Pelajaran Sepanjang Jalan Trans Sulawesi dari Kota Palu ke Desa Wani

AKURAT.CO Minggu 8 Oktober siang. Perwakilan wartawan dari AJI Kota Palu, AJI Kendari, AJI Makassar, dan Aji Jakarta berangkat ke Jalan Pelabuhan Wani II, Desa Wani, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Muhammad Sarvin, kontributor Beritasatu.com, yang jadi supir kami. Emiliana jurnalis Kabarselebes.id duduk di sebelahnya. Saya, Jecko Simanjuntak anggota AJI Jakarta (Beritasatu TV), kawan dari AJI Makassar, juga Ketua AJI Kendari duduk di tengah.
Barang-barang bantuan berupa pakaian yang pagi harinya sudah dirapikan oleh ibu-ibu yang selalu membantu dapur umum kantor AJI Kota Palu ditaruh di bagasi. Bantuan dari lembaga lain yang dipercayakan penyalurannya lewat AJI rencananya akan diserahkan ke warga Desa Wani yang jadi korban tsunami dan gempa.
Suhu udara siang itu mencapai 33 derajat celcius. AC mobil sewaan ini tidak berfungsi. Kalau fan dinyalakan yang ada malah panas sekali di dalam mobil. Tak mengapa. Ini bukan piknik, tetapi liputan sekaligus aksi kemanusiaan.
Setelah meninggalkan sekretariat AJI di Jalan Rajawali 28, mobil masuk ke Jalan Trans Sulawesi yang membentang di sepanjang pesisir.
Jalan raya ramai dengan lalu lalang kendaraan. Hilir mudik kendaraan roda dua dan roda empat mengangkut orang maupun barang. Sebentar-sebentar kedengaran sirine dari mobil ambulance atau mobil tim SAR yang mau lewat.
Di beberapa tempat sebelah kanan jalan (arah Donggala) berdiri tenda-tenda pengungsian yang letaknya berjauhan. Ada yang mengungsi karena memang rumah mereka hancur, ada pula yang rumahnya tidak rusak akan tetapi tetap mengungsi karena mereka takut terjadi gempa susulan.
Di dekat beberapa tenda pengungsian menumpuk pakaian bekas bantuan dari masyarakat yang bersimpati dengan korban. Beberapa orang membolak-balik pakaian. Sepertinya bantuan jenis ini sudah tidak terlalu dibutuhkan warga di sana dan dibiarkan menggunung.
Di banyak titik jalan dekat kantung-kantung pengungsian, saya lihat banyak papan bertuliskan “kami butuh bantuan” atau “kami lapar.” Bantuan yang mereka butuhkan sekarang ini bukan lagi pakaian, tetapi lebih ke makanan, minuman, dan obat-obatan. Bagus lagi makanan siap saji.
Kiri dan kanan jalan raya di beberapa tempat terlihat bangunan sudah porak-poranda. Kayu-kayu bekas berserakan. Rumah-rumah di daerah ini kebanyakan terbuat dari bahan seng. Sebagian atap masih utuh, tetapi sudah rebah ke tanah karena dinding kayu dan penyangganya rubuh.
Beberapa kapal yang terbuat dari kayu terlihat mengonggok di daratan, dekat pantai. Sejumlah sepeda motor, bahkan mobil terlihat terbalik di sejumlah tempat. Kendaraan itu entah punya siapa.
Kalau diperhatikan lebih teliti, mayoritas roda kendaraan yang telah ditinggalkan pemiliknya setelah diterjang tsunami sudah raib. Ketika mobil yang saya tumpangi lewat Mamboro, dari dalam kendaraan, saya dengar seorang lelaki di tepi sebelah kanan jalan berteriak ke seberang jalan. Di seberang jalan ada seorang warga yang menggotong satu roda mobil dan kemudian ditaruh ke atas jok sepeda motor.
“Hei, mau dibawa kemana itu,” kata lelaki yang berada di tepi sebelah kanan jalan.
“Tidak, ini diamankan,” jawab lelaki yang menggotong ban mobil.
Tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Pria yang menggotong mobil agaknya khawatir ketika ditegur. Mobil yang saya tumpangi terus melaju pelan-pelan, menyusuri Jalan Trans Sulawesi.
Di kawasan rumah toko, kawasan bisnis, kawasan pemukiman, juga terdapat kesibukan yang sama dengan kawasan lain yang kena sapuan tsunami. Puluhan warga sibuk mengorek barang berharga yang tersisa.
Mobil yang saya tumpangi melewati jembatan. Sekelompok petugas PLN terlihat tengah berkumpul. Mereka agaknya sedang koordinasi untuk pemulihan jaringan.
Di tempat berikutnya, beberapa petugas berseragam penyelamat – sepertinya bukan dari Indonesia – sibuk menyisir tumpukan-tumpukan barang yang menggunung. Mereka sangat terlatih. Petugas ini sedang bertugas mencari korban yang kemungkinan masih tertimbun.
Sebuah perahu kayu yang tinggal separuh teronggok, posisinya menyeberang Jalan Trans Sulawesi. Perahu itu diberi tulisan tangan: Terimakasih Bu Susi atas Bantuannya.
Di kawasan ini, tumpukan-tumpukan kayu, besi, tinggi-tinggi sekali. Aroma tak sedap menyebar. Kami yang ada di dalam mobil terpaksa menutup hidung. Salah satu kawan di dalam mobil berkomentar.
“Tandanya masih ada,” kata Jecko Simanjuntak. Maksudnya, kemungkinan masih ada jenazah di antara barang yang porak-poranda yang masih menunggu pengangkatan.
Untung ada angin pantai sehingga tajamnya aroma busuk segera hilang dari dalam mobil kami yang jendelanya dibuka agar tidak terlalu panas.
Umumnya rumah-rumah yang berdiri di sepanjang jalan poros masih dipertahankan gaya tradisional – dinding kayu atap seng-- sehingga tahan dari goyangan gempa. Memang tak sedikit pula rumah yang temboknya sudah dibangun dengan bahan semen, tetapi atap sebagian besar tetap pakai seng.
Rumah-rumah porak poranda di sejumlah titik bukan karena factor gempa, tetapi karena hantaman tsunami.
Di kanan Jalan Trans Sulawesi, sejauh mata memandang terlihat bukit-bukit atau dataran tinggi. Pada waktu tsunami menerjang, sebagian besar orang yang tinggal dekat pantai lari ke arah sana untuk mencari tempat aman.
Sejumlah SPBU terlihat antrian kendaraan. SPBU itu dilayani oleh tentara atau polisi sekaligus mengantisipasi terjadinya penjarahan atau keributan akibat warga yang tidak sabar mendapatkan bahan bakar minyak.
Di jalan, kami berpapasan dengan sejumlah kendaran besar tengah mengangkut eksavator. Eksavator ini nampaknya baru tiba dan hendak dikirim ke lokasi-lokasi yang harus segera diurus atau lokasi-lokasi yang dicurigai masih ada warga yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Sekitar 40 menit perjalanan, mobil belok kiri ke jalan sempit. Rupanya sudah sampai di Desa Wani. Dari dalam mobil, saya lihat di ujung jalan sana, ada sebuah kapal besar yang terdampar. Sebagian badan kapal masuk ke daratan. Lokasinya di dermaga Wani.
Kami datang ke sini untuk menyerahkan bantuan, sekaligus untuk melakukan liputan. Teman-teman yang semobil dengan saya sangat tertarik meliput kapal besar yang terdampar itu.
Kami turun dari dalam mobil, lalu menyusuri jalan pemukiman padat penduduk untuk menuju ke pelabuhan. Di kawasan pemukiman padat penduduk yang dekat Jalan Trans Sulawesi, rata-rata tidak mengalami kerusakan. Tetapi setelah mendekati dermaga atau yang terdekat dengan pantai, rumah-rumah sudah porak poranda.
Kapal Sabuk Nusantara 39 yang berlogo Kementerian Perhubungan hampir saja menyeruduk pemukiman padat penduduk yang umumnya terbuat dari kayu. Kapal itu cukup besar ukurannya. Tingginya mungkin sekitar 20 meter.
Kapal komersil ini bersandar di dermaga sejak sekitar sebulan yang lalu untuk menunggu penumpang dan barang.
Menurut keterangan warga setempat kapal tersebut baru pertama masuk ke dermaga Wani. Kapal ini melayani rute dari Palu ke luar daerah, seperti Samarinda dan Toli-Toli.
Warga yang saya temui bercerita. Kapal itu terdorong tsunami sampai hampir menyeruduk rumah-rumah. Pada waktu kejadian, di dalam kapal ada sekitar 20 anak buah kapal. Warga menggambarkan air yang datang pada Jumat itu berwarna gelap. Airnya sampai hampir setinggi kapal. Tak mungkin orang bisa menahan gelombang besar itu. Orang-orang lari tunggang langgang ke arah gunung.
Pada waktu saya melihat kapal tersebut, tak terlihat puluhan ABK yang disebut warga tadi. Di tempat duduk, dekat kapal, hanya ada beberapa warga yang sedang ngobrol sambal merokok. Obrolan mereka topiknya tak jauh-jauh dari bencana.
Kapal-kapal yang terbuat dari kayu yang berada di sekitar dermaga tak luput dari sapuan tsunami. Kini armada dalam kondisi sebagian terbalik, ada yang tumpang tindih, ada yang nongkrong di darat.
Kantor-kantor yang berdiri di dekat dermaga tak perlu diceritakan lagi wujudnya sekarang. Kapal baja besar saja sampai terdorong ke darat, bayangkan sendiri bangunan-bangunan yang umumnya terbuat dari kayu dan beratap seng.
Saya menyusuri jalan depan kantor-kantor yang berjejer di dekat dermaga. Sebuah mobil berpelat DN: Sulawesi Tengah, jalan pelan-pelan. Orang yang di dalam mobil mengamati kondisi pemukiman dan dermaga. Di dekat perahu kayu berukuran besar, ada warga yang sibuk memotret.
Di ujung jalan, seorang warga tengah memegang Al Quran. Lalu, dia meletakannya di tempat kering.
“Ini tadi ditaruh di atas motor saya. Saya taruh di sini supaya kering. Berharap nanti ada yang menyimpannya,” kata dia.
Al Quran itu dalam keadaan basah sehingga lengket lembaran-lembarannya. Kitab Suci umat Islam ini hanyut pada waktu tsunami datang. Saya tadinya berharap warga tersebut membawanya pulang saja supaya tidak tergeletak di atas lantai, tetapi dia tidak mau. Setelah meletakkan Al Quran, dia pergi dengan sepeda motor.
Emiliana membuka-buka lembaran Al Quran agar cepat kering.
Saya dan Emiliana kemudian kembali lagi ke samping kapal Sabuk Nusantara 39 buat berteduh. Suhu udaranya benar-benar bikin kulit kepanasan. 33 derajat celcius. Suhu udara di Jakarta yang banyak dikeluhkan orang saja hanya sekitar 27 derajat celcius.
Desa Wani merupakan salah satu desa yang kena dampak serius gempa dan tsunami. Di Donggala ada 13 kecamatan yang kena dampak. Menurut data BNPB kecamatan-kecamatan di kabupaten ini yang kena dampak, antara lain Balaesang, Balaesang Tanjung, Banawa, Banawa Selatan, Banawa Tengah, Dampelas, Labuan, Sindue, Sindue Tobata, Sindue Tombasabora, Sirenja, Sojol, dan Tanantovea.
Kemudian saya ngobrol dengan warga yang sejak tadi duduk-duduk dekat kapal.
Desa Wani terbagi jadi dua, Wani Satu dan Wani Dua. Yang saya kunjungi Wani Dua. Kecamatannya Tanantovea. Desa Wani Dua berpenduduk sekitar lima ribu jiwa. Penduduk umumnya memiliki mata pencaharian tani, nelayan, wirausaha, dan PNS.
Warga bernama Agus Salim kalau ditanya harapan, dia ingin agar pemukiman penduduk yang porak-poranda segera dirapikan lagi sama aparat pemerintah. Soalnya, pemerintah memiliki sarana dan prasana untuk melakukan itu secara lebih cepat.
Masyarakat setempat tidak berdiam diri menunggu bantuan aparat. Mereka berjuang merapikan sendiri puing-puing bangunan. Tetapi karena dikerjakan secara manual, lambat sekali prosesnya. Itu sebabnya, alangkah lebih baik kalau dibantu dengan peralatan pemerintah.
“Khawatir saja kalau sampai ada penjarahan besi-besi kalau tidak segera dirapikan,” kata Ismail.
Menurut cerita Ismail, Desa Wani punya sejarah yang panjang. Donggala pernah didatangi penjajah Belanda untuk diambil kekayaan alamnya untuk kepentingan mereka. Sejak dulu, Donggala dikenal dengan kopra, damar, dan kemiri, serta ternak.
Pada masa pendudukan Jepang 1942-1945 di Bumi Pertiwi, penjajah Jepang juga mendatangi Donggala untuk mengambil rempah-rempah.
“Pernah dibom Jepang dulu di sini,” kata Agus Salim. Tangannya kemudian menunjuk ke arah menuju gunung yang jadi lokasi bom.
Di dekat dermaga dulu juga pernah ditemukan bak peninggalan sekolah yang didirikan Belanda. Entah sekarang benda itu ditaruh dimana.
Cerita tentang kedatangan kaum penjajah ke daerah ini membangkitkan semangat tentang perlawanan-perlawanan sengit yang dilakukan para raja dan rakyatnya untuk mengusir mereka.
Jauh sebelum gempa 7.4 SR dan tsunami pada 28 September 2018, sudah ada catatan kejadian tsunami yang melanda berbagai desa, termasuk Wani. Bencana itu pernah terjadi pada 1927, 1938, serta 1968. Yang paling mengerikan terjadi pada 1938, air laut meluber ke pemukiman pendudu, juga pohon-pohon kelapa yang berderet di pantai.
“Menurut cerita nenek-nenek kita, waktu tsunami tahun 60-an itu, sampai ada orang yang nyangkut di pohon kelapa. Betapa dahsyatnya,” kata Agus Salim.
Waktu saya temui, Agus Salim bercerita juga kalau dia baru pulang dari Jakarta ke tanah kelahirannya, Desa Wani II, pada tiga hari setelah bencana.
Warga Desa Wani I dan Wani II sekitar 5000 jiwa. Beberapa warga yang saya temui tidak tahu berapa jumlah RT, RW, apalagi dan KK. Kalau ditanya jumlah korban, mereka hanya mengira-ira, karena memang belum ada data resmi yang dikeluarkan otoritas terkait. Menurut perkiraan mereka jumlah warga Wani yang belum ditemukan sejak 28 September ada sekitar 30 orang.
Dalam keadaan tanggap darurat seperti sekarang, topik obrolan dengan korban kebanyakan soal “butuh bantuan.” Itu sebabnya di sepanjang Jalan Trans Sulawesi dari Kota Palu ke Kabupaten Donggala yang saya lewati, ada banyak sekali papan bertuliskan posko pengungsian: “Kami lapar.” “Kami butuh bantuan.” Bahkan di beberapa titik, anak-anak teriak ke mobil-mobil yang lewat: “Kami lapar, om.”
Ketika saya ngobrol dengan Agus Salim, salah satu wartawan mewawancara seorang warga yang sejak tadi ikut berdiri di dekat kapal. Saya dengarkan wawancara itu. Warga yang diwawancara cerita kalau penduduk Wani butuh banyak bantuan. Warga berharap sekali datang pasokan karena banyak yang kelaparan.
Agus Salim sebagai warga yang ditokohkan di desa ini segera menyela. Dia Tanya ke warga yang diwawancara wartawan. Rupanya, warga itu bukan dari Wani, tetapi waktu diwawancara seakan-akan penduduk Wani. Agus Salim ingatkan dia janganlah mendramatisir. Hal ini yang saya salut dari Agus Salim.
Tak lama setelah warga tadi pergi, Agus Salim bilang kurang setuju dengan sikap warga yang pintar bicara, tetapi lebih banyak mendramatisir keadaan. Dia ceritakan kondisi di Desa Wani II. Memang banyak penduduk yang jadi korban, tetapi kondisinya tidak seperti yang digambarkan warga tadi.
“Terlalu berlebihan kalau dibilang bantuan gak masuk. Di sini tidak kelaparan. Kalau dibilang banyak yang kelaparan itu tidak benar. Ada stok makanan di sini di warga,” kata dia.
Menurut dia bantuan yang paling mendesak di sini sekarang ini adalah pembersihan puing bekas sapuan tsunami, juga medis karena warga banyak yang mengungsi. Di sini untuk kebutuhan air bersih sudah tersedia, diambil langsung dari mata air pakai pompa.
Setelah mendengar informasi dari warga, tim AJI Kota Palu mengurungkan niat untuk menyalurkan pakaian bekas layak pakai buat pengungsi dari Desa Wani II. Bantuan pakaian bukan prioritas di sini. Daripada nanti cuma ditumpuk-tumpuk dan sia-sia, kami memutuskan untuk tak menurunkannya dari mobil, kami akan cari tempat lain yang lebih butuh agar bantuan itu tepat sasaran.
Kami pun pamit. Di beberapa titik tepi jalan kampung, pompa-pompa air dioperasikan untuk menyedot air tanah. Sebagian warga membersihkan kembali lantai rumah dari kotoran yang dibawa air laut. Sebagian lagi berusaha merapikan kayu-kayu yang berserakan. Beberapa orang terlihat istirahat di teras rumah yang masih utuh.
Pada waktu saya lewat, seorang perempuan tua yang tengah berkumpul dengan anak-anak kecil bilang kalau ada makanan kecil, seperti roti, bolehlah dibagikan buat anak-anak di desanya. Anak-anak teriak senang, tanda setuju.
Waktu itu kami tidak bawa makanan karena niatnya untuk menyalurkan bantuan jenis pakaian. Tetapi setelah dapat informasi ini, kemungkinan akan kembali lagi dengan membawa kebutuhan yang mereka tunggu.
Sarvin membawa mobil menuju ke arah Kota Palu lagi. Sepanjang perjalanan, kami mencari-cari kantung pengungsian yang membutuhkan bantuan pakaian.
“Kita jangan asal serahkan bantuan tanpa tahu kebutuhan mereka yang sebenarnya. Kalau kita asal taruh-taruh saja, bukannya membantu, tetapi malah bikin masalah baru karena pakaian akan numpuk di sekitar tempat pengungsi,” kata salah satu rekan.
Tempat-tempat pengungsian di Kota Palu untuk sekarang ini lebih butuh makanan. Dari obrolan dengan warga, juga terungkap bahwa sekarang ini bantuan tenaga untuk pembersihan kawasan pemukiman yang porak-poranda juga penting, agar lingkungan menjadi lebih tertata dan sehat.
Sepanjang jalan, tiap menemukan konsentrasi tempat pengungsian, di kiri, depan atau kanannya selalu ada yang pakaian yang menumpuk-numpuk dan berserakan. Mobil yang saya tumpangi melaju terus sampai kehabisan bahan bakar di salah satu ruas jalan. Untungnya, ada stok satu jerigen bahan bakar. Sarvin dibantu Jacko Simanjuntak mengeluarkan jerigen dari bagasi, lalu mengisi tengki mobil.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengumumkan masa tanggap darurat pascabencana Palu-Donggala-Sigi-Parigi Moutong mulai 28 September dan akan berakhir 11 Oktober 2018.
Korban yang belum ditemukan sampai masa tanggap darurat berakhir, nanti akan dinyatakan sebagai korban hilang. Selanjutnya akan masuk tahap recovery. Tapi penutupan masa tanggap darurat akan tergantung hasil evaluasi dulu. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK




