Festival Perayaan Keagamaan di Jakarta Diharapkan Jadi Tradisi Budaya Tahunan

AKURAT.CO Perayaan Imlek 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat pada Jumat (13/2/2026), berlangsung meriah. Berbagai atraksi budaya dalam rangkaian Jakarta Light Festival dan instalasi lampion digelar Pemerintah Provinsi Jakarta hingga 17 Februari 2026.
Anggota Komisi A DPRD Jakarta, Hilda Kusuma Dewi mengatakan, perayaan Imlek tahun ini mencerminkan wajah keberagaman Jakarta yang kian kuat.
"Saya melihat tahun ini keberagaman Imlek di Pemprov DKI sangat bervariasi sekali, keberagaman yang sungguh luar biasa pada tahun ini," kata Hilda kepada wartawan, Sabtu (14/2/2026).
Baca Juga: Pemprov Jakarta Diminta Beri Ruang Warga Setempat Berjualan di TOD LRT Manggarai
Menurut dia, rangkaian kegiatan itu berpotensi menjadi tradisi budaya tahunan yang melekat di tengah masyarakat Jakarta. Momentum ini bisa menjadi ruang kebersamaan dalam menyambut Tahun Baru Imlek pada 17 Februari 2026.
"Saya berharap keberagaman ini terus menjadi tradisi yang luar biasa di mana warga Jakarta ikut turut serta memeriahkan suasana Imlek yang sangat-sangat luar biasa," ujarnya.
Dia pun berharap agar Gubernur Jakarta, Pramono Anung, bisa mempertahankan perayaan Tahun Baru Imlek pada tahun-tahun mendatang. "Semoga tahun-tahun berikutnya acara ini tetap terus dipertahankan, kita semua selalu diberikan kesehatan, keberkahan, dan juga kebahagiaan," tegasnya.
Hilda optimis Tahun Kuda Api pada Tahun Baru Imlek 2026 ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tanah air, khususnya masyarakat Jakarta. "Dengan semangat Tahun Kuda Api, saya yakin pertumbuhan ekonomi masyarakat Jakarta bisa semakin menanjak dan penuh dengan semangat, makin maju makin berjaya," pungkasnya.
Baca Juga: Mudik Gratis 2026 Jakarta Resmi Dibuka: Daftar Online Mulai 22 Februari, Ini Syarat dan Jadwalnya
Sebelumnya, Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan festival Imlek 2026 menjadi komitmen Jakarta sebagai kota berdaya saing global yang inklusif dan terbuka bagi seluruh latar belakang agama serta budaya.
"Jakarta akan menjadi kota yang inklusif, kota global, kota bagi siapapun, bagi semua agama yang diakui pemerintah. Termasuk merayakan Imlek di Jakarta," kata Pramono.
Terlebih lagi, kontribusi budaya Tionghoa memiliki ikatan erat dengan perkembangan budaya Betawi. Akulturasi itu, kata Pramono, memperkaya identitas Jakarta sebagai kota yang penuh warna.
"Akulturasi yang terjadi di Jakarta ini sebagai salah satu contoh bahwa Jakarta ini memang kota yang penuh warna," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







