Akurat

Kapolda Riau: Menjaga Alam adalah Kewajiban Moral Demi Masa Depan Peradaban

Oktaviani | 18 Januari 2026, 16:59 WIB
Kapolda Riau: Menjaga Alam adalah Kewajiban Moral Demi Masa Depan Peradaban

AKURAT.CO Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau, Irjen Pol. Herry Heryawan, menegaskan, menjaga kelestarian alam merupakan kewajiban moral manusia yang tidak bisa ditawar demi keberlangsungan peradaban.

Penegasan tersebut disampaikan Herry dalam diskusi santai bertajuk Hello Green Movement bersama anak-anak muda Partai Hijau Riau di kawasan Hutan Kota Pekanbaru, Minggu (18/1/2026).

Dalam forum tersebut, Herry mengajak generasi muda untuk mengubah paradigma hubungan manusia dengan alam, dari pola eksploitasi menuju harmoni.

Ia mengutip pemikiran filsuf Jerman, Immanuel Kant, yang menyebut manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari alam.

“Manusia memang dianugerahi rasionalitas lebih tinggi, tetapi itu tidak menjadikannya penguasa mutlak atas alam. Manusia adalah bagian dari keseluruhan ekosistem,” ujar Herry.

Menurutnya, ketika manusia menempatkan diri sebagai penguasa alam, kerusakan lingkungan menjadi keniscayaan.

Ia menilai, paradigma homo economicus yang mendominasi selama puluhan tahun—yang memandang alam semata sebagai komoditas ekonomi—telah melahirkan krisis ekologis sekaligus krisis spiritual.

“Manusia menjadi terasing dari alam, padahal alam adalah bagian dari eksistensi manusia itu sendiri,” katanya.

Baca Juga: Menperin Agus: Manufaktur Tetap Tumbuh di Atas 5 Persen Sepanjang 2026

Sebagai jalan keluar, Herry mendorong pergeseran menuju paradigma homo ecologicus, yakni manusia yang menekan ego eksploitasi dan menempatkan kelestarian lingkungan sebagai fondasi utama dalam setiap aktivitas, baik ekonomi, sosial, maupun politik.

Ia menekankan, manusia memiliki ecological imperatives atau kewajiban moral tanpa batas untuk melindungi alam.

Prinsip keberlanjutan, menurutnya, tidak boleh dikesampingkan dalam bentuk kebijakan maupun tindakan apa pun.

“Manusia hidup berdampingan dengan alam. Satu pohon bukan sekadar makhluk hidup, tetapi juga masa depan umat manusia, khususnya bagi Riau dan Indonesia,” tegasnya.

Herry juga mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan sering kali tidak langsung terasa. Konsekuensinya baru muncul lima hingga sepuluh tahun kemudian, ketika daya dukung alam telah melemah.

“Karena itu, manusia harus mampu menahan ego untuk tidak menghabiskan hasil bumi secara berlebihan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kesadaran ekologis tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Nilai menjaga alam harus menjadi kebiasaan yang membentuk karakter manusia.

“Cinta lingkungan tanpa batas adalah tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal yang hidup berdampingan dengan alam,” katanya.

Menurut Herry, nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama hidup dalam kearifan lokal masyarakat Riau, tercermin dalam pantun dan syair Melayu yang sarat pesan ekologis.

“Jadilah pohon yang kuat—batangnya tempat bersandar, dahannya tempat bergantung, dan daunnya tempat berlindung,” tutupnya, mengutip salah satu petuah Melayu.

Baca Juga: Kode Redeem FF 18 Januari 2026 Masih Aktif, Klaim Bundle Gratis Sekarang!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.