Akurat Logo

Mengenal Sejarah Sumbu Filosofi Yogyakarta

Eko Krisyanto | 21 September 2023, 17:19 WIB
Mengenal Sejarah Sumbu Filosofi Yogyakarta

 

AKURAT.CO Sumbu Filosofi Yogyakarta telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh Komite Warisan Dunia PBB melalui UNESCO.

Penetapan dilakukan dalam Sidang Luar Biasa di Riyadh, Arab Saudi, pada 10-25 September 2023.

Hal ini membuat Pemkot Yogyakarta akan meningkatkan narasi mengenai objek wisata Sumbu Filosofi.

Baca Juga: Intip Sensasi Kopi Jos Khas Yogyakarta

Sejarah Berdirinya Sumbu Filosofi Yogyakarta

Menurut beberapa sumber, Kamis (21/9/2023), Sumbu Filosofi Yogyakarta dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Hamengku Buwono I. Ini menjadi konsep tata ruang Keraton Yogyakarta, yang terdiri dari Tugu Pal Putih, Malioboro hingga Panggung Krapyak.

Prinsip utama Sultan membangun keraton adalah konsepsi Hamemayu Hayuning Bawono. Artinya membuat bawono (alam) menjadi hayu (indah) dan rahayu (selamat dan lestari).

Konsep tersebut diwujudkan oleh Sultan dengan Laut Selatan dan Gunung Merapi sebagai poros. Lokasinya pun dipilih dekat dengan sumber mata air.

Bentuk tanah wilayah keraton lebih tinggi, seperti di atas punggung kura-kura yang diapit oleh enam sungai.

Di mana posisi tiga sungai di timur dan tiga lainnya di barat, sehingga bebas dari banjir.

Sultan menata Kota Yogyakarta dengan membentangkan arah utara-selatan. Didirikannya Tugu Pal Putih di sisi utara keraton dan Panggung Krapyak di sisi selatannya.

Dari ketiga titik tersebut dibuat garis lurus maka membentuk sumbu imajiner atau dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta.

Di dalamnya menggambarkan perjalanan dari siklus hidup manusia berdasarkan konsepsi Sangkan Paraning Dumadi.

Perjalanan dari Panggung Krapyak menuju keraton mewakili asal dan proses pendewasaan manusia. Sedangkan dari Tugu Pal menuju keraton mewakili filosofi tujuan, yaitu perjalanan manusia menuju penciptanya.

Sehingga secara simbolis, poros ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan manusia.

Baca Juga: Intip Sejarah Gedung BNI Yogyakarta, Pernah Jadi Kantor Radio Jepang

Mengenal Filosofi Panggung Krapyak

Panggung Krapyak memiliki makna awal kelahiran. Ini dibuktikan dengan keberadaan kampung di sebelah barat laut bernama Mijen, dari kata "wiji" atau benih.

Pohon asam dan pohon tanjung yang ditanam sepanjang jalan dari Panggung Krapyak menuju keraton memiliki arti tersendiri.

Daun asam dilambangkan muda dan pohon tanjung dilambangkan anak muda yang disanjung oleh lingkungannya.

Lebih ke utara ada Alun-alun Selatan yang ditanami pohon pakel dan kweni. Pohon tersebut melambangkan pemuda yang sudah akil balig dan berani meminang gadis pujaannya.

Lebih ke utara lagi ada Siti Hinggil Kidul yang ditanami pohon palem cempora dan pohon soka. Pohon palem berbunga putih melambangkan benih laki-laki.

Sedangkan pohon soka berbunga merah melambangkan benih perempuan.

Di sebelah utara terdapat kompleks Kamandhungan yang berasal dari kata kandungan. Kemudian, di sebelah utaranya ada pelataran Kemagangan.

Ini melambangkan bahwa anak perlu magang untuk menjadi manusia dewasa.

Mengenal Filosofi Tugu Pal

Tugu Pal atau Golong Gilig melambangkan gologing cipta, rasa lan karsa untuk menghadap Sang Pencipta. Warna putih untuk melambangkan kesucian hati yang mendasar.

Sama halnya dengan Panggung Krapyak, penamaan tempat pada sumbu yang menghubungkan Tugu ini memiliki filosofinya sendiri.

Berikut adalah filosofinya:

1. Tugu Pal diapit oleh dua desa yaitu Pingit (menyimpan) di Barat dan Gondolayu (bau mayat) di timur

2. Arah selatan Tugu Pal terbentang jalan, yaitu Jalan Margatama (menuju keutamaan), Jalan Malioboro (penggunaan obor penerang) dan Jalan Margamulya (menuju kemuliaan) dan Jalan Pangurakan.

3. Sepanjang tepian Jalan Margatama hingga Jalan Margamulya ditanami pohon asam (ketertarikan) dan pohon gayam (ketenangan).

4. Jalan yang membentang dari tugu ke arah selatan akan berhenti di Alun-Alun Utara

5. Lebih ke selatan lagi terdapat area Siti Hingil Lor. Di area tersebut terdapat pohon gayam, kepel (tangan mengepal), dan kemuning (keheningan).

6. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali menuju area Kamandhungan Lor atau yang lebih dikenal dengan sebutan pelataran Keben (menutup)

7. Berikutnya adalah pelataran Srimanganti. Di area tersebut terdapat Bangsal Trajumas.

Bangsal ini melambangkan bahwa manusia akan ditimbang amal baik dan buruknya di alam penantian menuju keabadian.  

Poros antara tugu, keraton dan Panggung Krapyak tidak hanya memiliki makna tunggal. 

Bagi Sultan, poros ini memiliki makna yang berbeda. Arahnya dari keraton ke tugu dan keraton ke Panggung Krapyak.

Sumbu filosofis juga menunjukkan keselarasan manusia dengan alam, yakni api dari Gunung Merapi, tanah dari bumi Ngayogyakarta, air dari Laut Selatan, angin dan akasa.

Sampai saat ini Sumbu Filosofi telah berlanjut sebagai pusat pemerintahan dan tradisi budaya Jawa. (Tasya Nurhaliza Putri)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK