Merdeka di Ende, Bupati Yosef Badeoda Ajak Warga Ubah Mental Miskin dan Hidupi Pancasila

AKURAT.CO Ende merayakan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh semarak di Lapangan Pancasila, Minggu 17 Agustus 2025.
Ribuan warga memadati lokasi untuk mengikuti upacara pengibaran bendera Merah Putih yang berlangsung khidmat.
Suasana haru bercampur bangga terasa ketika Pasukan Pengibar Bendera sukses menjalankan tugasnya, disambut tepuk tangan meriah masyarakat.
Dalam pidato reflektifnya, Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh dimaknai sebatas seremoni, melainkan harus diwujudkan dalam perubahan nyata.
Ia menyoroti persoalan kemiskinan yang masih membelit daerahnya, bukan hanya dalam aspek ekonomi, melainkan juga dalam pola pikir. “Kita sering merasa ditakdirkan miskin. Padahal bukan uang yang utama, melainkan keterampilan dan semangat juang,” tegasnya.
Baca Juga: Apakah Senin 18 Agustus 2025 Libur Nasional? Ini Jadwal Resmi Pemerintah
Menurut Yosef, mentalitas pasrah dan pola hidup boros hanya akan memperpanjang penderitaan. Ia menekankan pentingnya pendidikan dan keberanian mengubah pola pikir. “Jalan keluar adalah mengubah mental miskin menjadi tekad pantang menyerah,” katanya.
Sebagai Kota Pancasila, Ende disebut masih berproses untuk benar-benar hidup sesuai nilai-nilai dasar bangsa.
“Pancasila adalah jalan hidup, bukan sekadar slogan. Jika kita belum menghidupinya, maka Kota Pancasila hanya akan menjadi nama tanpa makna,” ujarnya. Ia mendorong masyarakat untuk menghadirkan nilai gotong royong dan rasa keadilan dalam keseharian.
Bupati Yosef juga menekankan pentingnya toleransi yang sejati. Baginya, keberagaman tidak boleh berhenti pada jargon, melainkan harus terasa nyata ketika semua orang bisa hidup berdampingan.
“Jika keberagaman masih dianggap ancaman, berarti yang sakit bukan orang lain, tetapi tubuh sosial kita sendiri,” ucapnya. Ia menilai, rasa percaya diri untuk hidup dalam perbedaan adalah kunci agar toleransi benar-benar berakar di Ende.
Dalam aspek pembangunan, Yosef mengakui bahwa Ende masih termasuk wilayah 3T dengan angka kemiskinan 22,7 persen. Meski begitu, ia optimistis dengan dukungan anggaran Rp 1,3 triliun dari pemerintah pusat.
Baca Juga: Hadiri Upacara HUT Ke-80 RI di Istana, Ketum GMNI: Hari Kemerdekaan Milik Seluruh Rakyat
“Mimpi menjadikan Ende maju bukan sekadar retorika. Visi ini akan nyata jika anggaran kita kelola transparan dan berpihak pada masyarakat,” jelasnya.
Upacara kemudian dilanjutkan dengan atraksi budaya yang memikat. Ribuan warga dan pelajar mengikuti tarian gawi massal, tradisi khas Ende yang menjadi simbol persatuan. Dengan bergandengan tangan dalam lingkaran besar, peserta menari mengikuti irama gong dan gendang.
Tradisi ini menegaskan bahwa Ende bukan hanya dikenal sebagai Kota Pancasila secara historis, tetapi juga sebagai ruang hidup yang merawat kebersamaan dalam keberagaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





