Rugi Rp600 Miliar, Pengusaha Angkutan Darat DIY: Kami Harus Jalan Meski Gigi 1 Dulu

AKURAT.CO, Para pengusaha angkutan darat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan rugi Rp600 miliar setahun ini. Mereka mengaku terdampak pandemi Covid-19 plus sederet kebijakan yang diberlakukan pemerintah.
"Satu tahunnya itu Rp500 miliar sampai Rp600 miliar," kata Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY Hantoro saat dikontak, Selasa (3/8/2021).
Hantoro menyebut angkutan darat tak bisa beroperasi normal sejak pandemi Covid-19 melanda tahun lalu. Hampir bisa dibilang berhenti total, karena jika beroperasi pun dipastikan dalam skala kecil yang tetap tak bisa optimal akibat terus bergantinya kebijakan pemerintah.
"Baru mau mencoba bergerak, sudah PPKM, PSBB. PPKM kemarin katanya cuma 17 hari, tapi ternyata panjang," keluhnya.
Dia mengeluh pasalnya selama ini para pengusaha angkutan darat sudah mencoba seoptimal mungkin menyesuaikan operasi dengan protokol kesehatan. Mulai dari pembatasan jumlah penumpang, wajib ukur suhu tubuh, penyediaan hand sanitizer, penyemprotan cairan disinfektan ke kendaraan, dan seterusnya.
Tapi, nyatanya kebijakan pemerintah tetap jalan. Pada akhirnya, sampai sekarang angkutan darat masih belum diperbolehkan beroperasi.
"Kalau diberi kesempatan menyanggah, menawar, ya kita bisa. Tapi kalau itu sepihak dari pemerintah ya sudah nggak bisa apa-apa kan," ucapnya.
Baca Juga: Berkabung dan Menyerah Hadapi PPKM, PKL Malioboro Kibarkan Bendera Putih
Guna menyambung hidup, kata Hantoro, sudah banyak anggota Organda DIY yang menjual armadanya. Meski bukan sebuah solusi lantaran harga unit kendaraan saat ini juga anjlok.
"Kalau unit yang sudah terjual kami belum tahu (jumlahnya), tapi kalau unit pariwisata saja yang jelas sudah 817 kendaraan, baik itu big bus, medium bus atau sekelas 8-14 seater," katanya.
"Ya mungkin ada yang dijual asetnya yang lain, yang jelas sudah semua. Kami ini sudah PT, berbadan hukum tapi ya sudah memakan tabungan pribadi semua untuk bertahan itu," sambungnya.
Tak kalah penting bagi Organda saat ini adalah bagaimana nasib para awak angkutan darat itu sendiri. Banyak dari mereka yang kini beralih profesi bahkan.
Melihat banyaknya orang yang menggantungkan nasibnya dari bisnis angkutan ini, Organda DIY meminta pemerintah melibatkan mereka di setiap proses penyusunan kebijakan. Harapannya, para pelaku usaha bisa memperoleh ruang gerak walaupun sedikit, ketimbang lama-lama gulung tikar.
"Supaya kita bisa memperhitungkan kesehatan, tapi ekonomi juga kita pertimbangkan. Meskipun kita harus bisa berjalan, kami harus menggunakan gigi 1, 2, dulu lah, tidak menggunakan gigi 3, 4, 5, 6. Yang penting jalan dulu lah," tutup Hantoro.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





