mikrogram, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia menganggap apa pun di atas rata-rata tahunan 5 mikrogram sebagai tidak aman.
PM2.5 di udara dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular dan pernapasan seperti kanker paru-paru. Dan, di India, udara beracun membunuh lebih dari satu juta orang setiap tahun.
"Larangan petasan tampaknya tidak berhasil di Delhi, yang menyebabkan tingkat polusi berbahaya makin menambah sumber-sumber masalah yang ada," kata Sunil Dahiya, Analis dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA).
Setiap tahun, otoritas pemerintah atau Mahkamah Agung India memberlakukan larangan petasan. Namun larangan tersebut tampaknya jarang diterapkan.
Lebih buruk lagi, Diwali jatuh pada periode ketika para petani di negara bagian Punjab dan Haryana yang berdekatan di Delhi membakar jerami yang tersisa setelah panen untuk mempersiapkan ladang mereka untuk panen berikutnya.
Kebakaran tunggul menyumbang hingga 35 persen dari tingkat PM2.5 New Delhi, menurut data dari sistem pemantauan SAFAR, yang berada di bawah Kementerian Federal Ilmu Bumi India.
Langit cerah yang langka di bulan Oktober karena hujan dan angin yang berselang-seling telah membantu warga Delhi menghirup udara terbersih mereka setidaknya dalam empat tahun. Akan tetapi, selama bulan-bulan musim dingin tingkat polusi melonjak di India utara. Ini disebabkan suhu yang lebih rendah dan penurunan kecepatan angin cenderung akan menjebak polutan di udara lebih lama.
Muak dengan kurangnya komitmen untuk membuat ibu kota lebih layak huni, Ambrish Mithal, seorang dokter di rumah sakit Max HealthCare di New Delhi, melampiaskan rasa frustrasinya atas pembacaan AQI yang memburuk.
"Ini mengerikan bagi mereka yang alergi dan asma. Kami akan terus melawan karena penderitaan ini," tulis Mithal dalam sebuah postingan di Twitter.
Pemerintah India sering dituduh tidak berbuat cukup banyak untuk mengekang polusi. Alih-alih menyediakan udara bersih, pemerintah di sana lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi untuk mengangkat standar hidup warga.
Pada hari Senin (1/11), Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan kepada KTT Iklim COP26 di Glasgow bahwa India akan mencapai emisi nol karbon bersih pada tahun 2070. Namun, beberapa ahli memperhitungkan bahwa janji Modi itu kemungkinan bakal mundur hingga dua dekade dari target yang ditetapkan. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





